FEBY
Keningku berkerut bingung. Apa yang membuat Sherly setegang ini? Aku meraih ponsel itu dari tangannya. Mataku mulai bergerak menyusuri rentetan teks berwarna hijau dan putih di layar yang menyala terang.
Itu adalah ruang obrolan Sherly dengan... Mas Yoga.
Napasku perlahan tertahan. Mataku menyapu layar, membaca pesan keputusasaan Sherly yang memohon bantuan, penolakan awal Mas Yoga karena statusku yang sudah dilamar Kak Erik, hingga sebuah video yang dikirim Sherly. Video di mana aku sedang menangis histeris meraung-raung di lantai akibat teror Reno.
Dan kemudian... balasan terakhir dari Mas Yoga. Pesan yang menyatakan bahwa ia akan turun tangan menyelesaikannya. Untuk yang terakhir kalinya.
Darah di tubuhku seakan membeku. Aku melihat timestamp (waktu pengiriman) pesan itu. Sesuai dengan timeline waktunya, tepat setelah Yoga mengirimkan pesan bersedia turun tangan itu... teror Reno mendadak lenyap. Dan keesokan harinya, sang iblis digital itu tiba-tiba tertangkap polisi, disusul konferensi pers Kak Erik pada lusanya.
Tanganku yang memegang ponsel Sherly mulai bergetar. Udara di kamarku terasa menipis.
"I... ini beneran, Sher?" suaraku keluar bergetar hebat.
Otakku mulai menyambungkan potongan memori. Tingkah Kak Erik akhir-akhir ini setelah Reno tertangkap... sikapnya yang jauh lebih pendiam, wajahnya yang pucat, dan kegelisahannya yang amat kentara setiap kali seseorang menyebutnya 'Pahlawan'. Semua pujian itu seolah menyiksanya. Tapi... itu adalah satu-satunya cerita yang diketahui semua orang!
Aku sudah goyah, tapi aku butuh kepastian. Logikaku menolak percaya bahwa pria yang kupuja-puja semalam hanyalah pemeran pengganti. Dengan jari sedingin es, aku meraih ponselku sendiri dan menekan nomor Kak Erik.
Tuut... tuut...
"Halo, Feb? Ada apa? Aku lagi siap-siap mau meeting investor di Bandung nih," sapa Kak Erik. Suaranya terdengar berat.
Hening. Lidahku kelu. Ruangan ini terasa berputar.
"Kak... maaf," bisikku lirih.
"Ada apa, Feby?" nada Kak Erik berubah tegang.
Hening lagi. Aku menelan ludah yang terasa menyayat tenggorokan.
"Feb?? Halo..."
"Maaf, Kak..." suaraku pecah. "Benarkah... benarkah yang melepaskan kita semua dari neraka iblis itu... adalah Mas Yoga?"
Di ujung telepon, kepanikan Kak Erik seketika mati. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang teramat pekat. Terdengar embusan napas panjang yang sangat berat, seolah beban berton-ton meremukkan pundaknya dari seberang sana.
"Kak, jawab... kumohon," pintaku dengan nada bergetar.
Jeda itu terasa seperti ribuan tahun, sebelum akhirnya suara Kak Erik keluar, parau dan hancur.
"Ya... benar, Feb. Yoga yang melakukan semuanya. Dia yang menyelamatkan kita berdua."