ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #32

Kuli Palugada Dan Kesunyian Kamarnya

Hari-hari berikutnya setelah kepulanganku dari Jepang terasa seperti aku sedang berjalan di dasar lautan tanpa tabung oksigen. Tekanan airnya meremukkan dadaku dari segala arah, sementara waktu berjalan dalam gerak lambat yang menyiksa.

Cahaya Komorebi yang keemasan itu telah pudar, digantikan oleh lampu neon kamarku yang berkedip redup dan menyedihkan. Kosan berukuran 3x3 meter ini kembali menelanku hidup-hidup. Bau apak kasur busa dan udara Jakarta yang pengap menjadi satu-satunya teman setiaku.

Ponselku yang layarnya retak itu beberapa kali bergetar. Erik. Pria baik hati itu tidak henti-hentinya menghubungiku.

“Yog, sibuk ga? Keluar yuk, gue traktir makan siang sekalian mau cerita nih.” “Yog, main padel lagi ga lu? Anak-anak nanyain tuh.”

Setiap kali namanya muncul di layar, ada rasa ngilu yang menusuk ulu hati. Aku tidak menghilang, aku tidak punya hak untuk bertingkah seperti korban karena sejak awal aku memang bukan siapa-siapa di kisah mereka. Aku tetap membalas pesan Erik dan Feby, tapi dengan mode pertahanan absolut. Sangat pasif, sangat singkat, dan sangat dingin.

“Maaf, Rik. Lagi sibuk kejar setoran benerin AC Sentral di ruko baru.” Sebuah kebohongan. Padahal aku hanya terbaring menatap langit-langit berjam-jam hingga pandanganku mengabur.

Mencoba waras, aku memaksakan diri keluar dari kamar. Menghidupkan mesin Belalang Hitam-ku dan memacunya membelah jalanan aspal ibukota di tengah malam. Angin malam yang kotor dan berdebu menampar jaketku. Suara knalpot bising dan klakson kendaraan seolah menjadi soundtrack kehancuranku. Namun, yang terjadi justru di luar kendaliku.

Di balik kaca helm full-face yang gelap, tanpa suara dan tanpa isakan, air mataku menetes deras. Membasahi busa pelindung pipi, mengaburkan pandanganku hingga pendaran lampu jalanan Sudirman terlihat seperti garis-garis cahaya yang meleleh. Aku, pria kuli yang kebal dengan kerasnya jalanan, menangis sesenggukan di atas motor bututku sendirian.

Aku menepi ke sebuah warung tenda, memesan nasi goreng gila favoritku—makanan yang biasanya selalu berhasil menaikkan mood-ku. Tapi ketika suapan pertama menyentuh lidahku, rasanya hambar. Tekstur nasi itu terasa seperti kerikil pasir, dan bumbunya terasa seperti serbuk karton. Aku tidak bisa menelannya. Ujung tenggorokanku menyempit. Tidak ada makanan di dunia ini yang terasa enak ketika jiwamu sedang mati rasa. Aku meninggalkan piring yang masih penuh itu setelah membayar, membiarkan si penjual menatapku kebingungan.

Lihat selengkapnya