Asmara Sungsang

ayu melati
Chapter #3

Lantai Papat Sing Marai Tobat

​Seharian ini, kepala Mahendra rasanya mau pecah berkeping-keping. Sebagai Raja Iblis kasta tertinggi yang ditakuti di tujuh dimensi kegelapan, biasanya agenda hariannya sangat berwibawa: menyusun strategi invasi, memimpin rapat paripurna bersama para dedemit, atau minimal memikirkan cara menyiksa jiwa-jiwa manusia yang tersesat di neraka. Tapi hari ini? Dia malah pusing tujuh keliling memikirkan satu tawanan barunya yang ditempatkan di menara barat.

​"Gupolo! Gimana keadaan tawanan di lantai empat?" tanya Mahendra sambil memijat pelipisnya di ruang kerja yang bernuansa gelap dan dipenuhi asap kemenyan pekat.

​Gupolo, sang ajudan setia yang biasanya berpenampilan necis dengan jubah hitamnya, membungkuk pelan. Ekspresi wajahnya yang pucat tampak sangat sulit didefinisikan—antara takjub, heran, stres berat, dan trauma batin.

​"Itu, Gusti Prabu... Sama sekali tidak kelihatan seperti tawanan blas. Mending panjenengan lihat sendiri saja nggih, saya sampai tidak mampu berkata-kata lagi. Seluruh protokol penahanan dan wibawa istana kita habis diacak-acak sama beliau," lapor Gupolo pasrah.

​Penasaran sekaligus curiga bercampur firasat buruk, Mahendra akhirnya menyibak jubah hitamnya dan melangkah menuju menara barat. Dia naik ke lantai empat menggunakan portal gaibnya yang super cepat. Begitu pintu portal meledak pelan dan terbuka, rahang Mahendra langsung jatuh bebas ke lantai. Sepasang mata merah menyalanya melotot sampai hampir keluar dari rongganya.

"Lho, lho... jingan, ini istanaku kenapa jadi Kebun Raya Bogor?!"

​Lantai empat Istana Kegelapan yang biasanya berupa tumpukan batu bata obsidian kosong nan berdebu, gelap, dingin, dan angker, kini berubah total menjadi surga tropis di dalam ruangan. Atap batu yang menyeramkan menjadi langit biru cerah dengan gumpalan awan putih yang bergerak lambat. Di bawahnya, terhampar lembah hijau dengan rumput yang sangat halus dan empuk. Sebuah sungai kecil dengan air sebening kristal mengalir tenang membelah daratan, dikelilingi pohon rindang dan bunga-bunga liar yang bermekaran. Angin sepoi-sepoi bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah yang menyegarkan. Sungguh merusak estetika kegelapan secara ugal-ugalan.

​Dan di tengah-tengah surga buatan itu, terdengar suara tawa renyah yang sangat familier.

​Mahendra berjalan mengendap-endap mendekat di balik pohon. Matanya melotot melihat pemandangan absurd di depannya. Sang putri—yang masih setia memakai daster batik longgarnya yang sudah agak pudar—sedang duduk lesehan dengan santai di atas tikar pandan. Di sekelilingnya, ada belasan tuyul dan iblis-iblis cilik bertanduk mini yang biasanya terkenal nakal, liar, dan suka menggigit tumit prajurit istana.

​Tapi hari ini, iblis-iblis cilik itu kelihatan sangat menggemaskan dan penurut. Ada dua tuyul yang sibuk memijat kaki sang putri dengan minyak telon sambil sesekali mengelap keringat. Ada iblis cilik bersayap kelelawar yang bertugas mengipasi sang putri pakai daun pisang, dan tiga iblis berbulu merah sedang asyik bermain lompat tali menggunakan usus naga tiruan, dipimpin langsung oleh sang putri sebagai instrukturnya.

​"Ayo, satu, dua, tiga... lho, kamu lompatnya telat, Le! Ndasmu malah kedugul tali kan! Ulangi, ulangi, jangan lemes kayak kurang gizi!" seru sang putri sambil tertawa lepas, lalu menyuapkan keripik pisang ke mulut salah satu tuyul di dekatnya yang langsung mengunyah girang.

​Iblis-iblis cilik itu bukannya takut, malah kegirangan setengah mati sambil berseru, "Hehehe, Mbak Roro mbois! Ayo lagi, Mbak! Seru!"

​Mahendra tidak bisa menahan diri lagi. Otoritasnya sebagai penguasa kegelapan runtuh seketika melihat anak buahnya malah dijadikan babu oleh tawanan. Dia keluar dari persembunyiannya sambil berdeham sangat keras, mengeluarkan aura merah intimidasi yang bergelombang.

​"EHEM!! Jiankkreeek, ini apa-apaan, Rek?!"

​Mendengar suara menggelegar sang Raja Iblis, belasan iblis cilik itu langsung ciut seketika. Mereka buru-buru bubar jalan, lari terbirit-birit bersembunyi di balik semak-semak bunga, menyisakan sang putri yang menoleh dengan wajah santai tanpa dosa.

​"Lho, Mas Mahendra? Sini, Mas, pinarak, duduk sini. Ini lho, bocah-bocah tak ajak main lompat tali, kasihan di sini gak ada hiburan blas. Rumahmu mbois sih gede, tapi kurang wahana bermain. Gak ada playground-nya," ujar sang putri sambil menepuk area kosong di tikar pandannya.

Lihat selengkapnya