Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Kyoto, meninggalkan semburat warna ungu dan jingga yang memantul di permukaan Sungai Katsura. Taksi yang membawa Yoga, Feby, dan Sherly akhirnya kembali berhenti di depan gerbang kayu Ryokan di Arashiyama.
Hari sudah berganti menjadi sore menjelang malam. Angin musim gugur bertiup semakin kencang, menggugurkan daun-daun maple kemerahan ke atas batu pijakan taman. Besok adalah hari terakhir mereka menghirup udara Jepang, sebelum lusa harus kembali terbang membelah benua menuju hiruk-pikuk aspal Jakarta.
Seharusnya, jadwal (itinerary) hari ini dan besok pagi dikhususkan untuk syuting review kamar Hanare Suite. Tapi, karena Yoga dengan kejeniusan dadakannya sudah membabat habis proses pengambilan gambar secara sinematik pada hari pertama mereka datang, jadwal mereka mendadak kosong melompong. Mereka memiliki kemewahan yang jarang didapatkan oleh para content creator pada umumnya: waktu bersantai satu hari penuh tanpa dikejar deadline.
Setelah tiba di Hanare Suite, rutinitas malam berjalan dengan tenang. Mereka bergantian membersihkan diri. Wangi sabun cemara dan uap panas dari Ofuro mengusir udara dingin yang sedari tadi menempel di kulit. Kemudian, Nakai-san masuk membawakan nampan-nampan makan malam Kaiseki dengan menu belut panggang (Unagi) yang saus manis-gurihnya seketika membuat perut keroncongan. Mereka makan dengan santai, diiringi gelak tawa setiap kali Yoga mengomentari porsi mungil ala Jepang yang tak pernah berhasil membuat lambung kulinya merasa penuh.
Setelah meja makan dibersihkan dan futon digelar, suasana ruangan menjadi sangat cozy. Feby dan Sherly duduk santai di atas Zabuton (bantal duduk) sambil memakai sheet-mask wajah, mengobrol pelan soal apapun yang terjadi hari ini.
Sementara itu, di sudut ruangan yang bersebelahan dengan Fusuma, Yoga sedang duduk bersila dalam diam. Cahaya kebiruan dari layar laptop tebalnya yang sudah mulai panas menerpa wajah seriusnya. Terdengar bunyi klik-klik-klik cepat dari mouse murahannya yang beradu dengan meja kayu.
Yoga sedang sibuk masuk ke fase terakhir editing. Menyusun klip Komorebi pagi tadi, menata transisi, dan melakukan color grading. Namun, alisnya berkerut. Matanya menatap timeline video yang terasa sedikit kosong. Visualnya sudah setara film layar lebar, tapi audio-nya hanya diisi musik instrumental lo-fi yang ia temukan di internet.
Butuh narasi pengikat, batin Yoga. Suara narator yang mendeskripsikan keindahan tempat ini.
Yoga meraih pulpen dan secarik kertas memo berlogo Ryokan dari meja telepon. Sambil menggigit ujung pulpennya, otak Yoga merangkai kata. Ia menulis beberapa baris kalimat puitis dan elegan, sangat kontras dengan kepribadiannya yang kasar.
Setelah selesai, Yoga menelan ludah. Ia memandangi headset kabel miliknya yang nyaris putus, di mana busa microphone-nya sudah mengelupas. Dengan gerakan ragu dan setengah malu, Yoga mencabut headset itu, lalu berdiri dan menghampiri area para gadis.
"Ehm... Mbak Feby," panggil Yoga canggung, mengusap tengkuknya.
Feby menoleh, lalu buru-buru melepas sheet-mask dari wajahnya yang kini terlihat sangat bercahaya (glowing). "Iya, Mas Yoga? Kenapa? Videonya bermasalah?"
"Enggak, videonya udah 90 persen jadi. Cuma..." Yoga menyodorkan kertas memo dan headset bututnya. "...aku butuh Voice Over, suara narator Mbak Feby buat ngisi kekosongan audio-nya. Boleh minta tolong direkam bentar pakai mic ini?"
Feby melihat headset dengan kabel keriting itu, lalu tertawa kecil. "Boleh banget dong, Mas. Masa minta tolong, ini kan videoku. Sini."
Feby memasang headset gaming murah itu ke kepalanya. Busa hitam yang sudah tipis itu menjepit telinganya. Yoga kembali ke laptopnya, membuka aplikasi voice recorder, dan menekan tombol merah.
"Mbak baca tulisan di kertas itu ya. Action," aba-aba Yoga pelan.
Feby berdeham, lalu mulai membaca dengan suara ceria andalannya. "Hai guys! Selamat datang di tempat persembunyian rahasia di Kyoto! Kalau kalian nyari ketenangan, ini dia..."