ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #22

Kuli Palugada dan Senyuman Sang Bidadari

Suara chime khas kabin pesawat berdenting pelan, diikuti suara pramugari dari pengeras suara yang mengumumkan bahwa pesawat akan segera memulai proses penurunan ketinggian menuju Bandara Internasional Kansai.

Aku merasakan perubahan tekanan udara seketika. Telingaku berdengung dan terasa sedikit sakit. Secara refleks, kedua tanganku kembali mencengkeram sandaran tangan kursi dengan erat. Wajahku menegang.

Feby, yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya, menggeliat kecil. Ia merapikan rambutnya, lalu menoleh ke arahku. Melihat postur tubuhku yang kaku seperti kayu jati, senyum geli terukir di bibirnya.

"Tegang banget, Mas?" sapa Feby dengan suara serak khas bangun tidur, wangi vanilla dan mint menguar lembut di sekitarku.

"Eh... lumayan, Mbak," jawabku jujur, menelan ludah berkali-kali untuk mengurangi dengung di telinga. "Ini kan pas turun ke bawah, ngeremnya gimana ya? Takut kebablasan, kan ga bisa teriak 'Kiri, Pir!' kayak di kopaja."

Feby tertawa renyah. Tawanya terdengar sangat merdu mengalahkan deru mesin jet di luar sana. "Ya ampun, Mas Yoga... Pilotnya udah canggih kok, ada rem otomatisnya. Nih, makan permen biar telinganya ga sakit pas turun."

Feby menyodorkan sebuah permen mint dari saku jaketnya. Aku menerimanya dengan canggung.

"Makasih, Mbak. Maaf ya, dari tadi berangkat aku banyak noraknya," gumamku malu, menunduk membuka bungkus permen itu. "Pasti Mbak Feby dalam hati ngetawain kuli yang baru pertama kali naik burung besi ini."

Feby menggeleng pelan, matanya menatapku dengan tatapan hangat yang membuat perutku seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.

"Enggak kok, Mas. Semua orang kan punya pengalaman pertama. Justru aku amaze lho sama Mas Yoga," kata Feby tulus. "Mas ini jagoan banget kalau di jalanan Jakarta, berani ngelawan preman, tapi ternyata bisa salting dan panik gara-gara sabuk pengaman pesawat. Cute aja ngeliatnya."

Aku terbatuk kecil, tersedak permen mint yang baru saja kulumat. Cute katanya? Ya Tuhan, tolong jangan berikan harapan pada remah-remah rengginang ini.

"Lagian," lanjut Feby sambil menopang dagu, menatap keluar jendela di mana daratan Jepang mulai terlihat dari balik awan. "Mas Yoga ga perlu insecure. Kan ada aku yang bakal jadi pemandu wisatanya Mas Yoga. Tenang aja, oke?"

Aku memandang wajah dari samping itu. Entah kenapa, ketakutanku pada ketinggian mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dada. "Siap, Mbak," jawabku pelan.


Whooosh!

Pintu kaca otomatis Bandara Internasional Kansai terbuka. Udara pertengahan November menyergap masuk tanpa permisi. Angin musim gugur akhir yang menusuk tulang langsung menampar wajahku. Suhu di luar diperkirakan sekitar 12 derajat Celcius.

Aku merapatkan jaket parka thrift bekas yang kubeli di Pasar Senen. Sial, tebal doang tapi anginnya masih tembus ke pori-pori.

Lihat selengkapnya