Akhirnya teror itu benar-benar berhenti. Semua bisnis dan usahaku kembali bernapas. Aliran dana masuk dengan deras. Bahkan, karena aku kini "dianggap" sebagai sosok jenius yang mampu menundukkan Reno, sang Iblis Digital yang namanya begitu ditakuti di dunia bawah tanah, para investor raksasa justru semakin tunduk dan berebut memercayakan modal mereka padaku. Di mata mereka, aku adalah titan yang bisa menyelesaikan krisis apokaliptik sendirian.
Namun nyatanya, aku dipaksa oleh keadaan untuk menelan medali pahlawan ini mentah-mentah. Jika publik dan investor tahu bahwa aku sebenarnya lumpuh total melawan iblis itu, kepercayaan mereka akan menguap. Usahaku yang baru saja recovery akan runtuh kedua kalinya karena dinilai tidak memiliki kapabilitas krisis.
Aku terperangkap. Aku dianggap pahlawan oleh publik, Feby memujaku layaknya dewa penyelamatnya, tapi tak satu pun dari mereka tahu bahwa Yoga-lah yang memadamkan lautan api ini. Sendirian. Dengan caranya sendiri dan kini, pria itu telah pergi entah ke mana, membawa serta nuraniku.
Jujur saja, setiap kali aku duduk di ruang meeting ber-AC, berjabat tangan dengan calon investor, dan mendengar pujian mereka atas "kecerdasanku"... aku memang tersenyum, tapi hatiku membusuk di dalam. Rasanya aku ingin menggebrak meja mahogani itu dan berteriak, 'Tidak! Aku pengecut yang tidak berdaya! Neraka ini dipadamkan oleh seorang kuli palugada yang bahkan tidak pernah kalian bayangkan seperti apa orangnya!'
Sore ini, aku berusaha membuang rasa muak pada diriku sendiri di arena gym.
Buk... buk.. buk...
Sarung tinjuku beradu keras dengan focus mitts (bantalan tangan) berbahan kulit milik pelatihku. Bau keringat dan karet matras mendominasi indra penciumanku. Aku memukul dengan tenaga penuh, berharap rasa sakit di otot bahuku bisa meredam suara-suara di kepalaku.
"Good, Erik! Good!" teriak pelatihku.
Buk... buk... BUKK! Pukulanku konstan, merobek udara dengan suara nyaring.
"Bagus, Erik! Lanjut! Inilah kekuatan seorang pahlawan kita!"
Deg.
Satu kata itu. Pahlawan.
Kata itu masuk ke gendang telingaku bagai peluru. Otot lengan kananku mendadak kaku. Ayunan pukulanku meleset jauh hingga aku nyaris tersungkur ke depan. Napasku tiba-tiba tersengal, paru-paruku seolah menyusut seukuran kepalan tangan.
"Eii... Erik? You okay, man? Lu kenapa?" Pelatihku menurunkan bantalannya, menatapku cemas.
Aku mundur dua langkah, bertumpu pada lututku sendiri. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir masuk ke mataku, terasa perih.
"Hosh... hosh... nggak apa-apa, Coach. Gue... gue kurang istirahat," bohongku. Padahal, konsentrasiku hancur lebur hanya karena satu julukan itu.
Sialan. Otakku menolak gelar itu sedemikian rupa hingga memicu serangan panik. Aku menghentikan sesi latihanku dan melepas sarung tinju dengan tangan gemetar.
Saat aku berjalan menuju pintu keluar dengan handuk melingkar di leher, sosok Gregori, pria ekspatriat pemilik mega gym ini, menghampiriku dengan tawa lebarnya yang menggema.
"Hello, sobat!" sapanya dengan logat Amerika yang kental, menepuk bahuku keras-keras. Aroma parfum musk yang kuat menguar dari tubuh besarnya.