Keesokan paginya, kekacauan dimulai sejak matahari belum sepenuhnya terbit di Kyoto. Kami harus berkemas mengejar penerbangan siang.
Masalah terbesarku hari ini bukanlah patah hati, melainkan hukum fisika massa dan volume. Koper kain bututku yang resletingnya sudah ditahan peniti itu, kini harus menelan puluhan suvenir gantungan kunci Chirimen dan titipan jajanan dari Sherly. Aku duduk di atas koper itu, melompat-lompat kecil layaknya pegulat SmackDown agar koper itu mau menutup.
"Mas Yoga, udah belum?! Taksinya udah nunggu di depan!" teriak Sherly dari lorong.
"Sabar, Sher! Ini sletingnya nyangkut di kain kimono bekas yang aku beli di loakan kemarin!" balasku ngos-ngosan.
Setelah adegan tarik-tambang dengan koper sendiri, kami akhirnya melesat menuju Stasiun Kyoto, lalu pindah ke kereta bandara. Di sepanjang jalan, aku tak henti-hentinya membungkuk sembilan puluh derajat kepada setiap pelayan Ryokan dan petugas stasiun sambil menggumamkan "Arigatou gozaimasu, arigatou, arigatou" sampai punggungku rasanya mau encok. Feby hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat tingkahku yang mendadak jadi duta kesopanan antarnegara.
Sesampainya di Bandara Internasional Kansai, sebuah kejutan menanti.
Saat check-in, petugas maskapai memberikan kami tiket dengan warna yang berbeda. Bukan lagi kelas ekonomi yang sempitnya minta ampun itu. Erik, dengan kekuasaan kartu kredit premiumnya, meng-upgrade tiket kepulangan kami menjadi Business Class.
Begitu kakiku menginjak kabin Business Class, duniaku kembali terguncang culture shock.
Kursinya tidak berdempetan! Masing-masing kursi memiliki bilik privasinya sendiri, terbungkus kulit mewah yang wangi. Jarak ruang kakinya begitu luas, aku bahkan bisa kayang di bawah sana kalau mau.
"Mas, duduknya di sini," tunjuk pramugari yang tersenyum sangat ramah, jauh lebih ramah daripada kasir minimarket dekat kosanku.
Aku menghempaskan tubuhku. Empuk banget, gila. Tak lama, seorang pramugari bule datang membawakan nampan berisi handuk kecil putih yang mengepulkan uap panas (oshibori). Karena aku terbiasa jadi kuli bangunan yang kalau gerah langsung ngelap keringat, aku mengambil handuk panas itu dan tanpa ba-bi-bu langsung kugosokkan ke wajah, leher, hingga ke belakang telinga.
"Seger bener, Mbak!" gumamku tanpa dosa.
Feby, yang duduk di bilik seberangku, langsung menutupi wajahnya dengan bantal kabin. Bahunya bergetar hebat menahan tawa. "Mas Yogaaa... itu handuk buat ngelap tangan doang sebelum makan, bukan buat mandi junub!" bisiknya histeris.
Aku mematung, menatap handuk di tanganku yang kini agak bernoda debu leher. Pramugari bule itu hanya tersenyum kaku menahan geli. Sial, malu-maluin warga se-Kecamatan ini mah.
Penderitaanku belum selesai. Di sandaran tanganku terdapat panel penuh tombol yang mirip dashboard pesawat ruang angkasa. Saat makanan pembuka disajikan—seonggok daging steak seukuran kotak korek api—aku iseng menekan salah satu tombol bergambar kursi miring.
WUUUSSHH.
Tiba-tiba sandaran kursiku merebah rata dengan kecepatan tak terduga. Tubuhku meluncur ke belakang hingga posisiku menjadi tiduran 180 derajat menatap plafon pesawat, sementara piring steak mungil itu nyaris tumpah ke dadaku.
"Mas Yoga ngapain tiduran pas lagi makan?!" jerit Sherly dari belakang, tak kuat lagi menahan ngakak.
Aku panik memencet semua tombol secara acak agar kursiku kembali tegak. Sepanjang tujuh jam penerbangan itu, aku memilih duduk bersendekap kaku, tak berani menyentuh apa pun selain gelas air putih hangat, takut tanpa sengaja memencet tombol kursi pelontar.
Tujuh Jam Kemudian.
Roda pesawat menghantam aspal Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Embusan udara dari garbarata langsung menyapaku dengan kombinasi mematikan: kelembapan 90% dan suhu 33 derajat Celcius. Hawa dingin Kyoto resmi menguap, digantikan oleh realita Jakarta yang gerah dan lengket.
Kami mengambil bagasi. Saat menarik koperku dari conveyor belt, roda koper bututku akhirnya menyerah. Salah satu rodanya pecah, membuat kopernya terseret miring.
"Mbak Feby, Sher, duluan aja jalan ke pintu kedatangan. Aku mau ke toilet bentar sambil benerin posisi tas ini, berat banget ditarik miring," kataku, tertinggal beberapa puluh meter di belakang mereka.
"Oke, Mas! Kita tunggu di gate kedatangan luar negeri ya!" lambai Feby.