ASMARADHA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #2

BAB 2 — BINTANG-BINTANG YANG TIDAK DIMINTA PENDAPATNYA

Planetarium Jagad Raya Tenggarong. Selasa, 11.04 pagi.


Hj. Aji Norsyiah — yang di seluruh RT dipanggil Mbok Nor, dan yang di dalam hatinya sendiri kadang-kadang merasa nama itu terlalu sederhana untuk perempuan yang sudah menanggung sebanyak ini — berdiri di lobi planetarium dengan ekspresi tenang yang sudah dia latih selama lima tahun menjanda.

Ekspresi itu artinya: aku baik-baik saja dan tidak membutuhkan siapa pun.

Yang tidak terlihat dari luar: jantungnya sedang berdebat dengan otaknya soal apakah keputusan untuk datang ke sini — hari ini, jam ini, sendiri — adalah ide yang cerdas atau bencana yang tertunda.

Dia ke sini karena kue cincin dagangannya sudah habis terjual sejak pukul sembilan. Karena arisan tidak ada sampai Kamis. Karena majelis taklim libur. Karena di rumah hanya ada Reza yang sejak tadi pagi pergi entah ke mana tanpa penjelasan yang memuaskan — "jalan-jalan dulu, Mbok" — dan Ka'ai Bahar yang sedang menonton drama vertikal di hp dengan volume yang sepertinya sedang berkompetisi dengan azan.

Jadi dia ke sini. Untuk piknik mental, katanya pada dirinya sendiri.

Bukan karena kemarin, dari jendela dapur, dia melihat Pak Rustam dari keluarga sebelah membawa amplang ke warung sambil sesekali melirik ke arah rumah mereka.

Bukan karena itu.

********

Pak Rustam tiba pukul 11.09.

Dia masuk dengan langkah seseorang yang yakin dengan tujuannya, meski tujuannya sendiri tidak terlalu jelas bahkan untuk dirinya sendiri. Kaos polo biru tua, celana chino abu-abu — bukan baju pasar. Rambutnya disisir rapi. Ini detail yang tidak akan diperhatikan oleh kebanyakan orang, tapi Mbok Nor bukan kebanyakan orang.

Dia memperhatikan dari sudut.

Pak Rustam memindai lobi. Berhenti. Melihat Mbok Nor.

Mbok Nor segera mengalihkan pandangan ke brosur planetarium yang sedang dipegangnya — brosur yang sudah dia baca tiga kali tapi tidak ada satu faktapun yang masuk ke kepalanya.

"Mbok Nor?"

Kenapa suaranya selalu terdengar terlalu hangat untuk situasi yang seharusnya biasa-biasa saja.

Mbok Nor mengangkat wajah. Ekspresi tenang itu dipasang sempurna. "Oh, Pak Rustam. Bapak juga ke sini?"

Sebuah pertanyaan yang hari itu, di kota Tenggarong, sudah diucapkan dua kali oleh dua orang berbeda.

"Iya," kata Pak Rustam. Dia tersenyum — senyum lebar dan polos yang menjadi sumber malapetaka tersendiri karena terlihat terlalu tulus. "Lagi ada waktu kosong. Zahra tadi pagi juga pergi, katanya mau ke museum. Jadi rumah sepi."

Mbok Nor mengangguk. "Reza juga pergi pagi."

Mereka berdua diam sebentar, masing-masing menyimpan pengetahuan yang belum siap diucapkan: bahwa anak-anak mereka kemungkinan besar sedang pergi ke tempat yang sama, dan kemungkinan besar tidak sendirian.

"Masuk sekalian?" tanya Pak Rustam.

"Sudah beli tiket," jawab Mbok Nor.

********

Sesi planetarium berlangsung empat puluh menit — proyeksi kubah raksasa berisi bintang-bintang, galaksi, dan narasi astronomi yang dibacakan dengan suara tenang seorang pemandu yang jelas sudah melakukan ini ratusan kali dan sudah tidak lagi terkesan dengan Bimasakti.

Kursi penonton melingkar menghadap ke atas. Ruangan gelap total begitu proyeksi dimulai.

Pak Rustam dan Mbok Nor duduk bersebelahan.

Bukan karena mau. Tapi karena saat lampu mati, Pak Rustam baru sadar bahwa posisi duduknya hanya berjarak dua kursi dari Mbok Nor, dan berpindah tempat dalam kegelapan total akan membutuhkan penjelasan yang lebih canggung dari sekadar duduk diam.

Jadi mereka duduk diam.

Di atas mereka, ribuan bintang bergerak perlahan. Galaksi-galaksi berputar. Pemandu menjelaskan jarak yang tidak bisa dibayangkan otak manusia normal.

Di bawahnya, dua orang dewasa berusia empat puluhan sedang sangat sibuk pura-pura khusyuk menatap langit-langit kubah, padahal pikiran masing-masing sedang beroperasi di frekuensi yang sama sekali tidak astronomi.

********

Lihat selengkapnya