Syuuuuuutttt... BLAM!
Portal dimensi itu tertutup rapat, menyisakan bau kemenyan dan sisa aroma kopi hitam di kamar keraton yang kini kosong melompong.
Hanya dalam sekejap mata, hawa sejuk angin malam Jawa Timur berganti total menjadi atmosfer yang pengap, panas, dan didominasi oleh warna merah membara yang membakar pandangan. Mereka telah sampai di aula utama Istana Kegelapan. Dinding-dindingnya menjulang tinggi, terbuat dari batu obsidian hitam legam dengan obor-obor api abadi yang menyala di sepanjang koridor, menampilkan kesan angker yang tiada tara. Tengkorak-tengkorak makhluk purba dipasang sebagai hiasan dinding, cukup untuk membuat nyali ksatria paling berani pun ciut seketika.
Sang Putri melangkah keluar dari portal, langsung melepas tas Eiger-nya yang berat ke lantai marmer hitam, lalu berkacak pinggang melihat sekeliling aula istana. Bukannya gemetar atau bersujud memohon ampun, dia malah sibuk mengamati interior ruangan bak arsitek lanskap.
"Wah... iki tenanan omahmu tah, Mas? Estetik, tapi agak sumuk yo? Gak pakai AC ta di sini? Minimal exhaust fan lah, biar sirkulasi udaranya gak pengap begini," komentarnya tanpa dosa. Dia bahkan berbalik dan santai menepuk-nepuk pundak zirah Raja Iblis yang masih berdiri tegap mencoba berpose karismatik.
Begitu kaki mereka menapak sempurna di lantai istana, seorang ajudan setia Raja Iblis—sesosok iblis bertubuh tinggi, bermuka pucat, dan mengenakan jubah hitam lengkap dengan tanduk di kepalanya—langsung berjalan tergesa-gesa menyambut sang majikan.
Gupolo namanya, iblis birokrat yang selalu membawa papan jalan berisi protokol istana.
"Selamat datang kembali, Gusti Prabu Mahendra," ucap Gupolo sambil membungkuk lurus sembilan puluh derajat, sangat khusyuk. "Sesuai perintah panjenengan tadi sore, penjara bawah tanah yang paling gelap, dingin, lembap, dan dipenuhi kalajengking kelaparan sudah disiapkan dengan matang buat menahan Putri Keraton yang terkenal bijaksana dan anggun itu. Pasukan algojo juga sudah siap siaga."
Mendengar laporan komplit dari ajudannya, Raja Iblis baru saja mau mengangguk puas untuk memamerkan kekuasaannya. Namun, belum sempat dia bersuara, tawanannya justru beraksi lagi. Sang putri bukannya gemetar mendengar kata "penjara bawah tanah" atau "kalajengking", malah asyik mengeluarkan ponsel Android-nya dari kantong daster, mengangkat tangan tinggi-tinggi ke udara sambil celingukan ke atas. Dia sibuk mencari sinyal di sela-sela kemegahan batu obsidian.