Siang itu, matahari Jakarta di luar jendela kaca floor-to-ceiling seolah sedang mengamuk, tapi di dalam ruang kerja pribadi Erik, suhunya sejuk menembus pori-pori. Aroma diffuser beraroma cedarwood dan citrus yang mahal memenuhi udara, sangat kontras dengan bau pelumas di telapak tanganku.
Aku baru saja melompat turun dari tangga lipat alumunium, membersihkan debu di tanganku menggunakan lap kotor bawaanku. Hembusan angin dingin nan presisi langsung merata ke seluruh penjuru ruangan.
"Gila lu, Yog. Lu beneran bisa mbetulin AC Sentral gedung kantor gue sendirian? Belajar dari mana lu?" kata Erik, matanya membelalak takjub melihat indikator suhu di panel dinding yang perlahan turun ke angka 18 derajat Celcius.
Erik berjalan menghampiriku sambil menyodorkan sebuah gelas kristal pendek yang berembun es. Isinya air sirup berwarna oranye terang yang terlihat sangat menggoda.
"Ahh... di mana-mana AC Sentral itu prinsip termodinamikanya sama aja, Rik. Cuma sirkulasi freon dan compressor board yang dibikin skala besar. Kalau udah paham skema dasarnya, ginian mah gampang," jawabku santai, menerima gelas itu.
Aku menempelkan bibir gelas kristal itu dan menyeruputnya sedikit.
Astaga naga. Mataku nyaris terpejam. Sangat melegakan tenggorokan. Rasa manis jeruknya begitu natural, ada bulir-bulir buah asli yang pecah di lidah, dipadukan dengan sensasi dingin es batu yang langsung memadamkan panasnya kerja fisikku seharian ini.
"Wah, gue jadi ga perlu repot-repot undang teknisi vendor resmi lagi kalau gini, Yog. Mereka mah lama datengnya, birokrasinya ribet, udah gitu invoice-nya mahal pula buat maintenance gedung," kata Erik sambil tertawa, kembali duduk di kursi kebesarannya.
Aku tidak membalas. Perhatianku sepenuhnya tersita oleh minuman surgawi ini. Aku melanjutkan menyeruput sirup jeruk itu. Enak sekali. Seumur hidup, lidah miskinku ini hanya memproses sirup yang dijual murah karena mendekati expired, itupun minum setahun sekali saat Lebaran, biasanya dapet dari bingkisan parsel Pak RT di kampung. Merek apa ini? Pastinya bukan sirup curah.
"Oh iya, Yog," Erik tiba-tiba memecah keheningan, menatapku dengan raut wajah serius. "Lu pernah jalan-jalan ke luar negeri?"
"Hmm?" Aku menghentikan tegukanku. "Ke luar negeri? Belum rik"
"Mau ke Jepang?" tawar Erik tanpa basa-basi. "Tenang, urusan tiket pesawat, hotel, akomodasi, segala macamnya... mutlak gue yang tanggung pakai duit pribadi."
Aku terdiam, memproses tawarannya. Jepang? Aku tidak bisa membayangkan negara itu seperti apa bentuk aslinya. Referensi visualku tentang Jepang mentok pada buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) zaman SD dan artikel acak di Wikipedia soal gajah putih.
Logikaku menghitung cepat. Pergi ke luar negeri gratis? Kapan lagi kuli palugada sepertiku bisa keluar dari sumpeknya Jakarta tanpa keluar ongkos sepeser pun? Mungkin ini bisa jadi pengalaman baru yang bagus untuk me-refresh otakku yang kalut seminggu terakhir.
"Bo... boleh, Rik. Berangkat sama lu kan?" tanyaku santai, sambil kembali menenggak sirup dewa ini. Sumpah, enak cuy.
"Syukurlah kalau lu mau. Lega gue. Akhirnya ada orang yang bisa diandalkan buat nemenin Feby ke sana."
UHUUKK...!!!
Aku tersedak parah. Sirup jeruk premium itu masuk ke saluran pernapasan yang salah. Cairan manis dan dingin itu mendadak terasa seperti air keras yang membakar rongga hidung dan paru-paruku. Aku terbatuk-batuk hebat hingga mataku berair, dadaku sesak menahan perih.
"Eh, kenapa, Yog?! Pelan-pelan minumnya, astaga!" Erik panik, buru-buru menyodorkan sekotak tisu wajah dari atas mejanya.
Aku menarik beberapa lembar tisu, menyeka mulut dan hidungku. Butuh waktu hampir satu menit penuh untuk menenangkan diri dan membiarkan rasa perih di hidung dan dadaku perlahan menghilang.
Napas masih memburu, aku menatap Erik dengan horor. "Nemenin Feby?! Maksud lu apa, Rik?!"
"Iya," jawab Erik santai, seolah baru saja menyuruhku pergi ke minimarket depan. "Feby ada kerjaan konten buat nge-review sebuah hotel ryokan mewah di kyoto, Jepang. Sebetulnya, gue yang mau nemenin dia ke sana. Tapi sepertinya kulihat jadwalku, sebulan ini full ada meeting dan kerjaan yang harus diselesaikan. Jadi gue bingung, siapa yang bisa ngejagain dia selain 1 orang dari timnya."
"Kenapa harus gue, Rik?!" sergahku, suaraku masih serak gara-gara tersedak. "Kenapa ga nyewa bodyguard profesional aja sekalian?!"
"Siapa lagi, Yog? Lu itu orang yang paling bisa gue percayai saat ini," kata Erik menatapku penuh keyakinan. "Lu bisa bela diri, lu juga jenius bisa nyelesaiin masalah random apa pun di lapangan. Tenang aja... gue bayarin semuanya dari A sampai Z. Plus, ada uang jalan juga dari pihak ryokan-nya buat lu sebagai tim support. Hitung-hitung liburan dibayar, Yog."
Sialan.
Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Lidahku sudah terlanjur bilang "Boleh" dua detik yang lalu! Ternyata nikmatnya sirup sialan ini telah menumpulkan insting bahayaku. Jebakan macam apa ini? Aku harus ngapain ketika berada di negeri asing bersama Feby berhari-hari?! Aku padahal sudah berencana dan bersumpah pada diriku sendiri untuk menjauh sejauh-jauhnya dari orbit Feby. Tapi kenapa? Kenapa semesta malah mengikatku lebih erat dan melempar kami ke dalam satu lokasi yang sama? Semesta benar-benar sedang berkomedi, sayangnya komedinya jayus.
"Kapan kita... maksudku, kapan penerbangannya berangkat, Rik?" tanyaku pasrah, bahuku merosot kalah.