ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #42

Kuli Palugada Menangkap Sang Iblis

Kembali ke rumah Reno.

Pagi harinya, Reno terbangun dengan mata merah dan lingkaran hitam pekat di bawah matanya. Ia mengecek monitor CCTV-nya. Kosong. Pria berflanel itu sudah tidak ada di depan gerbang.

Reno menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Dia sudah pergi, batinnya mencoba menghibur diri.

Ia mandi, berpakaian rapi, bersiap untuk kembali ke misinya meneror Feby. Namun, begitu ia membuka pintu utama rumahnya...

DEG.

Jantung Reno seolah berhenti berdetak.

Tepat satu jengkal di depan pintu rumahnya... Yoga berdiri tegap.

Yoga tidak di depan pagar lagi. Ia berada di dalam pekarangan rumah Reno, tepat di depan hidungnya. Dan senyum itu masih terpatri sempurna di wajahnya.

"GAAAAK!" Reno berteriak panik, refleksnya mengambil alih. Mengira pria itu adalah pembunuh bayaran yang dikirim Erik untuk menghabisinya, Reno menabrak bahu Yoga dengan keras, menerobos keluar. Ia berlari panik ke arah gerbang, membukanya yang entah kenapa tidak terkunci, dan berjalan cepat nyaris berlari menyusuri jalanan perumahan yang masih sepi.

Di belakangnya, terdengar suara langkah sepatu yang mendekat perlahan.

"Kenapa lari sih...?"

Suara Yoga akhirnya memecah kebisuan. Tapi suara itu tak terdengar seperti kuli yang ramah. Suaranya rendah, serak, bergetar, dan diucapkan dengan intonasi psikopat yang terlampau tenang hingga membuat darah Reno mendidih ketakutan.

"Aku cuma ingin ngobrol bentar kok... Aku ga akan menyakitimu..." bisik Yoga lagi, langkahnya semakin dekat.

Reno berhenti mendadak, membalikkan badannya. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya. Dadanya naik-turun.

"PERGI ANJING! JANGAN DEKETIN GUE!" bentak Reno histeris, suaranya pecah saking takutnya. "GUE TERIAK MALING LU YAAA!"

Namun Yoga tidak berhenti. Ia terus melangkah mendekat. Perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Senyumnya semakin mengerikan. Wajahnya semakin menunduk mendekati wajah Reno.

Rasa takut di otak Reno berubah menjadi fight or flight response. Karena merasa terdesak, Reno mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, lalu mengayunkannya dengan seluruh sisa tenaganya ke arah wajah Yoga.

BUKK!

Pukulan telak menghantam tulang pipi kiri Yoga. Suaranya terdengar keras di jalanan sepi itu.

Tubuh Yoga terhuyung ke belakang, lalu jatuh berdebum ke aspal. Kepala belakangnya nyaris membentur trotoar. Sudut bibirnya langsung robek, meneteskan darah segar merah pekat yang mengalir ke dagunya.

Reno berdiri terengah-engah, matanya membelalak melihat tangannya sendiri yang memerah. Ia baru saja melakukan hal yang paling ia hindari selama ini: melakukan kontak fisik. Mengotori tangannya.

Dan saat Reno menatap ke bawah...

Yoga yang terbaring di aspal dengan bibir berdarah itu... terkekeh pelan. Ia mengangkat wajahnya menatap Reno.

Lihat selengkapnya