“Istri Dokter Ruli belum tahu kalau malam ini rumah tangganya mulai retak.”
Jillian menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Pantulan cahaya monitor membuat wajahnya terlihat pucat di tengah kamar sempit kontrakan murah yang bahkan dindingnya mulai mengelupas di beberapa sisi.
“Sentuh orang-orang yang percaya padanya.”
Hujan rintik di luar jendela terdengar lirih. Jam menunjukkan pukul 00.47 dini hari.
Di layar laptopnya terbuka beberapa tab sekaligus.
Jadwal seminar Dokter Ruli, daftar operasi, akun media sosial istrinya, sampai nama asisten pribadi yang hampir selalu menemani Ny. Ruli ke acara sosialita medis.
Jillian menarik napas pelan.
Dulu… hidupnya cuma berisi jurnal kedokteran, anatomi saraf, dan ujian koas yang bikin kurang tidur.
Sekarang?
Dia sedang mempelajari pola perselingkuhan seorang dokter senior seperti detektif bayaran.
Ironis.
Namun yang lebih ironis lagi… otaknya bekerja jauh lebih tenang dibanding saat dirinya masih jadi mahasiswi teladan.
Ia baru saja selesai mengirimkan sebuah surel anonim ke alamat pribadi istri Dokter Ruli—sebuah file berisi jadwal reservasi hotel di akhir pekan yang selama ini diklaim Ruli sebagai ‘simposium medis di luar kota’.
Ia tidak butuh banyak kata. Hanya satu kalimat subjek: “Suami Anda tidak pernah sampai ke meja operasi hari itu.”
Satu benih keraguan sudah tertanam. Jillian tahu, tipe wanita seperti istri Ruli adalah detektif yang jauh lebih mengerikan daripada polisi mana pun jika sudah mencium aroma pengkhianatan.
Sunyi.
Aneh.
Tidak ada rasa puas. Tidak ada rasa menang. Yang ada justru rasa dingin merambat pelan di dadanya.
“Jadi ini rasanya…” gumamnya pelan.
Bermain kotor.
Ting.
Ponselnya bergetar. Sebuah nomor tanpa nama—Arvin Mahesa.
[ Besok malam ikut saya ke gala dinner Mahesa Foundation. ]
Jantung Jillian berdegup kencang. Ia belum sempat membalas, pesan kedua sudah menyusul.
[ Mulai besok kamu akan diperkenalkan sebagai asisten pribadiku di depan semua orang. ]
Jillian terpaku. Asisten pribadi? Di depan semua orang? Itu artinya ia akan berdiri di pusat perhatian, di tempat yang sama dengan orang-orang yang telah meludahi hidupnya. Ia akan berdiri di sana bukan sebagai pesakitan, tapi sebagai bayang-bayang orang paling berkuasa di industri medis itu.
Rentetan pesan kembali datang.
[ Besok pagi tim saya akan datang untuk mengurus penampilan dan seluruh kebutuhan Anda untuk gala dinner. ]
[ Gaun, makeup, dan semuanya sudah disiapkan. ]
[ Angga akan menjemput Anda pukul sembilan pagi. ]
Jillian menelan ludah pelan. Ia tidak menyangka laki-laki itu benar-benar menyiapkan semuanya sedetail ini… hanya untuk seorang perempuan yang bahkan baru dikenalnya kemarin.
Ting. Pesan terakhir masuk, singkat dan mematikan.