Asisten Dokter: Pengganti Tugas Nyonya

Desy Cichika
Chapter #2

Bab 2

“Kami memutuskan mencabut status akademik Saudari Jillian Maharani mulai hari ini.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak terasa sempit.

Jillian duduk diam di kursi paling ujung ruang sidang etik Fakultas Kedokteran. Jemarinya dingin. Punggungnya tegak. Tatapannya lurus ke depan, meski suara bisik-bisik mahasiswa di belakang mulai terdengar seperti ribuan nyamuk berdengung di kepalanya.

“Kasihan juga ya…”

“Kasihan apanya? Siapa suruh godain dosen sendiri.”

“Padahal katanya pintar.”

“Cantik sih.”

Deg.

Kalimat terakhir selalu itu.

Cantik.

Seolah wajahnya adalah bukti paling sah kalau dia memang bersalah.

Di meja sidang, Dekan Fakultas Kedokteran menghela napas panjang sebelum membuka map di depannya.

“Saudari Jillian Maharani terbukti melanggar kode etik mahasiswa dan mencemarkan nama baik staf pengajar.”

Jillian tersenyum kecil. Pahit.

Mereka bahkan tidak memakai kata “pelecehan”.

Karena untuk menyebut seorang dokter senior melakukan pelecehan pada mahasiswi miskin… rupanya terlalu mahal untuk reputasi kampus sebesar ini.

“Apakah Saudari ingin menyampaikan pembelaan terakhir?”

Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju padanya.

Jillian perlahan berdiri. Kakinya sedikit gemetar, tapi suaranya tetap keluar jelas.

“Saya tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengan Dokter Ruli.”

Di sisi kanan ruangan, seorang pria berusia hampir lima puluh tahun langsung menunduk pelan sambil memijat keningnya seolah kelelahan menghadapi drama murahan.

Dokter Ruli.

Dokter spesialis penyakit dalam.

Dosen favorit kampus.

Suami ideal.

Pembicara seminar nasional.

Dan laki-laki yang tiga minggu lalu mengunci pintu ruang bimbingannya sambil berkata,

Kalau kamu pintar membuat saya senang… biaya pengobatan ibu kamu bisa saya bantu.”

Tenggorokan Jillian terasa tertusuk mengingat itu.

“Saudari Jillian,” suara salah satu dosen penguji terdengar dingin, “bukti chat dan transfer sudah cukup jelas.”

Jillian menoleh.

Transfer lima juta rupiah. Uang yang masuk ke rekeningnya seminggu lalu. Uang yang bahkan tidak pernah ia sentuh.

“Saya tidak meminta uang itu,” ucap Jillian pelan. “Beliau sengaja mengirimnya agar bisa menyalahkan saya. ”

“Menyalahkan?” potong dosen lain sinis. “Kalau begitu jelaskan soal apartemen itu.”

Ketua Etik membuka lembar berikutnya.

Jillian memejamkan mata sebentar. Potongan memori itu datang lagi.

Dua minggu lalu. Malam hujan. Dokter Ruli menghubunginya setelah presentasi.

Ibumu masih dirawat?

Kalau butuh bantuan biaya, datang saja ke apartemen saya. Saya malas bicara soal uang di kampus.”

Jillian waktu itu ragu. Tapi ibunya baru masuk ICU. Dia kehabisan uang. Dan dokter itu dosen pembimbingnya.

Dia pikir… semuanya masih normal.

Sampai pintu apartemen itu tertutup. Dan tangan laki-laki itu mulai menyentuh pinggangnya.

Jillian membuka mata pelan.

“Saya datang karena beliau bilang ingin membantu biaya pengobatan ibu saya.”

“Lalu?”

“Beliau mencoba menyentuh saya.”

Ruangan langsung gaduh. Dokter Ruli mendadak berdiri.

“Fitnah!”

“Pak, Anda—”

“Saya diam selama ini demi menjaga nama baikmu, Jill!”

Jillian ikut berdiri. Matanya mulai merah.

“Nama baik saya sudah hancur bahkan sebelum sidang ini dimulai!”

“CUKUP!”

Suara perempuan melengking tiba-tiba memotong ruangan.

Istri Dokter Ruli berdiri sambil menangis keras.

“Jangan fitnah suami saya lagi!” teriaknya sambil menunjuk Jillian dengan tangan gemetar. “Suami saya itu dosen terhormat! Semua orang tahu dia baik!”

Tangisnya pecah.

“Dia bahkan selalu menganggap kamu seperti anak sendiri, Jill!”

Jillian memejamkan mata sebentar.

Anak sendiri.

Ya.

Laki-laki itu memang memanggilnya “anak pintar” sambil tangannya mulai terlalu sering menyentuh pundaknya.

Sambil matanya terlalu lama menatap bibirnya.

Sambil berkali-kali berkata, “Kamu cantik sekali kalau nggak melawan.”

Mual.

“Bu, saya tidak pernah—”

Duk!

Satu map dilempar ke arah meja Jillian.

“Kurang ajar kamu!” bentak istri Dokter Ruli. “Sehina apa hidup kamu sampai harus ganggu suami orang?!”

“Bu, cukup!” Dekan mencoba menenangkan.

Tapi perempuan itu sudah terlanjur histeris.

Lihat selengkapnya