Teras Masjid Al-Muttaqin. Kamis, 09.15 pagi.
Kali ini Trio Ibu-Ibu Rumpi datang dengan persiapan yang jauh lebih matang.
Ibu Ros membawa catatan di balik beberapa struk belanjaan yang direkatkan dengan selotip menjadi satu lembar panjang. Di sana tertulis nama, waktu, lokasi, deskripsi kejadian, dan analisis singkat di kolom kanan dengan pulpen merah. Bintangnya banyak — lebih banyak dari laporan pertama. Ibu Yati membawa hp dengan beberapa foto dari pengajian semalam: kualitasnya buram, tapi niatnya hadir dan disertai keterangan verbal yang panjang. Ibu Lin membawa amplang dua bungkus, kacang goreng satu bungkus, dan — sebagai antisipasi — permen jahe tiga butir karena tenggorokannya agak tidak nyaman pagi ini.
Ustadz Hafiz sudah ada di kursi rotannya. Kopi. Pandangan ke halaman. Ekspresi yang persis sama seperti hari Selasa — tenang, tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah menyelesaikan semua urusannya sebelum jam enam pagi dan sekarang hanya tinggal menikmati sisanya.
"Assalamualaikum, Ustadz."
"Wa'alaikumsalam." Beliau memandangi bungkusan-bungkusan yang dibawa Ibu Lin. "Hari ini persiapannya lebih lengkap."
"Amplang, kacang, sama permen jahe," lapor Ibu Lin.
"Permen jahanya untuk siapa?"
"Untuk saya. Tenggorokan saya agak tidak nyaman."
"Istirahat yang cukup, Bu Lin."
"Insya Allah, Ustadz." Ibu Lin meletakkan semuanya di meja. "Amplang dan kacangnya untuk bersama."
"Terima kasih." Ustadz Hafiz mengambil kacang goreng, membuka bungkusnya pelan. "Silakan duduk. Ada kabar baru?"
Ibu Ros membuka catatannya. Kali ini laporannya lebih terstruktur dari yang pertama — ada latar belakang, perkembangan kronologis, dan temuan terbaru dari pengajian semalam. Dia menceritakan detail meja minuman, jarak satu setengah meter, teh yang dituang terlalu penuh, kurma yang ditawarkan dengan alasan yang tidak terlalu kuat. Ibu Yati menunjukkan foto sambil memberi keterangan yang membantu kontekstualisasi gambar-gambar yang kualitasnya menyedihkan.
"Ini foto Ka'ai Bahar di barisan ketiga," kata Ibu Yati sambil menunjuk gambar berbentuk siluet gelap. "Dan ini Nek Ani di barisan kedua, diagonal."
Ustadz Hafiz melihat hp-nya. Diam sebentar. "Yang mana Ka'ai Bahar dan yang mana Nek Ani?"
"Yang kiri Ka'ai Bahar. Yang kanan Nek Ani."
"Yang kiri gelap semua. Yang kanan juga gelap semua."
"Iya, lampunya kurang terang di sana." Ibu Yati tidak kehilangan keyakinan. "Tapi mereka ada di sana, Ustadz. Saya jamin."
"Ibu Yati yang lihat langsung?"
"Dengan kedua mata saya."
"Kalau begitu foto ini tidak diperlukan." Ustadz Hafiz mengembalikan hp. "Kesaksian langsung lebih kuat dari foto yang tidak bisa dibedakan isinya."
Ibu Yati memasukkan hp ke saku dengan ekspresi seseorang yang kalah argumen tapi tidak merasa perlu mengakuinya secara verbal.
Ibu Lin menambahkan konteks tentang kebiasaan Nek Ani menuang teh — data yang ternyata sudah dia perhatikan sendiri tanpa memberitahu siapapun.
"Jadi sekarang tiga pasang, Ustadz," simpul Ibu Ros. "Tiga generasi. Satu kompleks. Semuanya bergerak diam-diam, semuanya belum mengaku, semuanya gengsi setinggi langit-langit masjid ini."
Ustadz Hafiz mendengarkan semuanya dengan tenang. Menyesap kopi sekali di tengah laporan. Ketika Ibu Ros selesai, beliau diam beberapa detik yang terasa lebih panjang dari hitungannya.
"Ibu Ros," katanya akhirnya. "Ibu bisa masak?"
Ibu Ros menatapnya. "Bisa, Ustadz. Kenapa?"
"Pernah masak sayur lodeh?"
"Sering. Hampir tiap minggu."
"Kalau bumbunya sudah masuk semua, sayurnya sudah dipotong rapi, apinya sudah tepat — menurut ibu, apa yang paling susah dari masak sayur lodeh?"
Ibu Ros berpikir. Ini pertanyaan yang tidak ada hubungan jelasnya dengan laporan yang baru saja dia sampaikan, tapi dia sudah cukup lama mengenal Ustadz Hafiz untuk tahu bahwa pertanyaan yang terlihat tidak berhubungan itu biasanya adalah inti dari segalanya. "Kalau bahan-bahannya sudah beres semua... tidak ada yang susah."
"Yang paling susah," kata Ustadz Hafiz, "adalah tidak ikut campur."
Hening.
"Sayur lodeh yang paling enak adalah yang dimasak dengan sabar. Tidak diaduk setiap dua menit karena khawatir gosong. Tidak dicicipi terus-menerus karena curiga kurang asin. Tidak ditambah bahan baru di tengah jalan karena tiba-tiba merasa ada yang kurang." Beliau meletakkan cangkirnya. "Kalau semua sudah pada tempatnya, tugas juru masak yang sesungguhnya adalah: percaya pada prosesnya."
Ibu Ros menyimak itu dengan seksama. Kemudian, dengan nada yang sudah menyiapkan argumennya sejak beberapa detik lalu: "Tapi Ustadz, kalau tidak ada yang mengawasi sama sekali, sayurnya bisa gosong di bagian bawah tanpa ada yang tahu."
Ustadz Hafiz diam. Menatap Ibu Ros.