“Kalau dia mati, semuanya selesai.”
Langkahku berhenti di depan pintu ruang rawat VIP.
“Aku capek pura-pura sayang sama orang yang bentar lagi mati.”
Suara istriku terdengar jelas dari dalam.
Tidak samar.
Tidak salah dengar.
Dan yang paling lucu?
Dia mengatakannya sambil tertawa kecil.
Dadaku seperti dihantam sesuatu yang berat. Untuk beberapa detik, aku cuma berdiri diam di depan pintu, masih mengenakan jas dokter yang bahkan belum sempat kuganti sejak operasi delapan jam tadi.
Lelahku hilang. Diganti sesuatu yang jauh lebih dingin.
“Audrey, kecilin suara kamu,” terdengar suara laki-laki lain.
Aku mengenali suara itu.
Dito.
Adik iparku.
Orang yang selama ini kupercaya mengurus sebagian cabang rumah sakit saat aku mulai fokus menjalani pengobatan.
“Ih santai aja,” jawab Audrey enteng. “Mas Arvin juga paling lagi sibuk mikirin hasil CT scan dia.”
Mereka tertawa.
Pelan.
Tapi cukup untuk membuat tenggorokanku terasa pahit.
Aku memejamkan mata sebentar.
Tiga bulan lalu, dokter senior di Singapura bilang aku mengidap kelainan langka di otak. Tumor kecil di batang otak yang kemungkinan besar ganas. Operasi terlalu berisiko. Harapan hidupku diperkirakan tidak panjang.
Dan sejak hari itu… istriku berubah. Awalnya halus. Lalu makin jelas.
Dia mulai sering terlambat ke rumah. Jarang menyentuhku. Bahkan mulai tidur di kamar lain dengan alasan takut mengganggu jam istirahatku.
Aku mengira dia stres. Sedih. Takut kehilangan suami.
Nyatanya?
Dia cuma sedang menunggu waktu.
“Kalau dia mati, otomatis saham rumah sakit pindah ke kamu kan?” tanya Dito pelan.
Aku menahan napas.
“Aku, kamu, sama Mama,” jawab Audrey santai. “Makanya sekarang jangan bikin masalah dulu.”
“Tapi komisaris masih banyak yang takut sama Mas Arvin.”
“Ya karena mereka kira dia bakal sembuh.”
Lalu… Audrey tertawa lagi.
“Tunggu aja hasil MRI minggu depan keluar. Kalau udah fix stadium lanjut, semua orang juga bakal mulai ninggalin dia.”
Aku menunduk pelan. Tanganku masih berada di gagang pintu.
Aneh.
Aku tidak marah. Atau mungkin belum. Yang kurasakan justru… malu.
Malu karena selama ini aku terlalu mencintai perempuan itu sampai tidak sadar dia perlahan menguliti hidupku sedikit demi sedikit.
“Kasihan juga sih,” kata Dito sambil terkekeh. “Mas Arvin tuh beneran cinta mati sama kamu.”
“Makanya gampang dibego-begoin.”
Deg.
Kalimat itu akhirnya berhasil menghantam egoku.
Aku menatap pantulan diriku di kaca pintu.
Arvin Mahesa.
Dokter bedah saraf. Pemilik jaringan rumah sakit Mahesa Medika. Laki-laki yang selama ini dipanggil jenius.