Museum Kayu Tuah Himba, Tenggarong. Selasa, 10.17 pagi.
Awang Reza berdiri di depan papan nama sehelai kayu ulin setebal lengan orang dewasa, membacanya untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit terakhir.
"Eusideroxylon zwageri. Kayu besi. Kekerasan: kelas I. Daya tahan: hingga ratusan tahun tanpa pelapukan."
Reza mengangguk pelan. Seolah itu informasi yang sangat penting baginya. Seolah dia memang ke sini untuk belajar tentang kayu. Seolah bukan karena tiga hari lalu, di warung amplang depan gang, dia tanpa sengaja mendengar Zahra bilang ke temannya:
"Aku mau ke Museum Kayu Selasa. Katanya koleksi ulinnya bagus, cocok buat referensi sketsa."
Dan Reza — yang sudah tiga bulan hanya berani memandang Zahra dari jarak aman — mendadak menemukan alasan untuk pertama kalinya dalam hidupnya berpura-pura tertarik pada kayu.
Dia sudah di sini sejak pukul sembilan. Hampir satu setengah jam yang lalu.
Bukan karena semangat. Tapi karena takut kalau datang telat, dia akan kehilangan momen. Dan kalau terlalu cepat pulang sebelum Zahra datang, semua ini tidak ada artinya. Jadi dia berdiri di sana, berpindah dari satu etalase ke etalase lain, membaca setiap keterangan kayu dengan ekspresi serius seorang mahasiswa kehutanan yang lagi ujian skripsi.
Padahal dia lulusan SMA yang kerja di tempat cucian motor.
Dia belum tahu apa yang akan dia katakan kalau Zahra tiba. Semalam dia sudah nulis dan hapus empat draft di buku catatannya. Draft pertama terlalu formal. Draft kedua terlalu puitis — dia sendiri malu bacanya. Draft ketiga pendek tapi aneh. Draft keempat hanya berisi: "Hei."
Dia putuskan pakai yang keempat.
********
Zahra tiba pukul 10.23.
Reza tahu persis karena dia tidak sengaja memandangi pintu masuk selama dua belas menit terakhir dengan berpura-pura mengagumi koleksi kayu meranti di sebelah kiri. Kayu meranti itu tidak ada yang istimewa. Tapi sudut pandangnya sempurna ke arah pintu.
Zahra masuk dengan jilbab biru muda, tas selempang di bahu kiri, buku sketsa dipeluk di dada kanan, dan ekspresi seseorang yang benar-benar senang melihat museum. Bukan ekspresi palsu seperti Reza. Dia memang senang.
Mata Zahra langsung menyapu ruangan — dan berhenti tepat di wajah Reza.
Reza berbalik. Menatap kayu meranti.
Kayu meranti itu tetap tidak ada yang istimewa.
"Reza?"
Reza berbalik lagi. Perlahan. Seperti orang yang baru sadar ada yang memanggil namanya, padahal jantungnya sudah lari duluan dari tadi.
"Oh," katanya. "Zahra. Kamu juga ke sini?"
Kamu juga ke sini. Bukan hei. Bukan draft manapun. Tiga kata paling datar yang bisa dikeluarkan manusia.
Zahra menatapnya sebentar. Ada sesuatu yang berkilat di matanya — antara geli dan penasaran. "Iya. Kamu?"
"Lagi... lihat kayu."
Hening dua detik.
"Kelihatan," kata Zahra.
********
Mereka akhirnya berjalan bersama — bukan karena direncanakan, tapi karena Zahra dengan santainya berdiri di sebelah Reza dan mulai membuka buku sketsanya, dan Reza tidak punya alasan yang masuk akal untuk pergi ke sisi ruangan yang lain.
Zahra menggambar cepat dan presisi. Tangannya bergerak tanpa ragu — garis-garis kasar yang perlahan membentuk tekstur urat kayu ulin di kertasnya. Reza meliriknya sekali, dua kali, kemudian memaksakan pandangannya kembali ke papan keterangan.
"Kayu ulin dikenal sebagai 'kayu besi Kalimantan'. Semakin tua, semakin keras."
Reza membacanya dalam hati dan tiba-tiba merasa kalimat itu sangat relevan dengan kondisi Ka'ai Baharnya di rumah.
"Kamu sering ke sini?" tanya Zahra, tanpa mengangkat mata dari sketsanya.
"Tidak," jawab Reza jujur. Kemudian menyadari itu mungkin aneh. "Maksudnya... jarang. Tapi penasaran."
"Penasaran sama kayunya?"