Matahari merangkak naik menuju puncaknya, memanggang aspal Jakarta dengan hawa panas yang menyengat. Namun, di dalam rumah Feby, udara terasa beku dan mencekam.
Tim Feby : Aldo, Dimas, dan Sherly telah tiba sejak pagi. Mereka duduk mengelilingi bos mereka yang terlihat seperti cangkang kosong. Wajah Feby pucat pasi, kantung matanya menghitam, dan bibirnya kering. Di depan sebuah ring-light yang menyala terang, Feby baru saja memaksakan diri merekam video klarifikasi untuk Instagram dan TikTok-nya. Dengan suara bergetar dan air mata yang tertahan, ia memohon pada publik untuk percaya bahwa foto-foto menjijikkan itu adalah hasil rekayasa AI buatan orang jahat.
Namun, di era di mana kebohongan menyebar lebih cepat daripada kebenaran, kolom komentarnya tetap menjadi lautan caci maki.
"Ci, kita keluar sebentar yuk," ajak Sherly lembut, menutup paksa layar ponsel Feby. "Udah tiga hari Cici ngurung diri di kamar. Udara di rumah ini udah ga sehat, apalagi kita ga tau di sudut mana orang gila itu nanam spycam. Kita cari kopi di ruko depan perumahan aja. Cici butuh napas."
Meski awalnya menolak, Feby akhirnya menyerah. Dengan mengenakan hoodie kebesaran, kacamata hitam, dan masker medis yang menutupi separuh wajahnya, ia berjalan diapit oleh Aldo dan Dimas.
Mereka tiba di sebuah kafe berdesain industrial yang sepi pengunjung menjelang siang itu. Aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi mentega dari pastry sempat memberikan ilusi kedamaian selama beberapa menit.
Sampai kemudian, Dimas yang sedang mengaduk Americano-nya tiba-tiba berhenti bergerak. Matanya menatap kaku melewati bahu Feby.
"Ci..." bisik Dimas tegang.
Feby menoleh perlahan. Sisa-sisa kedamaian di dadanya menguap seketika, digantikan oleh sengatan teror sedingin es yang merambat dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun.
Hanya berjarak lima meter dari meja mereka, duduk seorang pria kurus berkacamata dengan jaket hitam. Reno. Pria itu tidak sedang minum, tidak sedang melihat ponsel. Ia duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja, dan matanya menatap lurus, menguliti wajah Feby di balik masker medisnya.
Dan senyum itu. Senyum kaku yang terlalu lebar, memamerkan deretan giginya dengan cara yang sangat tidak natural, persis seperti predator yang sedang mengawasi mangsanya di dalam kandang kaca.
Napas Feby mulai tersengal. Udara di dalam kafe mendadak terasa hampa. "A... ada apa ya, Mas? Kenapa ngeliatin saya begitu?" suara Feby bergetar, mencoba memberanikan diri.
Reno tidak menjawab. Ia tidak berkedip. Ia hanya melebarkan senyumnya satu sentimeter lebih panjang.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Feby diam-diam mengeluarkan ponselnya di bawah meja, memotret pria itu secara sembunyi-sembunyi, lalu mengirimkannya ke nomor Erik beserta pesan singkat: "Kak, orang aneh itu ngikutin aku."
Melihat bosnya ketakutan, amarah maskulin Aldo dan Dimas tersulut. Keduanya bangkit berdiri serentak, berjalan menghampiri meja Reno dengan kepalan tangan mengeras.
"Woi, Bangsat! Lu ngapain ngeliatin bos gue kayak gitu, hah?! Pergi nggak lu dari sini!" bentak Aldo keras, bersiap menarik kerah jaket hitam pria itu.
Namun, Reno tidak mundur seinci pun. Senyumnya tak luntur. Ia mendongak menatap Aldo dan Dimas dari balik kacamata tebalnya, lalu bersuara dengan nada datar yang terlampau tenang, nyaris seperti suara mesin.
"Sentuh aku satu sentimeter saja, dan detik ini juga aku akan membuat laporan visum atas pasal penganiayaan berat," ucap Reno tanpa intonasi. "Aku sedang duduk di kafe umum. Aku tidak menyentuh, tidak merekam, dan tidak mengucapkan satu pun ancaman. Kalau kalian memukulku, dalih membela diri apa yang akan kalian gunakan di pengadilan nanti? Kalian yang akan membusuk di penjara, dan Feby akan semakin sendirian."
Langkah Aldo dan Dimas terhenti. Kepalan tangan mereka tertahan di udara. Logika hukum yang dilontarkan sosiopat itu mengikat tangan mereka dengan rantai tak kasat mata. Mereka buntu.