Di saat Yoga mengira Feby sedang berbahagia memilih gaun pengantin, kenyataan yang terjadi di rumah gadis itu adalah sebuah skenario film horor psikologis yang tak berujung.
Teror Reno telah berevolusi dari dunia maya menuju ke dunia fisik.
Siang itu, jalanan di depan rumah Feby berubah menjadi pasar malam yang kacau. Puluhan pengemudi ojek online berseragam hijau dan oranye berbaris menutupi jalan masuk. Suara deru knalpot dan klakson bersahut-sahutan memekakkan telinga.
"Atas nama Mbak Feby! Tagihan GoFood sate taichan lima ratus ribu!" "Misi Pak! Ini ada paket COD kulkas mini dari Shopee, tagihannya dua juta!" "Ini GrabFood martabak manis sepuluh kotak pesanan Mbak Feby gimana ini, Pak?! Saya nunggu dari tadi!"
Dua bodyguard bertubuh kekar berseragam safari hitam yang disewa Erik tampak kewalahan dan kebingungan menghadapi puluhan kurir dan driver yang marah menuntut pembayaran. Mereka memblokir pagar, mencoba menjelaskan bahwa pemilik rumah tidak pernah memesan apa pun.
Di dalam kamar di lantai dua, Feby meringkuk di sudut ruangan. Ia menutup kedua telinganya dengan bantal, menangis tersedu-sedu mendengar keributan dari luar jendela. Serangan spam order fiktif itu sudah berlangsung sejak pagi, menguras emosi dan sisa-sisa kewarasannya.
Namun, kengerian di luar rumah belum seberapa dibandingkan neraka di dalam rumahnya sendiri.
Malam harinya, setelah gerombolan driver akhirnya bubar dan rumah kembali sunyi, Feby berjalan gontai menuju dapur untuk mengambil air minum. Wajahnya sangat kuyu, tenaganya habis.
Saat ia sedang menuangkan air ke dalam gelas... PIP!
Lampu Smart TV di ruang keluarga mendadak menyala sendiri. Menyusul kemudian, layar sentuh di Smart Fridge (kulkas pintarnya) berkedip. Lalu lampu indikator di atas Bluetooth Speaker Harmon Kardon di sudut ruangan berubah warna menjadi biru terang.
Feby membeku. Gelas di tangannya bergetar.
Hening sejenak. Lalu, dari seluruh penjuru ruangan yang terkoneksi dengan jaringan Wi-Fi rumah itu, terdengar sebuah suara.
Bukan suara robotik, melainkan suara sintesis AI yang meniru intonasi manusia, terdengar serak, basah, dan terlampau intim. Suara itu menggema keluar dari speaker TV, kulkas, dan pengeras suara secara serentak.
"Feby sayang..."