Keesokan paginya, matahari Kyoto bersinar cerah meski udara musim gugur tetap menggigit kulit. Hari ini adalah hari bebas. Sherly memutuskan untuk memisahkan diri sejak sarapan; MUA mungil itu izin ingin hunting skincare dan membuat konten vlog pribadinya seharian penuh. Jadilah, hari ini hanya ada aku dan Feby yang menyusuri jalanan batu berbatu di kawasan Higashiyama.
Tujuan Feby hari ini sederhana: mencari oleh-oleh. Ia ingin membeli souvenir kecil yang khas, ringan, dan tidak makan tempat di koper.
Kami masuk ke sebuah toko tradisional yang menjual Chirimen, kerajinan kain sutra bermotif khas Jepang yang disulap menjadi gantungan kunci, dompet koin, hingga pajangan dinding mungil berbentuk kelinci dan bunga sakura. Mataku langsung menangkap kualitas jahitannya. Halus, rapi, dan jelas diproduksi secara massal tapi dengan quality control yang gila.
"Mas, bagus-bagus banget ya! Aku mau beli ini lima puluh pieces deh buat bagi-bagi ke kru dan temen di Jakarta," kata Feby antusias, menumpuk gantungan kunci itu di dalam keranjang rotannya.
Namun, ada satu kendala fatal saat kami menuju kasir. Si Oba-chan (nenek) pemilik toko sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Ia hanya tersenyum ramah, membungkuk, dan menekan angka di kalkulator besar: ¥35.000. Untuk lima puluh gantungan kunci kain sekecil ibu jari?!
Feby merogoh dompetnya dengan pasrah, siap membayar harga tourist trap itu.
"Tunggu, Mbak," bisikku cepat, menahan tangannya.
Otak aspal dan insting survival Pasar Tanah Abang-ku langsung menyala. Aku menatap barang-barangnya. Kain sisa industri, benang nilon, isi dakron. Biaya produksinya tak sampai lima ratus Yen per lusin. Ini gila.
Aku melangkah maju, berdiri di depan mesin kasir. Si nenek menatapku bingung. Aku tidak bisa bahasa Jepang, tapi ada satu bahasa universal yang dimengerti oleh seluruh pedagang di muka bumi: Bahasa Kalkulator.
Aku menunjuk keranjang yang penuh itu, lalu mengambil kalkulator dari meja. Aku menghapus angka 35.000, lalu mengetik angka ¥15.000. Kurang dari setengah harga aslinya. Aku menyodorkan kalkulator itu padanya sambil tersenyum lebar.
Si nenek terbelalak. Ia menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf 'X' di depan dada sambil berseru, "Dame, dame!" (Tidak boleh). Ia merebut kalkulator itu dan mengetik ¥30.000.
Aku menggeleng pelan, memasang wajah melas paling meyakinkan. Aku mengetik ¥18.000.
Nenek itu mendesah panjang, menggeleng keras, lalu mengetik ¥25.000. Ia menunjuk-nunjuk jahitan kain itu, meracau dalam bahasa Jepang yang kuyakin artinya, "Ini handmade lho, Mas, rugi bandar saya!"