ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #27

Kuli Palugada dan Rambut Sang Bidadari

Cahaya Komorebi itu perlahan memudar seiring matahari yang merangkak naik, namun keindahannya masih tercetak abadi di retina mataku dan di dalam memori kamera. Aku menurunkan Sony A6000 itu perlahan. Napasku masih memburu.

"Mas Yoga! Sini, gantian pakai iPhone-ku dong, mumpung masih ada sisa golden hour-nya buat update Story!" panggil Feby antusias, berlari kecil menghampiriku sambil menyodorkan ponselnya (larinya imut sekali).

"Siap, Mbak." Aku menerima ponsel itu. Meski hanya menggunakan kamera smartphone, otakku secara otomatis mengkalkulasi jatuhnya bayangan. Aku merendahkan lutut, mencari sudut dari bawah (low angle) agar batang bambu raksasa itu tampak seolah memeluk Feby dari segala arah. Kusentuh layar ponsel untuk mengunci exposure, menurunkannya sedikit agar cahaya matahari yang masuk tidak menyilaukan, lalu menekan tombol shutter berkali-kali.

"Wah, gila... pakai HP aja hasilnya kayak poster drakor," decak Sherly yang mengintip dari balik bahuku.

Karena matahari sudah meninggi dan kabut pagi mulai menguap sepenuhnya, golden time pun berakhir. Namun, kami tidak membuang waktu. Dengan statusku sebagai "sutradara palugada", aku memandu Feby untuk mengambil sisa shot sinematik di berbagai sudut Hutan Bambu Sagano. Dari adegan Feby berjalan menyusuri pagar anyaman bambu, hingga close-up wajahnya yang tersenyum menatap langit. Udara pagi yang tadinya membekukan tulang kini mulai terasa sejuk menyegarkan berkat adrenalin yang terpompa.

Dalam perjalanan kembali ke ryokan, langkah kami lebih ringan dari saat berangkat tadi. Udara yang tadinya menggigit kini terasa segar menyenangkan, atau mungkin tubuhku sudah mulai beradaptasi, atau mungkin adrenalin masih menghangatkan dari dalam.

Di tengah jalan setapak berbatu yang membelah deretan toko suvenir yang belum buka, Feby berjalan di sebelahku sambil menunduk menatap layar Sony A6000 yang kuserahkan padanya. Ia memutar playback footage Komorebi tadi berulang-ulang dengan earphone satu sisi, sesekali menghentikan video di frame tertentu.

Ia tidak berkata apa-apa cukup lama.

"Mas Yoga," panggilnya akhirnya, suaranya pelan dan berbeda dari nada cerianya yang biasa.

"Ya, Mbak?"

Feby masih menatap layar kamera itu. "Aku udah bikin konten traveling bertahun-tahun. Udah ke banyak tempat. Tapi baru kali ini..." ia berhenti sejenak, mengangkat wajahnya menatap lurus ke deretan bambu yang masih terlihat di kejauhan. "...baru kali ini aku ngerasa seperti beneran ada di dalam videonya. Bukan cuma tampil di dalamnya."

Aku tidak menjawab. Karena aku tidak tahu harus menjawab apa.

Sherly yang berjalan dua langkah di belakang kami melirik ke arahku sekilas. Sudut bibirnya naik sangat tipis, bukan senyum untuk Feby, tapi senyum untuk dirinya sendiri. Ia lalu memandang ke arah lain, pura-pura sangat tertarik dengan etalase toko suvenir yang masih tutup rapat di pinggir jalan.

Feby mengunci layar kamera dan mengembalikannya padaku tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi wangi vanilla dari jaketnya yang menyapu udara saat ia melingkarkan tali kamera ke pundakku, entah kenapa terasa seperti sebuah kalimat yang tidak selesai.

Perutku berbunyi nyaring. Feby dan Sherly langsung menoleh, lalu meledak tawa.

"Duh, Mas Yoga! Abis bikin masterpiece langsung minta upah makan ya?" ejek Feby, tawanya renyah memecah keheningan pagi Arashiyama.

"Perut ini tidak kenal seni, Mbak," jawabku datar, membikin keduanya tertawa semakin keras.

Pukul delapan pagi, kami kembali ke ryokan dengan langkah ringan.

Di ruang Hanare, Nakai-san sudah menyiapkan sarapan tradisional Jepang (Asagohan). Aroma kaldu dashi dari sup miso yang mengepul panas, ikan salmon panggang yang kulitnya berderak gurih, dan tamagoyaki (telur gulung) manis seketika mengembalikan energi kami yang terkuras. Rasa hangat dari nasi putih mengepul itu seolah menghidupkan kembali sel-sel tubuhku yang sempat membeku di hutan tadi.


Lihat selengkapnya