Asisten Dokter: Pengganti Tugas Nyonya

Desy Cichika
Chapter #4

Bab 4

“Saya tidak mempekerjakan orang berdasarkan rasa kasihan.”

Kalimat pertama itu langsung menghantam kepala Jillian bahkan sebelum ia benar-benar duduk. Tidak ada ucapan selamat datang. Tidak ada basa-basi. Bahkan laki-laki di depannya belum benar-benar mengangkat mata dari berkas.

Ruangan di depannya terlalu sunyi untuk disebut nyaman. Dinding abu gelap. Rak penuh jurnal medis. Aroma kopi pahit bercampur antiseptik tipis. Dan di balik meja panjang hitam mengilap itu… duduk laki-laki yang selama ini cuma berani ia lihat lewat seminar dan jurnal bedah internasional.

Dokter Arvin Mahesa.

Jillian menelan ludah pelan.

Jas putih dokter itu tergantung rapi di sandaran kursi. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Jam tangannya sederhana tapi jelas mahal. Tidak ada gesture berlebihan. Tidak ada aura sok berkuasa.

Namun, justru itu yang membuatnya terasa mengintimidasi. Karena semuanya terlalu terkontrol.

Tatapan. Nada suara. Cara duduk. Bahkan cara jemarinya membalik berkas.

Seolah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuat laki-laki itu kehilangan kendali.

“Katakan kalau Anda ingin minum,” ucap Arvin tenang sambil tetap membaca dokumen di tangannya. “Anda terlihat seperti mau pingsan sejak masuk tadi.”

Jillian langsung meluruskan duduknya. “Saya tidak akan pingsan, Dok.”

“Bagus.”

Hening lagi.

Dan sialnya… hening bersama Arvin Mahesa terasa seperti sedang diinterogasi tanpa ditanya apa-apa.

Jillian diam-diam meremas jemarinya di bawah meja.

Gedung Mahesa Medika jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Lobby rumah sakit tadi bahkan terasa seperti hotel bintang lima. Semua orang berpakaian rapi. Semua berjalan cepat. Semua terlihat penting.

Sedangkan dirinya?

Hanya perempuan yang baru di-DO tiga hari lalu.

Bahkan tadi satpam sempat memandangnya lama sebelum mengizinkannya naik ke lantai direktur.

“Saya tahu kondisi hidup Anda sedang buruk,” lanjut Arvin datar. “Tapi itu bukan alasan untuk saya menurunkan standar.”

Jillian menelan ludah pelan.

Arvin akhirnya mengangkat map itu sedikit. “IPK Anda hampir sempurna.”

Jillian diam.

“Tapi nilai praktik Anda tidak cukup menonjol.”

Kalimat itu menusuk tepat ke titik paling sensitif. Karena itu benar.

Jillian unggul di teori. Diagnosa. Analisis kasus.

Tapi praktiknya?

Tidak buruk. Hanya… tidak spesial. Ia masih sering gugup. Terlalu banyak berpikir. Terlalu hati-hati.

Dan di dunia medis, itu berarti kalah.

“Anda pintar secara akademik,” lanjut Arvin tenang. “Tapi saya belum melihat bukti bahwa Anda mampu bertahan di dunia nyata.”

Jillian perlahan mengangkat kepala. Kini Jillian langsung mengerti kenapa seluruh rumah sakit takut pada laki-laki ini.

Tatapan Arvin tidak tajam. Tapi rasanya seperti sedang dibedah hidup-hidup.

“Apa ini bagian interview?” tanya Jillian pelan.

“Ini penilaian.”

“Terhadap kemampuan kerja saya?”

“Terhadap cara berpikir Anda.”

Sunyi.

Arvin memperhatikannya sebentar. “Angga bilang Anda cukup tenang di bawah tekanan.”

“Kalau saya panik terus, saya mungkin udah lompat dari kemarin.”

Jawaban itu keluar sebelum Jillian sempat menahan.

Sudut mata Arvin bergerak tipis. Seperti seseorang yang sedang mencatat sesuatu.

Lihat selengkapnya