ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #45

Sang CEO dan Hari Ulang Tahunnya

Hari demi hari, rutinitas ini terus memakan jiwaku. Investor berdatangan. Ucapan selamat, karangan bunga, pujian kekaguman. Semuanya bertubi-tubi menghantamku. Aku yang biasanya ceria, optimis, dan selalu mendominasi percakapan, kini lebih sering diam, mengunci diri di ruang kerja, dan melamun menatap kosong ke arah jendela kaca gedung.

Malam ini, aku memacu mobil sport-ku menuju rumah Feby. Ia tiba-tiba mengirim pesan, memintaku datang karena ada "pertemuan penting".

Aku memarkirkan mobil di halaman rumahnya. Keningku berkerut saat turun dari mobil. Hmm? Kok sepi banget gelap gulita? Tapi... kenapa banyak mobil terparkir berjejer di depan pagar luar? Ada acara apa ini?

Firasatku mulai tidak enak. Aku berjalan mendekati pintu utama dan menekan bel.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Suara bel menggema di dalam rumah, tapi tak ada langkah kaki yang mendekat.

Tunggu dulu. Aku menatap layar panel smart door lock di gagang pintu. Simbol lock (gembok merah)-nya mati. Pintu ini tidak dikunci.

Sial, ada apa lagi ini? Apakah Reno kembali berulah? Atau ada sisa pengikutnya?

Jantungku berdegup kencang. Aku menelan ludah, lalu menekan gagang pintu perlahan dan mendorongnya masuk. Udara di dalam ruangan terasa sangat pengap. Gelap gulita. Tak ada satu pun lampu yang menyala.

Aku melangkah masuk dengan sangat hati-hati, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Lalu, tiba-tiba...

BLAAAAAPP!

Semua lampu sorot di lantai satu menyala serentak, menyilaukan mataku yang terbiasa dengan kegelapan. Disusul oleh rentetan ledakan suara letupan dari tabung confetti. Kertas-kertas warna-warni dan bau bubuk mesiu tipis berjatuhan di udara.

"SURPRIIIISEEE!!!" "HAAAPPY BIRTHDAAAYYY!!!!"

Aku terlonjak kaget, nyaris terkena serangan jantung. Aku mematung (nge-blank) di tengah foyer rumah. Mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya, memindai belasan wajah yang tiba-tiba muncul dari balik perabotan.

Rumah Feby mendadak riuh. Teman-teman influencer Feby, Timnya Feby : Sherly, Aldo, Dimas, bahkan Bu Jenifer ada di sana.

Steve berlari mendekat dan langsung mengalungkan lengan di leherku, merangkulku erat. Boby menepuk-nepuk punggungku dengan tawa keras. Suara terompet kertas ditiup bersahut-sahutan.

Namun, perhatianku bukan pada keriuhan itu. Mataku terkunci pada sebuah banner raksasa berwarna emas dan hitam yang membentang di dinding ruang tamu. Tulisan besar di banner itu sama sekali tidak membuatku tersenyum. Huruf-huruf itu seolah meneteskan racun ke retinaku.

"HAPPY BIRTHDAY MY HERO!"

Lihat selengkapnya