ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #34

Kehancuran Sang CEO

Di bawah langit biru jernih Seminyak, deburan ombak Bali berpadu sempurna dengan tawa renyah di sebuah vila mewah berdesain tropis. Erik duduk bersandar di kursi rotan, menyesap kopi single origin-nya sambil sesekali bertukar canda dengan ibunda Feby. Di ujung kolam renang pribadi itu, Feby tampak cantik dengan dress musim panasnya, tersenyum bahagia menatap cincin berlian yang baru melingkar di jarinya.

Bagi Erik, ini adalah puncak utopia kehidupannya. Namun, pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keindahan Bali, ribuan kilometer di sebuah ruang gelap berbau asap rokok di Jakarta, seorang arsitek kehancuran baru saja menekan tombol Enter.

Reno memulai eksekusi mahakaryanya. Tiga pilar bisnis utama Erik Julian Santoso siap diratakan dengan tanah.

Stage 1: Hujan Api di Kerajaan Otomotif

Sasaran pertama Reno adalah empat unit showroom mobil mewah milik Erik yang mendulang miliaran rupiah per bulan.

Di depan monitornya yang memancarkan pendaran biru, jemari Reno menari di atas keyboard mekanis. Ia membobol protokol keamanan berlapis dari perusahaan asuransi raksasa yang menaungi seluruh aset kendaraan Erik. Layaknya hantu di dalam mesin, script yang ditulis Reno menyusup masuk, menemukan nomor polis (Policy Number) dan Vehicle Identification Number (VIN) dari ratusan mobil di showroom Erik, lalu mengeksekusi perintah penghapusan permanen (Delete Record). Dalam hitungan detik, ratusan kendaraan senilai ratusan miliar rupiah itu berstatus "Tidak Terlindungi".

Setelah sistem pengamannya dilucuti, Reno turun ke lapangan.

Pukul 02:30 dini hari. Reno berdiri di gang gelap, tepat di samping gedung showroom utama Erik di kawasan elit Jakarta Selatan. Berbekal seragam teknisi utilitas palsu dan kartu akses yang dikloning melalui RFID scanner jarak jauh, ia menyelinap masuk melewati pos penjagaan tanpa memicu satu pun alarm.

Reno tidak membawa bensin atau bom rakitan layaknya preman jalanan. Itu terlalu amatir. Otaknya bekerja layaknya Michael Scofield yang memanipulasi kelemahan arsitektur gedung.

Ia menuju ruang panel listrik utama (Main Distribution Panel). Membuka boks baja itu, Reno memotong kabel sensor keamanan Circuit Breaker, lalu menjembatani arus bertegangan tinggi secara langsung menuju sakelar daya area display mobil hybrid dan electric vehicle (EV). Ia mengatur timer digital kecil ke sistem pendingin ruangan (HVAC), mematikan sirkulasi udaranya secara otomatis. Ruangan tertutup itu akan menjadi oven pemanggang raksasa.

Begitu Reno melangkah keluar dan menghilang ditelan kegelapan gang, timer itu menyala. Arus listrik raksasa menghantam sistem baterai lithium-ion di dalam showroom. Percikan api biru menyambar hebat, melelehkan kabel-kabel tembaga dengan bau ozon yang tajam.

Lihat selengkapnya