ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #19

Sang Bidadari Dan Rasa Syukurnya

"See you in the next video... byeeee..."

Aku tersenyum ke arah lensa kamera, menahan napas sejenak, lalu menekan tombol stop di iPhone-ku.

Huufffhh... Aku menjatuhkan tubuhku ke atas bean bag empuk di sudut studio. Akhirnya, sesi maraton 10 tabungan kontenku selesai juga. Badanku terasa remuk, tulang punggungku pegal, dan senyum palsuku rasanya sudah bikin otot pipiku kram. Capek juga, capek fisik dan capek otak mikirin ide yang tak henti-henti.

"Gimana gaes kualitas audionya aman kan tadi?" tanyaku sambil memijat pelipis.

"Aman, Ci! Footage juga clear. Tinggal diedit dikit, color grading, terus dijadwalkan publish otomatis per hari. Cici dah bisa berangkat trip kerjaan ke Jepang minggu depan buat review ryokan itu dengan tenang dan santai," lapor Aldo, jarinya menari lincah di keyboard MacBook-nya.

"Ci, rencananya tiket ke Jepang itu mau berangkat sama siapa?" tanya Dimas yang sedang menggulung kabel lighting.

"Duh, belum tau ya... Kata Kak Erik sih jatah tiket pesawat sama kamarnya ada lebihan. Aku disuruh milih bawa salah satu dari kalian buat jadi asisten," kataku.

"Wah, siapa, Ci?! Kami semua mau lho ikutan ke luar negeri gratisan!" sorak Sherly penuh harap, merapikan kotak makeup-nya dengan antusias.

"Umm... nanti aku tanyain ke Kak Erik lagi deh ya, soalnya kan yang bayarin trip ini manajemen resort rekanannya Kak Erik. Jadi mungkin dia yang berhak milih juga. Penginnya sih bawa kalian semua, ahaha," kataku tertawa pelan.

Tiba-tiba, getaran kencang dari HP di atas meja membuyarkan tawaku. Ada panggilan masuk.

Kulihat layar peneleponnya. Alisku berkerut tajam. Lho? Alicia? Teman geng rumpi waktu SMA dulu. Tumben banget anak ini telepon langsung. Ada angin apa nih?

Aku menggeser tombol hijau, mendekatkan ponsel ke telinga. "Halo, Lis..."

"FEB! Feby! Lu dah baca berita heboh di grup WhatsApp alumni belum?!" cecar Alicia tanpa ba-bi-bu, suaranya sangat melengking, napasnya ngos-ngosan seperti habis maraton lari.

Gila, anak ini. Bertahun-tahun nggak pernah telepon, nggak pernah balas WA Story, tau-tau ngegas bawa-bawa berita dari grup alumni.

"Belum, Lis. Emang ada berita apaan sih heboh bener?" jujur saja, grup WhatsApp angkatan alumni SMA sengaja ku-mute selamanya. Tumpukan chat unfaedah yang nggak pernah kubaca mungkin sudah menyentuh angka ribuan.

"Mantan lu, Feb...!"

Darahku berdesir. Bulu kudukku meremang. "Mantan gue? Yang mana? Siapa?"

Tentu saja aku pura-pura bodoh. Mantan resmiku sewaktu SMA ada dua orang. Si Kevin dan si Leo... Sial, memikirkan nama manusia terakhir itu saja sudah membuat nafasku sesak dan perutku mual.

"Leo, Feb... Leo...!"

Deg. Jantungku seolah berhenti berdetak. Kenapa?! Apakah bajingan itu nekat menyebarkan aibku ke grup angkatan karena aku tak memberinya uang 5 juta?! Otakku langsung blank dipenuhi kepanikan dan teror. Tanganku memegang ponsel dengan gemetar.

"Le... Leo kenapa, Lis?!" suaraku tercekat, ketakutan menguasai pita suaraku.

"Leo digerebek dan ditangkep BNN di apartemennya, Feb!! Gila! Dia terbukti mengkonsumsi narkoba sama nimbun paketan sabu gila-gilaan, dan ternyata dia juga ngedarin barang haram itu di jaringan gelap!" cerocos Alicia dengan nada dramatis ala reporter infotainment.

"Hah...?!" Mulutku terbuka lebar. Otakku berhenti memproses kepanikan, berganti menjadi shock murni. "Leo... pakai narkoba?!" tanyaku tak percaya. Jujur saja, selama berpacaran dulu dia memang kasar dan suka mabuk alkohol murah, tapi aku baru tahu sedalam ini kerusakannya sampai menyentuh Narkoba.

"Iya, Feb...! Ya ampun, lu kemana aja sih?! Ini lagi rame banget link beritanya dikirim-kirim di grup alumni. Anak-anak pada nge-mention nama lu tapi lu ga nongol-nongol nanggepin! Makanya gue langsung inisiatif nekan tombol call. Kan lu dulu empat tahun pacaran nempel terus sama si Leo dari kelas 3 sampai kelar lulusan!" omel Alicia panjang lebar.

Lihat selengkapnya