Kereta Haruka Express akhirnya melambat, merayap anggun memasuki peron Stasiun Kyoto. Pintu terbuka dengan desisan hidrolik yang nyaris tak terdengar.
Begitu kakiku menginjak peron, udara akhir musim gugur Kyoto langsung menyergap. Suhu belasan derajat Celcius menusuk menembus jaket parka thrift yang kupakai, membuatku merapatkan ritsleting hingga ke leher. Stasiun Kyoto raksasa beratap baja dan kaca ini terasa sangat berbeda dari stasiun manapun yang pernah kulihat, bersih, tertib, dan sunyi dengan cara yang membuatku merasa seperti memasuki gedung pemerintahan masa depan.
Seperti biasa, Feby tidak membuang waktu. Di tengah lautan manusia yang berlalu-lalang tertib, ia sudah mengeluarkan iPhone-nya. Senyum cerahnya mengembang seketika.
"Hai guys! Akhirnya kita touchdown juga di Kyoto!" sapanya ke arah kamera depan, berjalan memutar untuk memperlihatkan kemegahan stasiun di belakangnya.
Aku berdiri di area yang tidak tersorot kamera iPhone-nya, memanggul ransel yang berat, bertingkah layaknya bodyguard merangkap kuli angkut. Aku menatap takjub ke sekeliling. Keteraturan stasiun ini membuat otakku yang terbiasa dengan kekacauan Terminal Kampung Rambutan merasa seperti sedang berada di simulasi masa depan.
Selesai update Story, Feby memasukkan ponselnya. "Yuk, Mas Yoga, Sherly. Kita langsung ke penginapan di Arashiyama. Biar gampang dan ga repot bawa koper, kita naik taksi aja dari sini," komandonya.
Kami berjalan menuju taxi stand di luar stasiun. Di sinilah culture shock-ku kembali terjadi. Bukannya taksi sedan butut yang bau pengharum ruangan rasa jeruk, yang menjemput kami adalah taksi sedan Toyota Crown berwarna hitam mengkilap.
Saat aku berniat meraih gagang pintu penumpang untuk membukakannya bagi Feby... Srek. Pintu taksi itu terbuka sendiri secara otomatis! Aku terlonjak kaget selangkah ke belakang.
Feby dan Sherly tertawa kecil melihat reaksiku. Sopir taksinya, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas rapi, topi pet, dan sarung tangan putih bersih, keluar dengan sigap, membungkuk sopan (ojigi), lalu membantu mengangkat koper kami ke bagasi. Di dalam taksi, kursinya dilapisi kain renda putih yang sangat bersih. Aku duduk di depan, Feby dan Sherly di belakang. Tidak ada suara klakson bersahutan, hanya ada keheningan dan alunan instrumen tradisional Jepang yang diputar pelan dari radio mobil. Aku benar-benar merasa seperti pejabat negara, padahal di kantongku cuma ada beberapa lembar Yen hasil tukaran di bandara tadi.
Perjalanan menuju Arashiyama memakan waktu sekitar setengah jam. Pemandangan lanskap kota modern perlahan tergantikan oleh bukit-bukit yang dipenuhi pepohonan rimbun. Semakin mendekati Arashiyama, semakin berubah dunia di luar jendela, rumah-rumah kayu tradisional yang atapnya melengkung indah mulai mendominasi, dan udara yang masuk dari celah jendela yang terbuka sedikit mulai membawa aroma berbeda, kayu basah bercampur daun kering musim gugur yang sangat berbeda dari udara Jakarta manapun yang pernah kukenal. Sebuah sungai berkilau tenang terlihat sesaat di kejauhan, airnya memantulkan warna oranye dan merah dari dedaunan maple di tepiannya.
Taksi kami berhenti di depan sebuah gerbang kayu tua yang sangat terawat, tersembunyi di balik rindangnya pohon pinus dan bambu. Ini dia. Ryokan kelas atas pesanan Erik.
Kami disambut oleh beberapa Nakai-san (pelayan penginapan) yang mengenakan kimono sutra. Mereka membungkuk sangat rendah menyambut kami. Feby mengambil alih proses check-in di lobi kecil yang berbau dupa cendana, berbicara dalam bahasa Inggris dengan sangat fasih. Aku? Aku hanya berdiri mematung, menatap susunan taman batu (Zen garden) di halaman dalam yang pola pasirnya disapu melingkar sempurna tanpa satu pun jejak kaki.
Seorang Nakai-san kemudian memandu kami melewati lorong-lorong kayu terbuka yang diapit taman, menuju unit eksklusif kami: Hanare Suite. Sebuah bangunan paviliun kayu yang berdiri terpisah, sangat privat dan sunyi.
Begitu pelayan itu menggeser pintu utama bangunan dan mempersilakan kami masuk, hidungku langsung disambut oleh aroma tajam nan menenangkan dari rumput Igusa kering, bau khas dari lantai tatami.
Feby dan Sherly yang sudah kegirangan bersiap melepas sepatu dan berniat menyeret koper mereka masuk.
"Tunggu, Mbak!" cegahku tiba-tiba, suaraku agak sedikit keras memecah kesunyian elegan ruangan itu.
Feby dan Sherly menoleh kaget, menghentikan langkah mereka tepat di area Genkan (area berlantai batu tempat melepas sepatu).
"Ada apa, Mas Yoga?" tanya Feby bingung.