Arvin berjalan mendekat. Ia menarik kursi di ujung meja, posisi kepala keluarga yang biasanya ia tempati dengan wibawa. Tapi malam ini, kursi itu terasa panas.
“Dokter bilang aku butuh istirahat,” Arvin mengulang kalimat itu dengan nada rendah, sambil melepas satu kancing kemejanya perlahan. “Tapi Dokter nggak bilang aku harus menyerahkan kunci ruang kerjaku pada orang lain.”
“Mas, jangan sensitif gitu dong,” Audrey menyela, suaranya terdengar lembut namun penuh manipulasi.
Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh lengan Arvin, tapi Arvin sengaja bergerak mengambil gelas air putih, membuat sentuhan itu luput.
“Mama cuma khawatir. Kita semua khawatir. Kita cuma mau mempersiapkan skenario terburuk supaya kalau… ya, kalau sesuatu terjadi, semuanya sudah tertata rapi. Aku nggak mau nanti pas aku lagi berduka, aku malah bingung urus aset.”
Berduka.
Arvin ingin tertawa mendengar kata itu keluar dari mulut perempuan yang malam tadi tertawa kecil sambil menunggu ajalnya.
“Skenario terburuk,” Arvin mengangguk kecil, menyesap air putihnya. Dingin. Seperti hatinya. “Termasuk mengganti sofa dan memindahkan berkas-berkas pentingku?”
“Itu namanya efisiensi, Mas,” Dito menimpali dengan mulut penuh makanan. “Mumpung Mas masih bisa kasih arahan, ya kan?”
Suasana meja makan itu makin menyesakkan. Vivian kemudian menggeser piring ke arah Arvin, lalu bicara dengan nada yang dibuat seolah-olah bijak.
“Arvin, Mama ini udah makan asam garam kehidupan. Mama tahu rasanya kehilangan. Makanya, Mama bilang ke Audrey… Audrey ini masih muda, Vin. Cantik. Jalannya masih panjang. Mama nggak mau nanti kalau kamu sudah ‘istirahat tenang’, Audrey jadi janda yang merana karena nggak tahu apa-apa soal harta suaminya. Mama mau dia punya sandaran yang kuat.”
Mama Audrey menjeda sebentar, matanya menatap Audrey dengan penuh arti. “Kemarin Mama sempat ngobrol sama Pak Handoko, kolega lama Papa. Anaknya, si Kevin yang pengusaha properti itu, tanya kabar Audrey. Dia bilang prihatin sama kondisi kamu. Dia bilang… kalau nanti ada apa-apa, dia siap bantu Audrey jaga aset-aset keluarga kita. Katanya, Audrey butuh pendamping yang sehat dan kuat untuk urus Mahesa Medika di masa depan.”
Deg.
Gelas di tangan Arvin berhenti di udara.
Kalimat itu tidak frontal. Tidak langsung menyebut ‘pernikahan lagi’. Tapi Arvin bukan orang bodoh. Kalimat “pendamping yang sehat dan kuat” dan “menjaga aset” adalah kode keras bahwa mereka sudah menyiapkan pengganti di saat jantungnya masih berdetak. Mereka sudah mencarikan Audrey pelabuhan baru, sementara ia masih berjuang melawan rasa sakit di kepalanya.
Hening yang mematikan melanda.
Arvin perlahan meletakkan gelasnya. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Penyakit low-grade glioma di batang otaknya memang tidak akan membunuhnya dengan cepat, tapi tekanan stres seperti ini memicu vertigo yang luar biasa. Pandangannya sedikit berbayang, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tegak. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan burung-burung bangkai ini.
“Oh, Kevin,” Arvin berucap lirih, sudut bibirnya terangkat satu senti. “Dia memang orang yang ambisius. Bagus kalau dia peduli pada… masa depan Audrey.”
Audrey tampak sedikit terkejut dengan reaksi tenang Arvin. Ia mengira Arvin akan marah atau menangis.
“Mas nggak marah kan Mama ngomong gitu?” tanya Audrey, pura-pura cemas. “Ini demi kebaikan kita semua, Mas. Supaya Mas tenang di sana nanti, tahu kalau aku ada yang jagain.”