Asisten Dokter: Pengganti Tugas Nyonya

Desy Cichika
Chapter #8

Bab 8

“Kamu nggak perlu beli gaun yang baru. Koleksimu masih banyak.”

“Tapi itu koleksi tahun lalu, Mas…”

“Memangnya gala besok acara Met Gala?”

Dito nyaris tersedak minuman menahan tawa. Audrey langsung manyun halus. Biasanya Arvin tidak pernah mempermasalahkan pengeluaran seperti ini.

“Mas…” Audrey mendekat sedikit. “Aku kan istri kamu. Masa aku datang pakai barang lama terus?”

Arvin mengangkat mata perlahan. “Istriku datang mendampingiku. Bukan dipajang buat lelang sosialita.”

Deg.

Vivian langsung memasang senyum kaku.

“Aduh, Vin… perempuan itu memang perlu tampil cantik. Apalagi dalam kondisi begini.”

“Kondisi begini?”

Vivian tersenyum tipis. “Ya… kamu sakit. Orang-orang pasti memperhatikan Audrey. Mama cuma gak mau dia terlihat menyedihkan.”

Menyedihkan.

Lucu sekali.

Karena beberapa hari terakhir, semua orang di rumah ini bicara tentang kemungkinan kematiannya seperti sedang mendiskusikan renovasi rumah.

Arvin meletakkan tabletnya pelan. “Aku belum mati, Ma.”

Hening.

Vivian terkekeh kecil canggung. “Ya jangan ngomong begitu dong. Mama kan cuma berjaga-jaga.”

“Untuk warisan?”

Dito langsung batuk.

Audrey buru-buru menyela. “Mas…”

Tapi Arvin tersenyum tipis. Tenang sekali sampai justru terasa menyeramkan.

“Aku cuma penasaran,” lanjutnya santai. “Karena akhir-akhir ini semua orang di rumah lebih sibuk mempersiapkan hidup setelah aku mati dibanding membantuku tetap hidup.”

Sunyi.

Tidak ada yang berani langsung menjawab. Karena mereka tahu itu benar. Dan Arvin terlalu cerdas untuk dibohongi.

Audrey akhirnya duduk di sebelah Arvin sambil menyentuh lengannya pelan.

“Kamu jangan mikir aneh-aneh, ya?” suaranya melembut. “Aku cuma khawatir sama kamu.”

Arvin menatap tangan itu beberapa detik. Dulu sentuhan Audrey selalu membuatnya tenang.

Sekarang?

Ia justru merasa seperti sedang disentuh seseorang yang diam-diam menghitung sisa waktu hidupnya.

“Kalau Mas memang nggak kuat datang besok…” suara Audrey pelan, “…lebih baik di rumah aja istirahat.”

Dito langsung menangkap celah. “Iya, Mas. Aku bisa representasiin Mahesa Medika.”

Vivian ikut mengangguk. “Biar orang-orang juga mulai kenal siapa yang nanti akan banyak membantu Audrey mengurus semuanya.”

Deg.

Kalimat itu menggantung. Tidak frontal. Tidak terang-terangan. Tapi cukup menyakitkan untuk dipahami oleh Arvin.

Dito tersenyum rendah hati palsu lagi. “Kalau Mas Arvin percaya sih…”

Arvin nyaris tertawa. Beberapa bulan lalu mungkin ia masih akan menganggap semua ini bentuk perhatian keluarga. Tapi sekarang ia melihat pola kecil yang dulu tidak pernah ia pedulikan.

Cara Vivian mulai ikut campur urusan rumah sakit.

Cara Audrey perlahan meminta akses ke aset.

Lihat selengkapnya