ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #43

Tangisan Sang Iblis

Ruang observasi di Markas Besar Kepolisian itu terasa sangat dingin. Bau kopi instan basi dan pendingin ruangan yang terlalu bising menciptakan atmosfer yang menyesakkan.

Di balik kaca cermin satu arah (one-way mirror), Erik Julian Santoso berdiri kaku. Kemejanya kusut. Di sampingnya, berjejer tiga pengacara korporat bertarif ratusan juta rupiah per jam, tampak mengusap wajah mereka dengan frustrasi.

Di seberang kaca, di dalam ruang interogasi berdinding kedap suara berukuran 3x3 meter, Reno duduk terborgol pada sebuah kursi besi. Pria berkacamata itu menunduk, wajahnya datar tanpa ekspresi. Sudah empat jam berlalu. Segala taktik interogasi, ancaman, hingga negosiasi ganti rugi telah dilontarkan oleh para penyidik dan pengacara Erik.

Hasilnya? Nol besar.

Reno hanya membuka mulut untuk satu hal: "Ya, saya memukul pria berflanel itu di jalan. Sisanya, saya tidak tahu apa-apa." Pintu ruang observasi berderit terbuka. Yoga melangkah masuk. Baju flanelnya masih menyisakan bercak darah kering di kerah, dan sudut bibirnya membengkak kebiruan.

"Gimana, Rik? Udah buka mulut dia?" tanya Yoga santai.

Erik menoleh. Rahangnya mengeras, matanya memerah karena kurang tidur dan putus asa. Ia menggeleng lemah.

"Ini buang-buang waktu, Yog," desis Erik, mengusap rambutnya kasar. "Seharusnya detik ini gue lagi di kantor, meeting darurat sama direksi buat klarifikasi pajak dan nahan investor yang mau narik modal! Tapi gue di sini, ngeliatin psikopat gila yang bungkam. Kita semua tahu dia dalangnya! Tapi tanpa pengakuan dan kunci enkripsi darinya, data asuransi dan properti gue bakal tetap hangus. Dia cuma bakal kena pasal penganiayaan ringan ke lu, Yog. Sementara perusahaanku hancur, namaku busuk, dan Feby... Feby bakal terus hidup dalam teror bayangan ini."

Yoga menatap Erik dalam diam. Dia sudah memperhitungkan ini sejak awal.

"Pengacara lu nyerah, Rik?" tanya Yoga sambil melirik ketiga pria berjas mahal yang kini sibuk menelepon atasan mereka.

"Mereka udah kehabisan cara hukum," jawab Erik getir.

"Kalau gitu, biar gue yang masuk ke dalam. Gue yang interogasi dia," tawar Yoga tenang.

Erik mengernyit. "Lu? Mau ngapain, Yog? Nyiksa dia sampai buka mulut? Malah lu yang dipenjara nanti."

"Enggak, gue akan melakukan sesuatu. Tapi gue punya dua permintaan mutlak kalau gue berhasil yang harus lu penuhi," ucap Yoga, menatap lurus ke mata Erik. "permintaan pertama: Bikin surat Restorative Justice. Apapun yang terjadi, gue sebagai korban pemukulan bakal mencabut laporan. Gue bakal ngampunin Reno dan bebasin dia."

Mata Erik membelalak. Wajahnya seketika memerah karena amarah yang meledak. Ia mencengkeram kerah kemeja Yoga. "LU GILA?! Lu udah susah payah nangkep dia, sekarang lu mau lepasin dia gitu aja?! Sama aja lu ngebiarin anjing gila ini balik neror Feby!"

Yoga tidak bergeming. Ia membiarkan kerahnya dicengkeram.

"Rik, jawab gue," balas Yoga dengan nada yang sangat rendah namun tajam. "Selama berminggu-minggu ini, dengan semua uang, power, bodyguard, dan detektif mahal lu... apa lu pernah sekali aja berhasil nyentuh dia?"

Genggaman Erik melemah.

"Siapa yang akhirnya berhasil bawa iblis itu duduk di kursi besi sana dengan borgol di tangannya?" lanjut Yoga.

"Elu, Yog..." bisik Erik, tangannya jatuh terkulai di sisi tubuh.

"Lantas, apa alasan lu buat ngeraguin langkah gue sekarang?"

Ruang observasi itu hening. Hanya terdengar suara dengungan AC. Erik menelan ludah yang terasa seperti pasir. Logikanya membenarkan setiap kata Yoga.

"Lalu... apa syarat kedua lu?" tanya Erik pasrah.

Yoga menarik napas panjang. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia menjawab. Matanya menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul samar di kaca satu arah.

"Setelah gue masuk ke dalam sana, dan keluar dari pintu ruangan itu... tolong, jangan pernah hubungi gue lagi, Rik. Hapus nomor gue. Dan... tolong sampaikan ucapan selamat tinggalku buat Feby."

Kening Erik berkerut dalam. Kebingungan total tergambar di wajahnya. "Hah? Apa maksud lu, Yog? Lu mau pergi ke mana?"

"Nggak apa-apa, Rik." Yoga tersenyum tipis, senyum yang menyimpan ribuan kepahitan yang tak terucapkan. "Lu itu sahabat terbaik gue yang pernah gue kenal, Rik. Lihat aja nanti saat gue di dalam sana. Lu bakal ngerti alasannya kenapa gue harus pergi. Bisa lu penuhin permintaan ini?"

Erik diam sesaat. Pikirannya buntu, tapi keputusasaan memaksanya mengangguk berat. "Ya... baiklah, Yog."

Tanpa aba-aba, Yoga maju selangkah dan memeluk Erik. Sebuah pelukan perpisahan antar laki-laki. Tepukan keras bersarang di punggung Erik.

"Lu orang baik, Rik. Lu pantes dapetin semuanya. Terima kasih atas pertemanan kita."

Erik membalas pelukan itu dengan kaku dan bingung. "Iya, Yog... sama-sama."

Yoga melepaskan pelukannya. Ia berjalan menghampiri penyidik yang berjaga di pintu. "Pak, minta kunci borgolnya."

"Tidak bisa, Mas. Prosedurnya pelaku harus tetap di—"

"Kasih aja, Pak. Saya yang tanggung jawab," potong Erik dengan suara tegas.

Penyidik itu akhirnya menyerahkan kunci besi kecil tersebut. Yoga mengambilnya, lalu merogoh sebuah koper kecil berbahan rotan yang sejak tadi ia bawa. Tidak ada yang tahu apa isinya.

Cklek. Pintu ruang interogasi terbuka.

Udara dingin langsung menyergap. Reno, yang sedari tadi menunduk menatap meja baja putih di depannya, perlahan mengangkat wajahnya. Kilatan kebencian terpancar dari balik kacamata tebalnya saat melihat Yoga masuk.

Namun, Yoga tidak menampilkan wajah sangar atau senyum psikopat seperti tadi pagi. Ia tersenyum sangat hangat. Senyum seorang kawan lama.

"Halo, Reno," sapa Yoga santai.

Reno membuang muka. "Apa mau lu? Lu mau nyiksa gue fisik di sini biar gue buka mulut?."

Yoga terkekeh pelan. Ia meletakkan koper rotannya di atas meja. Lalu, dengan gerakan yang membuat jantung polisi di ruang observasi nyaris copot, Yoga berjalan ke belakang kursi Reno, memasukkan kunci, dan... KLIK.

Borgol besi yang mengikat kedua tangan Reno terlepas.

Yoga membawa borgol itu beserta kuncinya, meletakkannya di sudut meja yang paling jauh, lalu menarik kursi baja dan duduk berhadapan dengan Reno. Di luar, Erik menahan napas, tangannya berkeringat dingin siap menekan tombol darurat jika Reno menyerang Yoga.

Reno memijat pergelangan tangannya yang memerah, menatap Yoga dengan tatapan tak percaya. "Lu mau main Good Cop, Bad Cop? Nggak mempan."

"Enggak, Reno. Gue cuma mau ngobrol aja," jawab Yoga, menyandarkan punggungnya santai.

"Ngobrol? Cih. Soal apa? Cepet masukin gue ke sel, gue udah muak ditanyain sama buaya-buaya berjas mahal di luar sana."

Yoga menopang dagunya, matanya menatap lekat ke arah Reno. "Soal apa lagi? Ya soal Feby lah."

Mendengar nama itu, pupil mata Reno sedikit melebar. Gerakan tangannya yang sedang memijat pergelangan terhenti.

"Udah berapa lama lu jadi follower Feby?" tanya Yoga dengan nada penasaran yang tulus.

Reno memicingkan mata, insting defensifnya masih tinggi. "Kenapa lu tanya gitu?"

"Gapapa. Gue juga fans-nya Feby kok," Yoga tersenyum lebar. "Walaupun gue kenal dia lewat jalur dikasih nasi kotak gratisan saat kegiatan bagi-bagi makan gratis yang disponsorin erik. Maklum, gue kuli palugada."

Lihat selengkapnya