Asisten Dokter: Pengganti Tugas Nyonya

Desy Cichika
Chapter #3

Bab 3

“Gaji dua puluh lima juta untuk jadi asisten pribadi?”

Jillian menatap angka di kertas itu seperti sedang membaca hasil autopsi dirinya sendiri.

Duduk di depannya, seorang pria berjas abu gelap tetap tenang sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula. Wajahnya biasa saja. Tidak galak. Tidak ramah juga. Tapi entah kenapa… justru itu yang membuat Jillian makin tidak nyaman.

“Ada yang salah?” tanya Angga datar.

Jillian mengangkat pelan map itu sekali lagi. Matanya menyipit.

“Kalau ini penipuan… modusnya mahal juga.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Angga bergerak tipis.

“Bagus,” katanya pendek. “Berarti Anda masih bisa berpikir.”

Hening.

Ruangan kafe itu mendadak terasa lebih dingin.

Jillian menunduk lagi ke lembar kontrak tipis di tangannya. Dua puluh lima juta per bulan. Belum termasuk tunjangan tempat tinggal, transportasi, dan biaya kesehatan keluarga.

Untuk pekerjaan asisten pribadi.

Mustahil.

Orang waras mana yang memberi gaji sebesar itu pada perempuan yang baru di-DO kemarin sore?

Di luar jendela kafe, hujan masih turun tipis. Sisa air menempel di ujung lengan hoodie abu-abu milik Jillian. Semalam dia bahkan tidur sambil memeluk map akademiknya yang sudah tidak berlaku lagi.

Dan pagi ini… hidupnya terasa makin aneh. Ponselnya sejak tadi tidak berhenti bergetar. Notifikasi demi notifikasi masuk tanpa ampun.

[ Jill removed from group. ]

Satu.

[ Jill removed from group. ]

Dua.

[ Jill removed from group. ]

Tiga.

Sampai akhirnya grup angkatan yang selama enam tahun jadi tempat begadang tugas dan berbagi kisi-kisi ujian… menghilang begitu saja dari layar ponselnya.

Semuanya selesai hanya dalam satu sidang dan beberapa gosip.

Lalu akun anonim mulai bermunculan.

@anakdokterjujur: [ Hati-hati cewek FK modus cari sugar daddy 🤭 ]

@fakta_kampus: [ Pantas ranking bagus. Ternyata rajin “bimbingan pribadi.” ]

Tangannya gemetar saat membaca komentar-komentar itu.

Yang paling lucu?

Sebagian besar bahkan tidak mengenalnya. Tapi menghina perempuan jatuh rupanya memang olahraga favorit banyak orang.

“Minum.”

Suara pria di depannya membuat Jillian tersadar. Secangkir teh hangat didorong ke arahnya.

“Terima kasih.”

Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru turun ke tangan Jillian yang sedikit gemetar. Observatif. Dan Jillian tidak suka itu.

“Nama saya Angga Aristo.”

“Iya.”

“Anda tidak bertanya saya siapa?”

Jillian tersenyum tipis. “Kalau Bapak mau menipu saya, saya rasa saya udah terlalu bangkrut buat diperas lagi.”

Untuk pertama kalinya… sudut bibir Angga bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti seseorang yang baru menemukan jawaban menarik.

“Kondisi ibu Anda bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat napas Jillian tersendat sebentar.

Drop.” jawabnya pelan. “Setelah semalam mendengar langsung saya resmi dikeluarkan.”

Semalam setelah sidang, ibunya langsung sesak napas di perjalanan pulang. Jillian bahkan harus meminjam uang tetangga kos untuk membeli obat.

Dan yang lebih menyakitkan?

Pemilik kos mengetuk pintunya satu jam lalu.

Maaf ya, Jill…” suara ibu kos terdengar canggung. “Banyak penghuni mulai gak nyaman.

Tidak nyaman. Lucu sekali. Padahal mereka dulu senang meminta bantuan Jillian mengukur tekanan darah atau mengecek gula darah gratis.

Sekarang?

Tatapan mereka berubah seperti melihat penyakit menular.

Kamu beneran selingkuhan dosen itu ya?” bisik salah satu penghuni kos tadi pagi.

Jillian tidak menjawab. Karena kadang… harga diri terakhir seseorang cuma tinggal kemampuan untuk diam.

“Kondisi Anda sedang buruk.”

Jillian kembali menatap Angga. Pria itu membuka tablet tipis di depannya.

“Dikeluarkan dari kampus. Difitnah. Ibu sakit. Tidak punya pemasukan.”

Tatapan Angga naik perlahan.

“Dan reputasi Anda sedang dihancurkan publik.”

Tidak ada empati dalam suaranya. Tidak ada rasa kasihan. Aneh. Tapi justru itu membuat Jillian merasa lebih dihargai. Karena sejak kemarin semua orang menatapnya seperti pecahan gelas yang harus disapu cepat-cepat.

“Kalau Anda mau bilang hidup saya menyedihkan,” ucap Jillian pelan, “saya udah sadar dari kemarin.”

Angga diam beberapa detik. Lalu...

“Bagus.”

Jillian mengernyit.

Lihat selengkapnya