Asmara Sungsang

ayu melati
Chapter #1

Tumpengan Tujuh Hari Tujuh Malam

Suasana di Keraton Jayasuro pecah seratus persen. Suara gamelan tidak berhenti bertalu-talu dari pagi ketemu pagi, menyuarakan gending-gending kebahagiaan yang menggema ke seluruh penjuru kabupaten. Udara di sekitar keraton dipenuhi perpaduan aroma yang sangat ajaib: wangi bunga melati, asap sate ayam madura yang membubung tinggi, jajan pasar yang manis, sampai kepulan aroma durian yang menyengat.

Bagaimana tidak meriah? Setelah bertahun-tahun hanya dikaruniai anak perempuan yang jumlahnya pas satu kali porsi lapangan futsal—yaitu lima orang—Sang Prabu akhirnya resmi kedatangan seorang putra mahkota. Saking bahagianya, Sang Prabu menggelar pesta rakyat besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Loss gak rewel, semua biaya ditanggung anggaran pendapatan dan belanja kerajaan!

"Kasih lagi! Nasi tumpeng, rawon, bakso, buruan dibagikan semua, Rek! Gak usah takut kehabisan!" seru Sang Prabu dari atas singgasananya yang berlapis emas.

Wajahnya semringah, berseri-seri seperti orang baru menang undian kupon sabun colek. Sesekali dia memegangi perutnya yang makin buncit karena sejak pagi sudah menghabiskan tiga porsi lodho ayam pedas ukuran jumbo.

Rakyat yang berkumpul di alun-alun depan keraton bersorak gembira, mengacungkan jempol tinggi-tinggi. "Selamat, Gusti Prabu! Hidup pangeran baru! Sering-sering aja punya anak, Gusti, biar kita makan gratis terus!"

Namun, di balik senyum lebar yang dipamerkan ke hadapan publik, sebenarnya ada keringat dingin yang mengucur deras di tengkuk Sang Prabu. Setiap kali melirik ke arah bayinya yang sedang digendong dengan penuh kasih sayang oleh sang permaisuri, jantung Sang Prabu langsung berdegup kencang. Ketukannya tidak beraturan, mirip ketukan kendang jaranan yang sedang kesurupan.

"Aduh, mati aku... bisa jantungan ini lama-lama," batin Sang Prabu, mendadak merasa mulas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan lodho ayam.

"Anak lakiku beneran lahir. Berarti sebentar lagi... si Duso Ireng itu bakalan datang nagih janji. Aduh, apa gak berabe ini?"

Sang Prabu teringat kembali kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu, dia yang putus asa karena ditekan urusan takhta, nekat melakukan perjanjian gaib di lereng Gunung Kelud. Demi mendapatkan anak laki-laki sebagai pewaris, dia tega menjanjikan Putri Ketiganya—si putri yang terkenal paling anggun, cerdas, dan bijaksana—kepada penguasa Kerajaan Iblis. Kontrak gaib ditandatangani di atas daun talas dengan tinta darah.

Tapi dasar raja culas, begitu bayinya lahir ceprot ke dunia dan berjenis kelamin laki-laki, rasa sayangnya sebagai bapak mendadak kambuh seketika. Dia mendadak kena amnesia selektif terkait perjanjian tersebut. Dia jelas tidak rela putri kesayangannya dibawa ke alam gaib untuk dijadikan tawanan, pembantu, atau entah apa di sana.

Sambil celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada rakyat atau selir yang memperhatikan, Sang Prabu memberi kode kepada patih kepercayaannya yang sedang asyik mengunyah rempeyek.

"Patih! Sini kamu, jangan makan terus!" bisik Sang Prabu. Suaranya diusahakan selirih mungkin, nyaris tenggelam di sela-sela suara tabuhan gong yang menggelegar.

Sang Patih buru-buru menelan rempeyeknya sampai tersedak sedikit, lalu bergeser mendekat. "Kulo, Gusti Prabu? Ada apa?"

"Gimana? Wis kamu laksanakan perintah rahasia yang tak kasih tadi sore?" tanya Sang Prabu dengan mata menyipit penuh intrik.

"Sampun, Gusti Prabu. Aman terkendali, terkondisikan dengan sangat sempurna," jawab sang Patih sambil membungkuk khusyuk, mencoba bersikap seprofesional mungkin. "Putri Ketiga sudah saya selundupkan ke kamar paling rahasia di sayap paling pojok. Kamarnya sudah dilapisi mantra tolak balak. Dijamin jin, setan, lelembut, sampai sales panci pun gak bakal bisa ngendus keberadaan beliau. Pokoknya beres, Bos!"

Sang Prabu akhirnya bisa bernapas lega. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi singgasana sambil tersenyum licik.

"Heh, Raja Iblis ndasmu! Rasakan itu! Dikira aku bodoh apa? Gak bakal bisa kamu temukan anakku yang paling cantik itu!" gumam Sang Prabu dalam hati, merasa dirinya sudah menjadi manusia paling jenius sejagat raya karena berhasil mengelabui hukum supranatural.

Pesta terus berlanjut hingga larut malam. Rembulan bersinar penuh di langit Jawa Timur, namun sinarnya mulai tertutup kabut tipis. Di alun-alun, rakyat mulai mabuk makanan. Banyak yang terkapar di rumput karena kekenyangan rawon. Bahkan para prajurit yang berjaga di gerbang keraton pun sudah mulai terkantuk-kantuk berat, bersandar pada tombak mereka setelah menghabiskan lima mangkok jenang sumsum.

Lihat selengkapnya