ASMARADHA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #3

BAB 3 — TIGA PEREMPUAN DAN SATU USTADZ YANG TIDAK BISA DIGANGGU

Teras Masjid Al-Muttaqin, Kompleks RT 07. Selasa, 16.45 sore.

 

Ada tiga hal yang paling cepat tersebar di RT 07: kabar kematian, kabar kelahiran, dan kabar apapun yang masuk ke telinga Ibu Ros sebelum jam dua belas siang.

Ibu Ros, Ibu Yati, dan Ibu Lin sudah duduk di teras masjid sejak pukul empat kurang seperempat. Tidak ada yang mengundang mereka. Tidak ada agenda resmi. Mereka hadir dengan cara yang sudah menjadi tradisi tidak tertulis selama bertahun-tahun: cukup ada satu dari ketiganya yang merasa ada sesuatu yang perlu dibahas, maka dalam waktu kurang dari satu jam ketiganya sudah duduk berdampingan dengan camilan di meja.

Hari ini yang ada di meja adalah amplang — dua bungkus, satu sudah terbuka. Amplang selalu ada. Entah dari mana asalnya, entah siapa yang membeli, entah sejak kapan benda itu menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap sesi mereka. Amplang hadir seperti tasbih di tangan Nek Ani, seperti peci di kepala Ka'ai Bahar — bukan aksesori, tapi bagian dari identitas.

"Jadi, aku yang lihat sendiri," kata Ibu Ros untuk ketiga kalinya sejak mereka duduk. Nada ulangnya tidak berkurang sedikitpun. Justru setiap putaran makin kaya detail, seperti laporan yang terus diperbarui dengan informasi tambahan yang entah dari mana datangnya. "Di ruang ketiga — yang ada koleksi dayung dan sumpit itu. Mereka berdua sembunyi di belakang lemari display yang tinggi. Dekat sudut yang lampunya mati."

"Sembunyi?" Ibu Yati melebarkan matanya. Perempuan Bugis lima puluhan ini punya kebiasaan mengulangi kata kunci lawan bicara dengan penekanan berbeda, seolah sedang mengkonfirmasi transkrip intelijen yang harus akurat sampai titik komanya.

"Sembunyi. Dengan sengaja. Bukan nyasar."

"Dan mereka keluar bareng ke ruang berikutnya," lanjut Ibu Yati, melengkapi cerita yang sudah didengarnya tiga kali tapi tetap dia ikuti dengan seksama karena siapa tahu ada detail baru.

"Bareng. Berdua. Satu pintu."

Ibu Lin, yang Dayak dan merupakan anggota paling pendiam dari trio ini, mencomot amplang dan mengunyahnya pelan. Wajahnya tidak banyak berubah ekspresi dalam kondisi apapun — ini bukan karena dia tidak peduli, tapi karena dia sudah lama menemukan bahwa ekspresi datar adalah cara paling efisien untuk menyimpan energi di tengah percakapan yang intensitasnya bisa berubah sewaktu-waktu. "Tapi belum tentu apa-apa. Mungkin memang kebetulan ketemu di sana."

Ibu Ros menatapnya dengan pandangan yang biasa dia pakai ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang menurutnya meremehkan kemampuan analisisnya. "Lin. Dengarkan baik-baik. Anak laki-laki dua puluh tahun pergi ke museum kayu sendirian — bukan ke warnet, bukan ke lapangan futsal, museum kayu — di hari kerja, jam sepuluh pagi. Anak perempuan delapan belas tahun juga pergi ke museum kayu yang sama, jam yang sama, hari yang sama. Mereka ketemu. Mereka jalan bareng dari satu ruang ke ruang lain. Dan ketika ada orang yang kenal keluarga mereka masuk ke ruangan yang sama, mereka berdua langsung bersembunyi di balik lemari."

Dia berhenti sebentar untuk mengambil napas.

"Menurut kamu itu kebetulan?"

Ibu Lin mengunyah amplangnya. Berpikir sejenak. "Kebetulan yang... sangat terencana."

"Nah. Tepat sekali." Ibu Ros menepuk meja pelan, bukan karena marah, tapi karena memang begitu caranya menegaskan kesimpulan. "Dan ini bukan urusan kecil. Ini dua keluarga yang bertetangga. Dua suku bangsa berbeda. Dua orang tua yang masing-masing sudah punya sejarah — Mbok Nor janda, Pak Rustam duda. Kalau ini dibiarkan tanpa ada yang tahu, bisa berkembang ke arah yang tidak diantisipasi siapapun."

"Berkembang ke arah yang baik juga bisa," kata Ibu Lin.

"Itu bukan poin-nya."

"Lalu apa poin-nya?"

Lihat selengkapnya