ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #49

Sang Bidadari dan Pilihan Hidupnya

Hari demi hari berlalu layaknya kalender usang yang halamannya dibalik tanpa pernah dibaca. Kehampaan menjadi teman baruku. Dulu, aku selalu menunggu-nunggu notifikasi pesan dari Kak Erik, menanti deru mesin mobilnya yang berganti-ganti di depan pagar rumahku. Kini, antusiasme itu telah mati.

Di suatu malam yang sunyi, aku duduk bersila di atas kasur. Hanya lampu tidur di atas nakas yang menyala, melemparkan pendar kuning temaram ke sudut kamarku. Suara jangkrik dari halaman luar terdengar sayup-sayup menyusup lewat celah ventilasi.

Aku mengangkat tangan kiriku. Di bawah cahaya lampu yang temaram, cincin berlian bertahtakan emas putih di jari manisku berkilau dingin. Dulu, cincin ini terasa seperti pelukan yang menghangatkan. Sekarang, ia terasa seperti sebuah gembok berat yang menempel di jari. Aku galau. Aku kehilangan arah.

Dengan tangan bergetar, aku mengambil ponselku dan mendial nomor Mama.

Tuut... tuut... klik.

"Halo, Feb? Ada apa, Sayang? Tumben telepon malam-malam begini," suara lembut Mama menyapa telingaku, langsung membuat dadaku terasa sedikit lebih lapang.

Aku hening sesaat. Jempolku tanpa sadar terus memutar-mutar cincin di jari manisku. Bingung dari mana harus memulai mengurai benang kusut ini.

"Gini, Ma..." suaraku terdengar serak. "Aku... aku mau cerita sesuatu."

"Cerita soal apa, Feb?" nada suara Mama mulai menyiratkan kekhawatiran khas seorang ibu.

"Umm... soal Kak Erik, Ma."

Terdengar helaan napas dari seberang sana. "Kenapa? Kalian bertengkar? Ada masalah sama persiapannya?"

"Enggak, Ma... enggak. Kami ga bertengkar. Hubungan kami... baik-baik saja kok maa..."

Air mataku menetes membasahi layar ponsel. Pertahanan batinku runtuh. Dan di malam yang sunyi itu, aku menceritakan semuanya. Semuanya, tanpa ada yang terlewat. Mulai dari teror Iblis Reno yang nyaris membuatku gila, ketidakberdayaan Kak Erik, hingga kebenaran menyakitkan tentang Mas Yoga yang turun tangan sendirian untuk mengakhiri segalanya sebelum menghilang tanpa jejak.

Namun, di sela isak tangisku, aku memastikan Mama tahu satu hal: aku sama sekali tidak menjelek-jelekkan Kak Erik. Aku menceritakan bagaimana Kak Erik terpaksa menerima medali pahlawan itu demi ribuan perut karyawannya yang bergantung pada kepercayaan investor. Kak Erik bukan penjahat yang dengan sengaja merampas panggung orang lain. Dan Mas Yoga... kuli palugada itu bukanlah orang gila hormat yang menuntut untuk dipuja. Mereka berdua sama-sama berkorban di dunianya masing-masing. Hanya aku... aku yang terjebak di tengah kebutaanku.

Setelah aku mengakhiri ceritaku dengan napas tersengal, saluran telepon itu menjadi sangat hening. Aku hanya bisa mendengar sayup-sayup embusan napas Mama. Beliau sedang mencerna kenyataan ini.

"Feb..." panggil Mama akhirnya, suaranya sangat tenang, membelai telingaku bagai angin malam.

"Ya, Ma?"

Tidak ada nada menghakimi, tidak ada kemarahan, apalagi kekecewaan.

"Mama mengerti perasaanmu yang berkecamuk saat ini," ucap Mama perlahan. "Tapi Mama yakin, kamu dan Erik sudah sama-sama dewasa. Kalian berdua memikul beban yang sangat berat. Mama ga mau ikut campur atau mengintervensi apa pun. Keputusan akhir, tetap ada di tangan kalian."

Aku menelan ludah, air mata kembali menetes tanpa suara.

Lihat selengkapnya