Asmara Sungsang

ayu melati
Chapter #4

Geger Geden nang Keraton

Matahari baru saja mengintip malu-malu di ufuk timur, tapi ketenangan di Keraton Jayasuro sudah lenyap tak berbekas. Suara gending kebahagiaan pesta semalam mendadak digantikan oleh derap langkah kaki yang gedebakan dan jeritan panik para abdi dalem.

"Gusti Prabu! Ciloko, Gusti! Cilokooo!!"

Patih keraton berlari kencang di sepanjang koridor. Saking paniknya, kain jariknya sampai nyrimpeti kaki dan membuatnya nyaris terjatuh di depan pintu balairung.

Sang Prabu yang sedang asyik menyeruput kopi hangat sambil menimang pangeran baru langsung tersedak hebat. "Uhuk! Uhuk! Apa se, Patih?! Pagi-pagi wis bikin jantungan! Ono opo?!"

"Itu, Gusti... Putri Pisanan, Roro Gendhis... Nggak ada di kamarnya!" Napas Sang Patih ngos-ngosan seperti habis dikejar danyang.

Sang Prabu awalnya mengibaskan tangan dengan santai, mengurut dadanya yang kaget. "Halah, paling Roro Gendhis ya masih mblayang keluyuran nyari sego pecel pinggir jalan. Bocah iku kan emang gak betah diam di dalam keraton."

Rasa tenang Sang Prabu sebenarnya punya alasan. Baru tiga hari lalu Roro Gendhis bikin geger karena kabur mbolang naik Gunung Arjuno. Sang Prabu sampai harus mengerahkan satu peleton prajurit keraton khusus untuk menjemput paksa putri sulungnya itu dari puncak gunung. Gendhis diseret pulang tanpa ampun hanya demi satu agenda besar: dinikahkan!

"Mboten, Gusti! Ini beda!" sela emban pribadi Roro Gendhis yang tiba-tiba muncul dari balik punggung Patih dengan wajah sepucat kain kafan. "Saya tadi ke kamarnya mau nganterin teh hangat. Kamarnya kosong melompong, jendelanya menganga blak-blakan. Dan yang paling menakutkan... tas ransel 60 liter yang biasa dipakai beliau mbolang... nggih ikut hilang, Gusti!"

Lihat selengkapnya