FEBY
Semenjak hari itu, aku lebih banyak hidup dalam lamunan. Kepalaku sesekali memutar wajah Mas Yoga. Senyum canggung dan punggung kemeja flanelnya yang berjalan menjauh.
Di sisi lain, setiap kali aku mendengar orang-orang atau rekan bisnis menyebut nama Kak Erik dengan embel-embel "Pahlawan", perutku mendadak melilit. Ada rasa mual yang langsung merayap naik ke kerongkonganku. Aku tidak membenci Kak Erik. Aku tahu dia terpaksa memakai topeng itu demi menyelamatkan ribuan nasib karyawannya. Lagi pula, andai publik tahu yang sebenarnya, siapa yang akan percaya? Siapa yang mau percaya bahwa seorang kuli palugada yang bau matahari dan oli mesin itu sanggup menaklukkan sang iblis digital terkejam di dunia bawah tanah?
Dunia ini terlalu mendewakan kasta untuk menerima kebenaran itu. Tapi bagiku, kebohongan ini adalah racun yang membunuhku perlahan.
Hari ini, aku sedang "berkencan" dengan Kak Erik di sebuah mall mewah di pusat kota. Lampu-lampu mall yang terang benderang, aroma parfum mahal dari pengunjung yang berlalu-lalang, dan dinginnya AC sentral, entah mengapa terasa sangat artifisial dan menyesakkan.
Biasanya, jemari kami selalu bertaut erat. Kak Erik selalu merangkul pinggangku dengan protektif. Tapi hari ini, kami berjalan sendiri-sendiri. Sesekali aku melangkah lebih cepat meninggalkannya, lalu di detik berikutnya langkahku gontai hingga ia yang mendahuluiku. Sepatu kami berderap di atas lantai pualam dengan ritme yang berantakan. Ada jurang tak kasat mata yang menganga lebar di antara bahu kami.
"Lho, Erik? Feby?"
Sebuah suara melengking menghentikan langkah kami. Aroma parfum floral yang sangat menyengat menusuk hidungku. Itu Susan, seorang beauty influencer kenalan kami berdua.
Aku dan Kak Erik menoleh bersamaan. Secara canggung, kami hanya mengangkat tangan untuk menyapa, dengan gerakan patah-patah yang sama sekali tidak kompak.
"Wah, lagi kencan nih?" tanya Susan dengan senyum merekah, matanya memindai kami dari atas ke bawah.
"I... iya, San. Lagi jalan-jalan cari angin aja," jawabku, memaksakan seulas senyum yang rasanya membuat otot pipiku kram.
"Kalian kapan sih prosesi pernikahan resminya? Kasus gila kemaren udah bener-bener beres kan? Gila sih Kak Erik keren banget!" kata Susan dengan nada antusias yang membuat perutku kembali mual.
"Ya... ditunggu aja, San. Nanti undangannya pasti nyampe kok," jawab Kak Erik. Suaranya datar, tanpa letupan kebanggaan yang biasanya ia miliki.
"Eh ya, foto dulu yuk! Udah lama ga foto bareng nih... buat Story," Susan mengeluarkan iPhone seri terbarunya dan menyerahkannya pada asistennya.
Kami bertiga merapat. Kak Erik berdiri di tengah, aku di kanannya, dan Susan di kirinya. Kilat flash kamera menyilaukan retinaku sejenak.
Susan mengambil ponselnya dan mengerutkan kening melihat hasilnya di layar.
"Eh, kok kaku banget sih? Kurang dapet feel-nya nih," protes Susan. "Kalian gandengan dong, kan calon suami-istri. Masa jauh-jauhan? Rangkulan kek, yang mesra gitu, terus senyumnya dilebarin dong!"
Dengan napas tertahan, aku perlahan menyusupkan tanganku, mendekap lengan Kak Erik. Kulit lengannya terbalut kemeja mahal yang halus, tapi entah kenapa sentuhan ini tak lagi menyetrumku seperti dulu. Rasanya dingin. Hampa. Seperti aku sedang memeluk sebuah manekin di etalase toko.
Aku menarik ujung bibirku, memaksa senyum selebar mungkin ke arah lensa. Kilat flash kembali menyala, merekam kebohongan sempurna kami.
"Oke sipp! Makasih ya, ditunggu undangannya lho!" seru Susan riang, lalu melenggang pergi bersama asistennya, meninggalkan kami kembali dalam keheningan yang mencekik.
Begitu Susan menghilang, aku segera menarik tanganku dari lengan Kak Erik.
"Feb, kita mau kemana sekarang? Masa cuma jalan-jalan muter doang kayak gini?" tanya Kak Erik, mengusap tengkuknya dengan kikuk.
Biasanya, Kak Erik selalu memiliki itinerary yang jelas. Kami selalu merencanakan sesuatu dengan jelas. Tapi hari ini, saat ia menjemputku di rumah, tak satu pun dari kami yang memiliki rencana. Kami hanya kabur dari kesunyian masing-masing, hanya untuk menemukan kesunyian yang lebih parah di tengah keramaian.
"Umm... ke mana ya, Kak?" jawabku lirih. Kepalaku rasanya terlalu kosong untuk memikirkan tempat. Aku tidak tahu harus melakukan apa di sebelahnya.
Tiba-tiba, suara rengekan anak kecil terdengar dari eskalator di sebelah kami. "Maaa... nonton film yang viral itu maa... nonton..." "Enggak boleh, umurmu belum cukup nonton begituan," omel ibunya, menyeret anak itu pergi.
Percakapan itu memberiku ide ditengah kebingungan ini.
"Gimana kalau nonton, Kak?" tanyaku.
"Oh, ya... boleh," Kak Erik langsung mengangguk lega.
Kami menaiki eskalator menuju lantai paling atas. Berdiri di anak tangga yang berbeda. Tanpa obrolan, tanpa rencana mau menonton apa, dan sama sekali tanpa bergandengan tangan.
Sesampainya di lobi bioskop yang dipenuhi aroma butter popcorn yang gurih, kami berdiri di depan meja petugas tiket.
"Selamat siang Kak, ada yang bisa saya bantu?" Petugas wanita itu menatap kami, lalu matanya membelalak cerah. "Lho? Ini Kak Erik, kan?"
"Iya, Kak," Kak Erik tersenyum tipis.
"Wah, aku ngefans banget lho! Aku sering pantengin konten-konten motivasi bisnis kakak," kata petugas itu dengan mata berbinar, bahkan menyempatkan diri menyalami Kak Erik.
Aku hanya berdiri mematung di sebelahnya. Ya, Erik Julian memang jauh lebih terkenal dariku. Selain CEO, ia adalah influencer generasi awal. Sedangkan aku? Hanya seorang content creator dengan enam puluh ribu pengikut, tanpa centang biru, dan karir yang nyaris hancur seandainya Mas Yoga tidak menyelamatkanku.
"Mau nonton film apa hari ini, Kak Erik?" tanya petugas itu kembali ke komputernya.
"Film apa, Feb?" Kak Erik menoleh padaku.