Rumah Ibu RT, RT 07. Rabu, 19.30 malam.
Pengajian mingguan RT 07 punya ritme yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun dan tidak pernah berubah meski penghuninya berganti. Mulai setelah Isya, selesai sebelum jam sembilan, diakhiri makan kue bersama yang dalam praktiknya memakan waktu lebih lama dari tausiyahnya sendiri — karena kue tidak punya batas maksimal yang jelas, sementara tausiyah Ustadz Hafiz selalu dijaga singkat dan padat.
Malam ini istri Pak RT baru pulang dari umroh dan membawa oleh-oleh kurma Madinah. Kurma Madinah, seperti yang sudah dibuktikan secara empiris di RT ini selama bertahun-tahun, meningkatkan angka kehadiran pengajian antara dua puluh sampai tiga puluh persen. Bukan karena warganya tidak ikhlas — mereka ikhlas — tapi karena kurma yang dimakan bersama terasa berbeda dari kurma yang dimakan sendiri di rumah.
Ibu Darsih, yang duduk di barisan paling depan dengan badan yang selalu berhasil mengisi dua pertiga dari lebar kursinya, berhasil datang tiga menit lebih awal dari biasanya malam ini. Alasannya tidak pernah dia ucapkan. Tapi semua orang tahu.
Ka'ai Bahar hadir di barisan ketiga. Nek Ani masuk beberapa menit kemudian dan hendak duduk di barisan kedua posisi tengah, tapi Ibu Darsih sudah mengisi posisi itu dengan sempurna. Nek Ani bergeser ke kiri — dan duduk persis di diagonal belakang Ka'ai Bahar.
Tidak ada yang memperhatikan ini.
Kecuali Ibu Ros, yang sudah duduk sejak tadi di barisan kelima dengan pandangan yang mencakup seluruh ruangan seperti kamera CCTV yang bisa berpikir.
********
Ustadz Hafiz membuka tausiyah dengan cara yang tidak ada yang menduganya — sebuah pertanyaan.
"Ibu-bapak sekalian," katanya, memandang ke hadirin dengan tenang. "Malam ini saya mau tanya dulu sebelum ceramah. Ada yang tahu kenapa Allah menciptakan rasa malu?"
Ruangan diam. Pertanyaan terbuka seperti ini selalu memicu momen yang sama: semua orang melihat ke bawah atau ke samping, berharap orang lain yang menjawab duluan.
Pak RT merasa jabatannya menuntut dia tampil di depan. Mengangkat tangan setengah. "Supaya manusia tidak sembarangan berbuat, Ustadz?"
"Bisa jadi. Ada lagi?"
Ibu Darsih, yang biasanya diam, tiba-tiba bersemangat karena kurma yang baru ditelannya terasa sangat manis. "Supaya kita sopan dan tidak sombong?"
"Bagus. Ada lagi?"
Pak Hendra dari barisan belakang, yang jarang berbicara di forum apapun, mencoba peruntungannya: "Supaya manusia punya batas, Ustadz? Biar tidak liar?"
"Benar juga." Ustadz Hafiz mengangguk ke tiga arah secara bergantian. "Semuanya betul. Tidak ada yang salah." Beliau berhenti sebentar, memindai ruangan dengan pandangan yang tenang. "Nabi kita, shalallahu alaihi wasallam, bersabda: al-hayaa-u minal iman — malu itu sebagian dari iman. Rasa malu adalah tanda bahwa seseorang masih punya hati yang hidup."
Beliau mengangkat satu jari.
"Tapi ada sesuatu yang sering kita lupa soal rasa malu ini."
Ruangan lebih diam dari tadi.
"Malu itu kodratnya untuk menahan kita dari yang Allah larang. Bukan untuk menahan kita dari yang Allah halalkan." Ustadz Hafiz berbicara dengan tempo yang tidak pernah naik, tidak pernah turun — mengalir seperti sungai yang sudah tahu persis ke mana muaranya. "Banyak di antara kita yang malu untuk minta maaf duluan padahal sudah jelas salah. Malu untuk bilang terima kasih padahal sudah jelas terbantu. Malu untuk mengungkapkan perasaan yang halal, kepada orang yang tepat, dengan cara yang benar." Beliau berhenti sebentar. "Itu bukan malu yang terpuji. Itu malu yang salah tempat. Dan malu yang salah tempat itu, diam-diam, bisa jadi tirai yang menutupi keberkahan yang sudah Allah siapkan di depan mata kita."
Di barisan ketiga, Ka'ai Bahar mengangguk — anggukan penuh, anggukan orang yang sangat setuju dengan pernyataan umum ini dan sama sekali tidak merasa pernyataan itu berkaitan dengan kondisi pribadinya.
Di diagonal depannya, Nek Ani mengangguk juga. Tasbihnya berputar pelan. Ekspresi khusyuk sempurna.
Ibu Ros, dari barisan kelima, melihat dua anggukan itu. Matanya berpindah dari Ka'ai Bahar ke Nek Ani, ke Ustadz Hafiz, kembali ke Ka'ai Bahar. Lalu dia berbisik ke Ibu Yati di sebelahnya:
"Ustadz ini tahu sesuatu."
"Atau tausiyahnya kebetulan nyambung," bisik Ibu Yati.
"Yati. Di dunia ini tidak ada yang kebetulan."
"Itu juga kata Ustadz Hafiz."
"Makanya betul."
"Ibu Ros," bisik Ibu Lin dari sisi kiri, tanpa menoleh. "Kita lagi pengajian."