ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #41

Pembalasan Si Kuli Palugada

****

Hari belum terang ketika Reno membuka pintu gerbang rumah townhouse-nya yang sepi di kawasan BSD. Ia sudah merapikan jaket hitamnya, siap kembali berangkat menjadi bayangan neraka bagi Feby.

Namun, saat sebelah pintu gerbang itu bergeser terbuka... langkah Reno terhenti mendadak.

Di depan gerbangnya, hanya berjarak satu meter, berdiri seorang pria berjaket kemeja flanel. Pria itu berdiri santai, dengan kedua tangan di dalam saku celana. Dan ia tersenyum. Sebuah senyum yang sangat tenang, lurus, dan menembus tepat ke dalam retinanya.

Reno tersentak mundur selangkah. Jantungnya berdetak kencang akibat kaget.

"Siapa kamu?" tanya Reno curiga, matanya memindai pria itu dari atas ke bawah.

Yoga tidak menjawab. Mulutnya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, masih dengan senyum yang sama, lalu menatap lurus ke arah mata Reno tanpa berkedip.

Mendapat perlakuan absurd itu, Reno mendengus kesal. Mengira itu hanya orang gila yang nyasar, Reno mengunci pintu rumahnya dan mengeluarkan mobil Innova-nya dari halaman. Saat mobil itu mundur ke jalanan, Reno menoleh ke spion. Pria berflanel itu masih berdiri di posisi yang sama, menghadap ke arah mobilnya, dan masih tersenyum.

Bulu kuduk Reno meremang halus, tapi ia menepisnya dan menginjak pedal gas menuju rumah Feby.

Satu jam kemudian, Reno tiba di seberang rumah Feby. Ia memarkirkan mobilnya agak jauh diluar perumahan mewah itu, lalu berjalan kaki menuju spot favoritnya di bawah lampu jalan.

Begitu ia tiba di sana, napas Reno tercekat.

Di bawah lampu jalan itu, bersandar di tiang listrik yang biasa ia tempati... pria berflanel tadi sudah berdiri di sana.

Yoga.

Jarak mereka kini hanya terpaut tiga meter. Yoga tidak membawa senjata. Ia hanya melipat tangannya di dada, menatap Reno, dan... tersenyum. Senyum yang sama persis dengan yang ia berikan di depan gerbang rumah Reno pagi tadi.

"Kamu ngapain di sini, hah?!" bentak Reno, suaranya mulai naik satu oktaf karena merasa ruang pribadinya diinvasi. "Kamu ngikutin aku?!"

Yoga tak membalas. Ia hanya menatap Reno dalam diam, senyumnya justru semakin melebar dengan cara yang sangat tidak nyaman.

Selama satu jam penuh, Reno mencoba mengabaikan Yoga dan fokus menatap jendela rumah Feby. Tapi keberadaan Yoga yang terus-menerus menatapnya dari samping dengan senyuman itu membuat saraf Reno menegang hebat. Fokusnya hancur. Ia tidak tahan.

Lihat selengkapnya