ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #7

BAB 7 — ENAM JUMAT YANG BUKAN KEBETULAN

Pasar Mangkurawang, Tenggarong. Jumat, 07.30 pagi.


Ada kategori kejadian di dunia ini yang secara resmi disebut kebetulan, tapi yang kalau dihitung frekuensinya dengan cermat akan menghasilkan angka yang terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.

Mbok Nor pergi ke pasar setiap Jumat pagi. Ini jadwal tetap sejak lima tahun lalu, sejak dia memutuskan berjualan kue dan lebih efisien membeli bahan langsung dari pasar daripada dari warung yang sudah dua lapis harganya. Dia berangkat pukul tujuh, tiba pukul tujuh lewat sepuluh sampai dua belas, mulai dari lapak Ibu Sari yang tepungnya selalu segar, kemudian bergerak ke gula merah, pandan, santan. Jadwal ini tidak pernah berubah.

Yang berubah, sejak enam minggu terakhir, adalah kehadiran seseorang di lorong yang sama.

Pak Rustam memiliki kios amplang di Tangga Arung Square. Kios yang sudah berjalan delapan tahun, yang bahan bakunya dikirim supplier langsung ke kios setiap dua minggu, yang tidak membutuhkan kunjungan ke pasar tradisional untuk keperluan apapun. Ini fakta yang diketahui seluruh RT.

Tapi sejak enam minggu lalu, setiap Jumat pagi, ada seorang pedagang amplang dari Square yang tiba-tiba punya keperluan di Pasar Mangkurawang. Dengan baju yang lebih rapi dari baju belanja biasa. Dengan rambut yang disisir. Dengan pembelian yang berubah-ubah setiap minggunya — pernah wortel, pernah bayam, pernah bawang merah, minggu lalu kentang, dan hari ini entah apa lagi.

Mbok Nor sudah tahu ini pola sejak Jumat ketiga. Dia hanya belum memutuskan apa yang akan dilakukan dengan pengetahuan itu.

********

Dia sedang memilih gula merah di lorong tengah ketika suara itu datang dari arah kiri — dari lorong yang isinya bukan gula merah dan tidak ada alasan logistik apapun untuk pedagang amplang berada di sana.

"Mbok Nor!"

Mbok Nor menyelesaikan memilih gulanya. Satu bulatan yang padat, tidak terlalu lembab. Memasukkannya ke kantong. Baru kemudian berbalik.

Pak Rustam datang dari arah lorong tahu tempe dengan langkah yang terlalu yakin untuk seseorang yang tidak punya tujuan jelas. Kemeja biru dongker. Rambut rapi. Jam tangan. Ini pukul tujuh tiga puluh pagi di Pasar Mangkurawang, tapi penampilan beliau setara dengan penampilan untuk acara arisan paling formal sekalipun.

Di tangannya ada kantong plastik.

"Pak Rustam." Mbok Nor menatapnya dengan ekspresi yang sudah dikalibrasi selama lima tahun menjanda: ramah secukupnya, hangat secukupnya, tidak mengundang dan tidak menolak. "Juga ke sini?"

"Kebetulan ada keperluan." Pak Rustam menoleh ke kantong plastiknya. Jeda yang terlalu panjang untuk seseorang yang harusnya tahu apa yang baru dibelinya. "Beli kacang panjang."

Mbok Nor menatap kantong itu. "Itu tahu."

Pak Rustam melihat kantongnya lagi. Lebih lama. "Oh. Iya. Tahu. Tapi tadi rencananya kacang panjang."

"Kenapa berubah?"

Lihat selengkapnya