ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #36

Teror Iblis Kepada Sang Bidadari

Di dalam kabin Alphard putih yang melaju membelah kemacetan tol, aku meringkuk memeluk lutut. Udara AC yang biasanya sejuk kini terasa membekukan tulang. Tanganku tak berhenti bergetar memegang ponsel yang sedari tadi terus menyiksa sarafku dengan rentetan getaran. Layarnya dipenuhi lautan DM Instagram dan pesan WhatsApp—ratusan pertanyaan, makian, dan tautan berita yang tak sanggup kubaca.

Aku terisak, menceritakan semua kegilaan di bandara tadi kepada Sherly, Aldo, dan Dimas yang duduk mengelilingiku dengan wajah tegang.

Saat mobil kami berbelok memasuki jalan perumahanku dan melambat di depan gerbang, pandanganku yang buram oleh air mata menangkap sebuah siluet di luar kaca jendela yang digelapkan. Di seberang jalan, tepat di bawah lampu jalan yang temaram, berdiri seorang pria kurus berkacamata. Jaket hitamnya menelan postur tubuhnya.

Pria itu menatap lurus ke arah kaca mobil tempatku duduk. Dan perlahan, bibirnya menarik sebuah senyum yang kaku dan terlampau lebar.

Bulu kudukku meremang sejenak, tapi otakku yang sudah kelebihan muatan menolak memprosesnya sebagai ancaman. Mungkin hanya orang lewat. Mungkin paparazzi. Aku tak mempedulikannya dan bergegas turun begitu gerbang terbuka, berlindung di dalam rumah.

Beberapa jam kemudian, ruang tamuku dipenuhi aroma parfum mahal. Teman-teman influencer dan sosialitaku datang menjenguk. Mereka memelukku bergantian, menyodorkan tisu, dan mendengarkan tangisanku dengan wajah penuh simpati.

"Udah, Feb. Kita semua tau kok lu sama Kak Erik itu korban orang iseng," ucap Steve, salah satu teman kreatorku, sambil merangkul bahuku. Ia mengangkat iPhone-nya, memotret wajahku yang tersenyum pucat, lalu mengunggahnya ke IG Story dengan caption: "Keep strong Feby! Truth will reveal!" Teman-temanku yang lain melakukan hal yang sama.

Namun, kehangatan itu hanya bertahan kurang dari lima belas menit.

Tiba-tiba, ponsel Steve berbunyi nyaring. Diikuti oleh bunyi notifikasi dari ponsel teman-temanku yang lain. Nyaris serentak.

Steve merogoh sakunya. Aku melihat langsung bagaimana darah seketika menguap dari wajah Steve. Kulitnya memucat seputih kertas. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat.

"Steve? Kenapa?" tanyaku bingung.

Tanpa bersuara, Steve memutar layar ponselnya ke arahku. Jantungku serasa berhenti berdetak.

Di layar WhatsApp Steve, terdapat sebuah foto dari nomor tak dikenal. Itu adalah foto yang baru saja ia unggah ke IG Story beberapa menit lalu—foto kami berdua. Tapi gambarnya telah dimanipulasi dengan sangat sempurna, sangat menjijikkan. Di foto itu, tanganku tidak memegang tisu, melainkan sedang membuka kemeja Steve, dan wajah kami berdua diedit sedang berciuman panas dengan sudut bibir yang nyaris tak bisa dibedakan dengan aslinya.

Di bawah foto laknat itu, terdapat sebuah pesan ancaman dan sebuah tautan live location.

"Jangan dekati Feby, atau foto ini akan jadi konsumsi nasional besok pagi. Aku tau kamu sedang duduk di sofa abu-abu itu." Tautan sherloc itu menunjuk tepat dengan akurasi meter pada titik koordinat rumahku.

Bukan cuma Steve. Aku menatap berkeliling. Semua teman-temanku menatap layar ponsel mereka dengan raut wajah horor yang sama. Mereka semua menerima manipulasi foto menjijikkan dengan ancaman yang identik.

"Feb..." suara Steve bergetar, ia mundur selangkah menjauhiku layaknya aku adalah penderita kusta. "Gue... gue harus balik sekarang, Feb. Ada urusan. Sori banget."

"Steve, tunggu—"

"Gue juga balik ya, Feb!" "Sori Feb, manajer gue nyariin!"

Lihat selengkapnya