ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #25

Kuli Palugada dan Teh Malam

****

Setelah layar kamera mati dan Yoga menyatakan semua footage mentah sudah aman terkunci di dalam memory card, barulah ia membiarkan koper-koper besar itu diseret melewati batas pintu masuk.

Formasi pembagian ruang disepakati. Sesuai layout Hanare Suite itu, Feby dan Sherly menempati bilik utama berlantai tatami yang menghadap langsung ke taman. Sementara Yoga menempati bilik di ruang tengah yang menjadi penghubung antara pintu keluar dan kamar para gadis, memastikan ia bertindak layaknya palang pintu keamanan hidup.

Feby yang kelelahan setelah seharian melakukan perjalanan udara dan langsung ditodong syuting, meminta izin untuk mandi air panas duluan di Ofuro. Sherly, yang sudah terbiasa melayani atasannya, berjalan ke arah pantri kecil berdesain kayu oak di sudut ruangan untuk menyeduh teh hijau (Sencha) yang disediakan gratis oleh pihak ryokan.

Sementara menanti Feby mandi, Yoga berjalan mendekati Engawa, beranda kayu sempit yang menjadi pembatas antara ruang dalam dan taman Zen di halaman belakang. Udara malam musim gugur Kyoto terasa sangat tajam, menggigit permukaan kulit. Yoga duduk di tepi beranda, membiarkan kakinya menggantung di atas hamparan pasir putih yang disapu membentuk pola riak air.

Sherly datang membawa nampan kayu berisi dua cangkir keramik berisi teh hijau panas yang uapnya mengepul tebal. Ia menyodorkan satu cangkir pada Yoga, lalu ikut duduk di sebelahnya dengan jarak sopan.

"Makasih, Sher," ucap Yoga pelan, menerima cangkir itu. Suhu hangat dari keramik perlahan menjalar ke telapak tangannya yang dingin.

Sherly menyesap tehnya perlahan, matanya menatap siluet pohon maple yang daunnya merah menyala disorot lampion taman.

"Mas Yoga," panggil Sherly memecah keheningan malam yang hanya diisi suara gemericik air dari pancuran bambu (shishi-odoshi). "Aku denger banyak cerita tentang Mas dari Ci Feby. Katanya Mas ini jago berantem ngalahin preman. Terus kemarin pas di lapangan padel, Mas juga ternyata dewa banget mainnya ngalahin Ko Theo dan Ko Gery itu. Dan hari ini... Mas tiba-tiba berubah jadi sutradara film kelas atas. Semua skill itu, Mas Yoga dapet dari mana sih sebenarnya?"

Yoga tersenyum tipis, matanya tetap menatap lurus ke depan. "Sejak kecil aku memang sudah sering membaca buku, kehidupan dan jalanan menjadi ajang prakteknya."

"Hanya baca buku?" dahi Sherly berkerut di balik kerudungnya.

"Iya. Sudah lima tahun aku merantau di Jakarta. Nggak punya modal privilege, nggak punya ijazah mentereng, ga ada koneksi. Kalau mau bertahan hidup di kerasnya ibukota tanpa harus mati kelaparan, otaknya nggak boleh berhenti berputar," Yoga menenggak teh hijaunya yang rasanya sedikit pahit dan earthy. "Kalau lagi nggak ada orderan servis, sampai sekarang aku sering nongkrong di lapak buku loak di Senen atau Kwitang. Baca buku fisika terapan, optik, sampai anatomi tubuh. Teorinya kubaca, praktiknya kujadiin skill set buat bertahan hidup. Termasuk soal kamera tadi... cahaya itu cuma soal fisika pantulan dan pembiasan."

Sherly terdiam, menatap profil samping pria berkemeja flanel pudar di sebelahnya ini dengan rasa takjub. Di balik penampilannya yang sering diremehkan, Yoga adalah perpustakaan berjalan yang ditempa oleh kerasnya kehidupan.

"Mas Yoga..." Sherly ragu sejenak, menggigit bibir bawahnya, tapi rasa penasarannya terlalu besar. "...Mas Yoga suka ya sama Ci Feby?"

Deg. Cangkir keramik di tangan Yoga nyaris tergelincir. Udara dingin Kyoto mendadak terasa membekukan paru-parunya. Pertanyaan polos nan tajam itu menghantam pertahanannya tanpa ampun.

Yoga tidak langsung menatap Sherly. Ia tidak mengatakan 'tidak', namun juga tidak memiliki keberanian untuk mengatakan 'iya'. Lidahnya kelu.

"Aku cuma kuli palugada, Sher," suara Yoga akhirnya keluar, berat dan sarat akan kepahitan. "Aku cuma bantu sesuai dengan apa yang aku bisa. Aku sangat sadar diri, duniaku dan dunianya Mbak Feby itu dibatasi tembok beton yang nggak bisa dirubuhin."

Lihat selengkapnya