ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #52

ASIMTOT

Satu Tahun Kemudian.

Lampu neon putih berpendar menyilaukan di dalam area Depo Elektronik raksasa yang baru saja mengadakan grand opening. Aroma khas dari tumpukan kardus baru, debu styrofoam, dan dinginnya freon AC sentral memenuhi udara.

Di lorong perkakas teknik, seorang pria berdiri menimbang-nimbang sebuah kotak perkakas. Ia mengenakan celana jeans berdebu, kaos katun yang nyaman menyerap keringat, dan kemeja flanel pudar yang kancingnya dibiarkan terbuka. Pria itu, Yoga, masih setia dengan profesinya sebagai kuli palugada, masih menelusuri aspal Jakarta dengan motor matik hitamnya.

"Yaelah, Bang. Masa nggak ada yang lebih murah lagi sih?" protes Yoga sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Karyawan berbaju seragam rapi di depannya menghela napas pasrah. "Ini yang paling mentok murah, Bang. Itu juga udah dipotong diskon grand opening kemarin lho."

"Satu set sejuta?!" Yoga membelalakkan matanya hiperbolis, menunjuk kotak berisi kunci pas itu. "Ni kunci pas materialnya dari titanium Wakanda apa gimana? Bisa buat buka tangki bensin pesawat jet tempur?!"

Di lorong yang sama, dari ujung yang berlawanan, seorang wanita melangkah masuk. Ia mengenakan pakaian kasual berbahan katun yang sangat nyaman namun stylish, dipadukan dengan sneakers putih yang bersih. Feby memegang sebuah gimbal kamera dengan luwes. Ia kini bukan lagi selebgram yang mengandalkan endorsement kosmetik, melainkan seorang travel vlogger independen kelas atas. Hari ini, ia sedang membuat vlog harian untuk mengisi perabotan rumah barunya, rumah yang ia beli murni dari hasil keringatnya sendiri.

"Welcome back, guys!" sapa Feby riang ke arah lensa iPhone-nya. "Hari ini aku lagi hunting beberapa peralatan elektronik buat ngisi rumah baru aku... lihat guys, tempatnya gede banget..."

Langkah Feby bergerak maju. Langkah Yoga bergeser mundur menyusuri rak.

Waktu seakan mendadak kehilangan gaya gravitasinya. Detik melambat. Suara bising pengumuman dari speaker depo perlahan memudar menjadi dengungan samar.

Yoga dan Feby berpapasan. Jarak bahu mereka hanya terpaut dua meter.

Mata Yoga tidak menoleh. Lehernya kaku menatap deretan obeng, tapi dari sudut ekor matanya, ia menyadari sepenuhnya kehadiran aroma parfum vanilla dan siluet wanita itu. Di sisi lain, pupil mata Feby sedikit melebar. Ia juga menyadarinya. Kemeja flanel itu. Postur tegap itu.

Lihat selengkapnya