"Oke, mumpung matahari sore musim gugur di luar sana belum habis, kita sikat semua ruangan sekarang, Mbak," ujarku, mengalungkan tali strap kamera ke leher. Rasa canggungku mendadak menguap, digantikan oleh adrenalin seorang teknisi yang menemukan mesin rusak untuk diperbaiki. Di mataku, ruangan ini adalah kanvas kosong, dan cahaya adalah freon-nya.
"Siap, Mas Sutradara! Aku ngikut aja," sahut Feby penuh semangat. Sherly sang MUA dengan sigap merapikan sedikit helaian rambut Feby yang keluar jalur.
Kami bergerak menyusuri Hanare Suite yang hening ini. Langkah kami di atas lantai tatami hanya menghasilkan suara gesekan halus. Aroma rumput igusa kering bercampur dengan wangi dupa cendana dari lobi depan menciptakan atmosfer magis yang memabukkan.
"Kita ke area itu dulu, Mbak," arahku, menunjuk meja kayu rendah (chabudai) di dekat beranda.
Aku menyapu pandangan ke sudut ruangan itu.
Titik Cahaya: Jendela kaca lebar menghadap taman maple. Masalahnya cahaya dari luar terlalu dominan (over-exposure), membuat area dalam ruangan berisiko menjadi bayangan gelap (silhouette).
Solusi Geometri: Aku menyalakan satu lampu lantai tradisional berlapis kertas (Andon) ber-tone kuning hangat, lalu meletakkannya tepat di sudut diagonal dari posisi duduk Feby. Ini menciptakan pencahayaan tiga titik (three-point lighting) dadakan. Cahaya alami dari luar sebagai backlight yang membuat rambutnya berkilau, dan lampu Andon sebagai key-light pengisi bayangan di wajahnya.
"Mbak Feby duduk bersimpuh di bantal itu. Tangannya pura-pura menuangkan teh hijau dari teko tanah liat ke cangkir kecil," instruksiku sambil berjongkok, memutar cincin fokus lensa secara manual.
"Gini, Mas?" Feby memiringkan tubuhnya, menunduk anggun sambil memegang teko.
Bangke. Jantungku langsung nyut-nyutan. Sudut wajahnya dari samping, diterpa cahaya keemasan daun maple, dengan leher jenjang yang membingkai sempurna kerah kaos putihnya... Dia tidak butuh script untuk terlihat seperti bidadari turun dari kahyangan.
Aku menahan napas, menekan ego dan perasaanku dalam-dalam ke dasar lambung. Profesional, Yoga. Profesional!
"Tahan, Mbak. Dagu agak diangkat sedikit. Jangan lihat kamera, fokus ke tehnya. Action!"