Dua minggu kemudian. Hari H keberangkatan kami ke Jepang.
Kemarin seharian aku sibuk mencari pakaian tebal bekas di Pasar Senen. Katanya, di Jepang sekarang sedang transisi dari musim gugur menuju musim dingin. Suhunya bisa menyentuh angka satu digit, jauh lebih dingin dibandingkan dengan hembusan AC indoor paling maksimal di Jakarta. Lalu malamnya, mataku terbuka lebar menatap langit-langit kosan. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Bukan karena excited mau liburan gratis, tapi karena hari ini aku akan terbang membelah benua bersama... FEBY...!!!
Sudah diputuskan oleh Erik, dari tiga orang tim Feby, yang akan ikut terbang ke Jepang hanyalah Sherly. Gadis mungil berkerudung ini akan jadi MUA sekaligus pendamping Feby, teman sekamarnya. Sementara aku? Aku akan jadi bodyguard merangkap kameramen dan editor lapangan. Tugasku adalah merapel tugas Aldo dan Dimas sekaligus.
Pagi ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, sepatu kets kanvasku menginjakkan lantai marmer mengkilap Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku celingukan bingung, memutar tubuh melihat kemegahan arsitektur raksasa ini. Suara pengumuman boarding menggema dari speaker tak kasat mata.
Ini pertama kalinya aku naik pesawat, Coy. Otakku mulai membuat hipotesis konyol. AC pesawat di atas awan nanti sedingin AC bus AKAP malam nggak ya? Kalau kedinginan, apa kernet pesawatnya bakal bagi-bagi selimut bermotif macan?
Ketika aku sedang melamun di dekat pilar raksasa. Dari kejauhan, Feby dan timnya muncul.
"Mas Yogaa..." Feby menghampiriku sambil melambaikan tangan.
Duniaku mendadak slow-motion. Dia tampak mempesona. Feby memakai jaket jeans oversize, dalamnya menggunakan kaos putih polos yang bersih, dipadu celana bahan kulot panjang berwarna beige. Riasan makeup-nya natural dan tipis, tapi senyumnya... aduh, tolong, senyumnya manis sekali.
"Udah lama, Mas?" tanya Feby riang.
"Umm... eng... enggak, baru saja kok nyampe," bohongku lancar.
Faktanya, aku datang terlalu cepat dua jam dari jadwal kumpul. Bahkan saat ke sini tadi subuh, aku memaki-maki sopir taksi online-ku untuk ngebut. Semalam aku menonton lima video tutorial YouTube berjudul "Cara Naik Pesawat untuk Pemula agar Tidak Terlihat Ndeso". Di video itu dibilang aku harus datang jauh-jauh sebelum jam boarding. Aku saking kepagiannya, mungkin saat aku sampai di bandara tadi, pesawatnya belum dipanasin sama sekali. Eh... pesawat jet perlu ditarik cuk karburatornya dan dipanasin mesinnya kayak motor ga sih?
Tampak Sherly, Dimas, dan Aldo mengekor di belakang Feby. Dimas dan Aldo rupanya tetap datang ke bandara untuk melepas kami.
"A... anu, Mbak Feb," panggilku canggung.
"Ya, Mas?"
"Ga bikin konten persiapan berangkat nih? Lumayan lho buat engagement..." kataku, berusaha mengalihkan perhatiannya agar aku tidak perlu melakukan eye-contact terlalu lama.
"Oh iya, betul juga! Untuk IG Story dan feed ya," kata Feby, matanya berbinar menyetujui ideku.
Kemudian Feby merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sangat tertata sempurna, lalu mengeluarkan iPhone-nya. Dengan kamera depan, dia mulai merekam vlog singkat, menyapa para followers-nya dengan nada ceria.
Fyuuhh... Selagi dia sibuk ngonten dan kami masih menunggu kedatangan Erik, aku bisa bernapas lega. Ga perlu ngobrol panjang dan bertingkah canggung di depannya.
"Mas Yoga... ini tas kamera dan MacBook-nya ya," kata Dimas, menyodorkan sebuah ransel hitam yang terlihat sangat berat padaku.
"Oh iya, sip." Aku menerimanya, langsung merasakan beban belasan juta rupiah membebani pundakku.
"Tolong dijaga ya, Mas. Aset penting buat nyari makan itu," pesan Dimas serius.
"Siap, aman di punggungku," jawabku menepuk ransel itu.
"Mas Yoga udah pernah ke Jepang?" tanya Aldo yang berdiri di sebelah Dimas.
"Belum... ini baru pertama kali bikin paspor."
Aldo menengok ke kanan-kiri, lalu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulutnya ke kupingku.
"Mas... di sana kan Ci Feby bakal review salon mahal di Kyoto. Biasanya treatment salon luar negeri itu bakal sekalian ngubah styling atau model rambutnya," bisik Aldo serius. "Ingat kata-kataku, Mas. Sebaiknya Mas Yoga hafalkan setiap detail dari rambut Ci Feby yang sekarang."