ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #35

Sang CEO Memasuki Neraka Sang Iblis

Liburan yang direncanakan selama satu minggu penuh itu hancur berantakan di hari ketiga.

Napas Erik terengah-engah. Jas mahalnya yang biasanya rapi kini berantakan, dasinya dilonggarkan paksa. Bersama Feby yang menggenggam tangannya dengan wajah penuh kepanikan, mereka berlari menyusuri terminal keberangkatan Bandara Ngurah Rai, mengejar penerbangan pertama yang bisa membawa mereka kembali ke Jakarta. Kerajaan bisnis yang dibangun Erik dari nol sedang terbakar di depan matanya tanpa ia tahu siapa pelakunya.

Saat taksi bandara yang membawa mereka baru saja keluar dari kawasan Kuta, ponsel Erik bergetar hebat. Panggilan masuk. Bukan dari manajernya. Bukan dari investor. Di layar ponsel mahal itu, hanya tertera tulisan: Unknown Number.

Erik mengusap wajahnya yang kusut dengan tangan gemetar, lalu menekan tombol hijau.

"Halo? Siapa ini?! Kantor gue lagi krisis, kalau ini bukan urusan penting, gue tutup!" bentak Erik kalap, urat lehernya menonjol.

Dari speaker ponsel itu, tidak terdengar suara napas manusia. Hanya ada suara static statis, sebelum sebuah suara metalik, terdistorsi, dan terdengar sangat sintetis layaknya robot mengalun masuk ke gendang telinga Erik.

"Halo, Erik... si CEO muda yang nyaris sempurna."

Bulu kuduk Erik berdiri. Feby yang duduk di sebelahnya memucat mendengar suara aneh yang menggema dari ponsel itu.

"Kerajaan besarmu terbakar dengan sangat indah malam ini. Asapnya sangat pekat, bukan?" lanjut suara robotik itu tanpa intonasi.

"Siapa lu anjing?! Lu yang ngelakuin semua ini ke perusahaan gue?! Lu mau meras gue berapa, hah?!" teriak Erik histeris.

Terdengar suara kekehan elektronik yang menyayat saraf.

"Aku tidak butuh uangmu yang sekarang sudah jadi abu, Erik. Ini bukan soal uang." Suara itu menjeda, membiarkan ancaman itu meresap ke dalam sumsum tulang Erik. "Kau sudah merebut Feby dariku. Kau berani melingkarkan cincin itu di jarinya. Kau rebut surgaku... maka sebagai gantinya, kuberikan neraka padamu. Bersiaplah, karena ini baru permulaan."

Klik. Sambungan diputus.

Erik mematung menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura dominasi seorang pemimpin, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang baru saja menyadari bahwa monster di bawah tempat tidurnya itu benar-benar nyata. Di sebelahnya, Feby menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat dicekam teror absolut. Malam panjang mereka baru saja dimulai.


Di dalam kamarnya yang pengap, Reno tidak sedang tertidur. Ia sedang menjadi konduktor dari sebuah simfoni kehancuran. Layar monitornya memancarkan deretan kode berwarna hijau yang terus merayap turun dengan kecepatan konstan.

Reno menekan tombol Enter dengan satu jari.

Dalam sepersekian detik, puluhan ribu akun bot ternakannya, yang sengaja ia rawat selama berbulan-bulan di berbagai peladen (server) proksi luar negeri, bangkit dari tidurnya. Pasukan digital tak kasat mata itu mulai menyerbu masuk ke dalam algoritma Instagram, X (Twitter), dan TikTok secara bersamaan dan terkoordinasi.

Senjata yang mereka bawa bukanlah peluru, melainkan puluhan keping foto dan video pendek yang mengerikan.

Lihat selengkapnya