Erik duduk berhadapan dengan Feby. Meja mereka terisolasi dari dunia luar, dikelilingi oleh pemandangan langit malam ibukota yang megah.
"Kak." "Ya, Feb?" "Sebelum kita ngobrol yang penting-penting, kita makan dulu aja ya?" pinta Feby lembut.
Beban yang akan mereka angkat terlalu berat untuk dibicarakan dengan perut kosong.
"Oh, ya, boleh-boleh. Mau pesen apa?"
Erik mengangkat sedikit tangannya. Seorang pelayan segera mendekat dengan postur membungkuk hormat, menyodorkan dua buah buku menu bersampul kulit tebal.
"Biar aku yang pesen makanannya ya, Kak," kata Feby, membalik halaman menu. Erik tersenyum tipis. "Baiklah. Biar aku yang pesen minumannya."
Sepuluh menit kemudian, dua porsi A5 Wagyu Ribeye Steak yang dimasak medium-rare dengan olesan truffle butter terhidang mengepul di hadapan mereka. Diiringi oleh dua gelas tinggi Château Margaux, anggur merah (red wine) vintage dari Bordeaux yang profil rasanya sangat kompleks, dengan sentuhan dark cherry dan aroma tanah yang pekat, penyeimbang sempurna untuk lapisan lemak Wagyu yang mencair di lidah.
Namun, semua kemewahan gastronomi itu dikonsumsi dalam kebisuan total.
Hanya terdengar bunyi pelan pisau perak yang memotong daging di atas piring keramik. Suasana benar-benar hening. Bukan hening yang mencekam atau marah, melainkan keheningan kontemplatif dari dua orang yang sedang mempersiapkan kata-kata.
Setelah piring mereka bersih dan pelayan mengangkatnya, sisa waktu mereka di meja itu resmi dimulai.
"Baiklah, Feb," Erik menyeka bibirnya dengan serbet kain putih. "Mau aku dulu... atau kamu dulu yang bicara?"
"Kak Erik aja dulu," jawab Feby tenang, kedua tangannya terlipat anggun di atas meja.
Erik menarik napas yang sangat dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Bahu tegapnya yang berbalut jas mahal sedikit merosot. Matanya yang tajam kini menatap Feby dengan sorot sendu yang luar biasa dalam. Tidak ada air mata, tidak ada tangisan yang meledak. Hanya ada tatapan kasih sayang yang mendung, dibalut oleh senyum yang sangat tulus dari seorang pria yang telah berdamai dengan kekalahannya.
"Feb, kamu masih ingat nggak, awal mula kita saling mengenal?" tanya Erik pelan.
"Sekitar setahun yang lalu kan, kalau ga salah?"
"Iya. Tapi, kamu tau nggak, gimana proses detailnya aku bisa kenal sama kamu waktu itu?"
Feby mengernyit sedikit. "Umm... seingatku, kita kenal gitu aja waktu Kak Erik grand opening cabang restoran F&B di Ruko dekat apartemenku yang lama."
Erik tersenyum lebar. Matanya menerawang ke atas, bernostalgia menembus langit-langit restoran.
"Sebenernya, awal mula aku nemuin kamu itu... karena video review makananmu tiba-tiba masuk ke FYP TikTok-ku, Feb," cerita Erik, suaranya sangat lembut. "Waktu itu, aku cuma iseng scroll. Tapi begitu wajah kamu muncul di layar HP-ku... aku langsung diam. Aku jatuh hati sama kamu di detik pertama itu juga."
"Wah... masa sih? Kebetulan banget ya, Kak?" Feby sedikit terkejut.
"Setelah itu, aku langsung cari akun IG-mu. Aku follow, lalu aku kirim Direct Message (DM). Dan kamu langsung balas, kan? Dari situ kita mulai chatting, dan aku mulai cari cara buat deketin kamu. Aku minta manajerku untuk nawarin endorse ke kamu. Berkali-kali aku bayar rate card kamu, cuma biar kita punya alasan buat terus interaksi."
Erik mencondongkan tubuhnya ke depan. "Akhirnya, pas aku buka cabang F&B di ruko itu, aku atur supaya kamu diundang sebagai Influencer undangan. Di situlah kita ketemu tatap muka buat pertama kalinya. Dan ternyata, aslinya kamu bukan cuma cantik, tapi sangat, sangat ramah. Mulai dari hari itu, aku ngerasa jadi pria paling beruntung di dunia. Dan kisah kita pun dimulai."
"Lalu... apa anehnya dengan cerita itu, Kak?" tanya Feby, belum menangkap arah pembicaraan.
Erik menghela napas, senyum nostalgianya memudar.
"Dulu, aku sama sekali nggak menganggap proses itu aneh, Feb. Aku ngerasa itu wajar, hasil dari usahaku sebagai laki-laki," ucap Erik parau. "Tapi... setelah aku berdiri di balik kaca ruang interogasi polisi kemarin... setelah aku melihat Yoga ngobrol sama iblis digital itu... aku tiba-tiba disadarkan oleh satu hal."
"Apa itu, Kak?"
"Aku sadar betapa nggak adilnya dunia ini bekerja, Feb."
Suara Erik mulai bergetar samar. "Aku bisa mengenalmu, murni karena aku punya segalanya. Aku punya uang buat bayar endorse kamu. Aku punya koneksi buat ngundang kamu. Bahkan, saat aku pertama kali kirim DM ke akunmu yang saat itu masih kecil... akun IG-ku udah punya centang biru. Jadi notifikasiku pasti muncul di paling atas layar HP-mu."
Mata Erik menatap lurus menembus retina Feby. "Pertanyaanku, Feb... andai kata di hari itu, pria yang mengirim DM pujian ke akunmu adalah Yoga... pria yang bukan siapa-siapa, akunnya juga bukan akun centang biru... apakah kamu bakal buka dan baca pesannya?"
Feby tertegun. Lalu menggeleng pelan dengan jujur. "Mungkin... pesan itu bakal numpuk di folder request, Kak. Karena DM dari followers yang masuk tiap hari memang banyak banget. Aku nggak bakal sempat baca."
"Tepat," bisik Erik. "Dan apakah Yoga punya kemampuan finansial sepertiku buat bayar rate card kamu agar kita bisa terus terhubung? Buat ngundang kamu ke grand opening restoran? Buat ngasih koneksi lebih luas untukmu? Agar bisa bertemu dan ngobrol berdua? Tentu tidak, Feb. Nggak akan pernah."
Erik menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Aku bisa mengenalmu... aku berhasil 'mendapatkanmu'... semata-mata karena kekuatan uang dan hartaku. Tapi ironisnya, Feb... ketika aku udah bener-bener memiliki kamu seutuhnya... ketika kamu diserang preman di acara bagi-bagi makanan waktu itu... ketika mobilmu kejebak di tengah tawuran geng mematikan itu... bahkan saat neraka dari Reno membakar hidup kita..."