ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #30

Kuli Palugada dan Malam Terakhir Arashiyama

Malam terakhir di Arashiyama. Langit Kyoto bersih dari awan mendung, menampilkan bulan musim gugur (Tsukimi) yang bulat sempurna dan berwarna kuning keemasan pucat, menggantung indah di atas atap-atap kuil.

Sherly sudah tepar. Gadis itu pamit tidur lebih awal karena kakinya nyaris mati rasa setelah keliling Kyoto seharian demi konten pribadinya. Kini, suasana Hanare Suite kembali jatuh dalam keheningan mutlak.

Yoga duduk di Engawa (beranda kayu), memeluk lututnya untuk mengusir hawa dingin yang mulai turun dari pegunungan. Jaketnya dirapatkan. Ia menatap taman Zen dan pohon maple yang disinari cahaya bulan.

Suara pintu geser Fusuma ditarik perlahan. Feby melangkah keluar menuju beranda. Ia mengenakan Yukata biru gelapnya, membawa sebuah nampan kayu. Di atasnya terdapat set teh matcha yang baru dibelinya siang tadi.

Tanpa banyak bicara, Feby duduk di sebelah Yoga. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat kehangatan tubuh satu sama lain terasa di udara dingin. Feby mulai melakukan ritual kecilnya. Mengambil bubuk hijau dengan sendok bambu, menuangkan air panas dari termos kecil, lalu mengaduknya dengan Chasen hingga berbuih. Gerakannya sangat tenang, seolah sedang bermeditasi.

Yoga hanya menatap profil samping Feby dalam diam. Diterpa cahaya bulan pucat, kecantikan gadis itu terasa tidak nyata.

"Nih, Mas. Cobain hasil seduhanku," kata Feby, menyodorkan mangkuk keramik itu pada Yoga. Tidak ada susu, tidak ada gula. Murni Matcha.

Yoga menerimanya dengan canggung. Ia menatap cairan hijau gelap itu. Tanpa protes, ia mendekatkan mangkuk ke bibirnya dan mengambil satu tegukan.

Rasa pahit dan sepat itu kembali memukul lidahnya. Yoga tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Alisnya berkerut tajam, matanya memejam menahan rasa "rumput lapangan" itu.

Melihat reaksi itu, tawa kecil dan halus keluar dari bibir Feby. "Masih kayak rumput lapangan bola, Mas?"

Yoga menghembuskan napas panjang, menatap isi mangkuknya. "Iya, Mbak. Rumput sintetis dicampur tanah liat."

Feby terkekeh, lalu menyesap matcha dari mangkuknya sendiri dengan mata terpejam menikmati.

"Kenapa Mbak suka banget sama minuman se-pahit ini?" tanya Yoga tulus, memecah keheningan di antara mereka.

Feby menurunkan mangkuknya ke atas paha. Matanya menerawang jauh ke arah bulan di langit malam.

"Aku suka sesuatu yang pahitnya jujur, Mas," jawab Feby pelan, suaranya sangat tenang. "Yang dari awal nggak pura-pura manis buat bikin orang seneng. Hidupku... udah terlalu banyak diisi sama hal-hal yang kelihatan manis di luar, padahal aslinya beracun. Ngerasain pahit yang apa adanya kayak gini, entah kenapa... bikin aku merasa napak di bumi lagi."

Kalimat itu sederhana, tapi Yoga tahu ada lapisan kedalaman masa lalu yang sangat kelam di baliknya.

Yoga tidak berkata apa-apa. Ia tidak memberikan kalimat motivasi kosong. Ia hanya mengangkat mangkuknya, dan dalam satu tegukan panjang, ia menghabiskan sisa matcha yang sangat pahit itu sampai tetes terakhir.

Hening kembali mengambil alih. Suara gemericik air dari shishi-odoshi bambu di ujung taman terdengar berirama.

Lihat selengkapnya