ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #40

Kuli Palugada Kembali Untuk Sang Bidadari

Aku baru saja bangkit dari bangku taman kota yang berdebu, tempat biasa aku melamun sambil menangis tipis-tipis, berniat berjalan kembali ke kosan untuk meratapi nasibku sambil menatap langit-langit berjam-jam lagi.

Trrrttt.

HP butut di saku celanaku bergetar pendek. Ada pesan masuk. Aku menariknya keluar, ada pesan WA masuk.

Pesan dari Sherly. Isinya panjang, penuh dengan tanda seru, menceritakan garis besar tentang teror tanpa henti, skandal aneh, dan kondisi bosnya yang sekarat.

Aku membaca pesan itu dengan rahang mengeras. Ada rasa nyeri yang kembali berdenyut di dadaku, tapi ego dan rasa patah hatiku yang masih berdarah segera memasang tembok pertahanan. Ini bukan urusanku lagi, batinku getir.

Dengan malas dan setengah enggan, jempolku mengetik balasan datar.

Aku: "Serahin semuanya ke calon suaminya aja, Sher. Erik itu CEO, dia punya uang, punya power, punya segalanya buat nyelesain masalah ginian. Aku ini cuma kuli, bisa apa?"

Aku menekan send. Berharap itu menjadi kalimat penutup dari bagian hidupku yang sudah usai. Namun, balasan Sherly masuk secepat kilat.

Sherly: "Mas Yoga beneran gatau apa-apa?! Mas kegegeran sosmed akhir-akhir ini?! Mas ga buka IG atau TikTok sama sekali semenjak pulang dari Jepang?!"

Aku mengernyit. Sosmed? Buat apa aku membuka aplikasi sialan yang isinya cuma bikin mentalku sendiri down melihat mereka mesra-mesraan?

Sherly: "Mas, tolong install IG sekarang. Lihat sendiri apa yang terjadi sama Ci Feby sama Kak Erik. Kumohon, Mas."

Ada nada kepanikan yang sangat absolut dari ketikan Sherly. Rasa penasaranku perlahan membobol tembok egoku. Aku membuka PlayStore. Membutuhkan waktu beberapa menit dengan sinyal provider murahanku untuk kembali mengunduh aplikasi laknat itu. Sial, sudah lambat, HPku ngehang pula.

Begitu aplikasi terpasang dan aku login, duniaku mendadak seperti ditampar oleh realita yang teramat kejam.

Tidak ada foto prewedding di pantai Bali. Tidak ada pameran gaun pengantin.

Layar berandaku langsung dibombardir oleh headline berita dan ratusan akun gosip. 'Kerajaan Bisnis Erik Julian Kolaps!', 'Sertifikat Bodong Properti!', 'Skandal Ciuman CEO dengan Deretan Artis!'.

Otakku mulai memproses informasi ini dengan cepat. Ini bukan kesialan beruntun. Ini sabotase berskala masif. Seseorang baru saja mengebom kehidupan Erik hingga rata dengan tanah.

Namun, yang membuat darahku benar-benar mendidih hingga rasanya menyentuh titik didih tertinggi adalah saat aku mengetik nama Feby di kolom pencarian.

Mataku terbelalak lebar. Tanganku yang memegang ponsel bergetar hebat. Jantungku serasa diremas dan ditarik paksa dari rongga dadaku.

Ratusan foto Feby tersebar. Tapi itu bukan foto biasa. Dengan instingku yang sering mengkalkulasi jatuhnya cahaya di lensa kamera, aku langsung tahu bahwa itu adalah manipulasi Deepfake AI. Wajah gadis yang sangat kuhormati, yang senyumnya kujaga layaknya barang suci, ditempelkan ke tubuh tak berbusana dalam adegan-adegan yang membuat perutku melilit mual. Dan di bawahnya... ribuan komentar hujatan kotor dari netizen menyiksa kolom komentar gadis itu.

Bangst...* makian tertahan meledak di tenggorokanku. Mataku memerah. Rahangku bergemeretak menahan amarah yang begitu purba.

Tring. Pesan WhatsApp Sherly kembali masuk ke layar atas.

Sherly: "Gimana, Mas? Udah lihat kan?"

Lihat selengkapnya