ASMARADHA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #4

BAB 4 — CERAMAH MALAM DAN SATU TELINGA YANG PURA-PURA TIDAK DENGAR

Rumah Keluarga Bahar, RT 07. Selasa, 20.30 malam.


Ada seni tersendiri dalam cara Reza membuka pintu rumah ketika pulang malam.

Bukan karena dia sering pulang malam — Ka'ai Bahar menetapkan batas waktu yang tidak pernah resmi diumumkan tapi semua orang di rumah tahu persis angkanya. Tapi karena setiap kali Reza pulang, ada periode tiga sampai lima detik antara pintu terbuka dan langkah pertama masuk ke dalam, di mana dia mengumpulkan informasi dari suara dan cahaya: lampu ruang tengah menyala atau tidak, ada suara hp atau tidak, posisi kursi kayu jati itu ada penghuninya atau tidak.

Hari ini: lampu menyala, hp diam, kursi berpenghuni.

Strategi standar tidak akan bekerja.

Reza mengucap salam dengan volume yang sudah dikalibrasi — tidak terlalu pelan sehingga terkesan menghindari, tidak terlalu keras sehingga terkesan memancing perhatian.

"Wa'alaikumsalam." Ka'ai Bahar duduk di kursi kayunya dengan posisi yang tidak berubah sejak mungkin dua jam lalu — tegak, kedua tangan di atas lutut, pandangan ke arah pintu. Hp tergeletak di meja dengan layar mati. Ini artinya sesi menonton sudah selesai dan energi yang biasanya tersalurkan ke drama vertikal sekarang sepenuhnya tersedia untuk keperluan lain. "Dari mana?"

"Jalan-jalan, Ka'ai."

Ka'ai Bahar mengerutkan dahi. Kerutan itu bukan kerutan marah — Ka'ai Bahar tidak mudah marah, dan itu justru yang membuat beliau lebih mengintimidasi dari orang yang mudah marah. Kerutan itu adalah kerutan yang artinya: jawaban ini tidak memuaskan dan kita belum selesai.

"Jalan-jalan ke mana?"

Reza berhenti di tengah ruangan, masih berdiri, karena duduk terlalu cepat sebelum pertanyaan utama dijawab kadang-kadang dibaca sebagai sikap tidak hormat. Ini sistem protokol yang tidak pernah diajarkan secara eksplisit tapi sudah terinternalisasi selama dua puluh tahun. "Ke museum, Ka'ai. Museum Kayu."

"Museum Kayu." Ka'ai Bahar mengulang nama itu dengan nada netral yang tidak memberi petunjuk apakah beliau percaya atau tidak. "Sendirian?"

"Iya."

Di balik kata itu, ada dua detik di mana jantung Reza bekerja lebih keras dari yang seharusnya. Bukan karena takut ketahuan — karena secara teknis dia tidak berbohong, dia memang ke museum. Tapi karena ada celah antara yang dikatakan dan yang sepenuhnya terjadi, dan celah itu terasa sangat lebar ketika berhadapan dengan seseorang yang sudah enam puluh lima tahun mengasah kemampuannya membaca orang.

Lihat selengkapnya