ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #8

BAB 8 — TUJUH PULUH DUA EPISODE, DAN BEBEK YANG TIDAK BERSALAH

Rumah Keluarga Bahar, Ruang Tengah. Sabtu, 21.00 malam.


Ka'ai Bahar punya satu rahasia kecil yang beliau pikir tersimpan dengan sangat rapi.

Beliau menonton drama vertikal Cina.

Bukan sekadar menonton. Menonton dengan sistem. Dengan jadwal. Dengan protokol yang sudah dioptimalkan selama dua minggu terakhir: earphone kabel — bukan bluetooth, karena earphone bluetooth menyala dengan lampu kecil yang bisa ketahuan dari jauh — dimasukkan ke telinga sebelum duduk di kursi, bukan sesudah. Hp dipegang dengan sudut tiga puluh derajat ke kanan sehingga layarnya tidak terlihat langsung dari pintu masuk. Timing dipilih setelah Isya ketika Reza biasanya di kamar dan Mbok Nor di dapur sedang beres-beres.

Sistemnya, menurut penilaian Ka'ai Bahar sendiri, hampir sempurna.

Yang tidak masuk dalam kalkulasi sistem itu: drama yang sedang ditontonnya semakin malam semakin menyerap perhatian, dan semakin terserap perhatiannya, semakin tipis filter antara pikiran dan mulut.

Malam ini episode tujuh puluh dua. Dalam empat belas hari.

Drama itu bercerita tentang dua keluarga besar dari klan berbeda di era dinasti Cina — dua orang tua yang awalnya bermusuhan karena urusan bisnis dan gengsi leluhur, yang perlahan, sangat perlahan, dengan banyak salah paham dan banyak ceramah tentang harga diri marga, menyadari bahwa mereka sudah lama saling memperhatikan dengan cara yang berbeda dari cara memperhatikan musuh.

Apakah Ka'ai Bahar mengidentifikasi diri dengan tokoh kakeknya?

Pertanyaan itu tidak akan pernah dijawabnya secara verbal. Tapi angka tujuh puluh dua adalah angka yang bisa berbicara sendiri.

********

Reza pulang dari tempat kursus desain grafis pertamanya. Membuka pintu. Salam dengan volume yang sudah dikalibrasi.

Ka'ai Bahar tidak menoleh. Beliau menghadap depan, earphone di kedua telinga, mata ke layar hp yang malam ini dipegang dengan sudut yang tidak optimal — karena episode tujuh puluh dua rupanya membutuhkan perhatian penuh yang membuat optimasi sudut hp menjadi prioritas kesekian.

Reza berdiri di dekat pintu. Diam.

Di layar hp Ka'ai Bahar, terlihat jelas: dua tokoh tua. Seorang kakek berpakaian biru tua berdiri di depan pintu paviliun utama. Seorang nenek berpakaian merah tua berdiri beberapa langkah darinya, setengah berbalik seolah hendak pergi. Subtitle mengalir di bagian bawah layar dengan huruf yang cukup besar untuk dibaca dari jarak dua meter.

"Kenapa kau selalu pergi sebelum aku sempat mengatakan apapun?"

"Karena kalau aku tetap di sini, aku tidak akan bisa berpura-pura lebih lama lagi."

Ka'ai Bahar menonton dengan ekspresi yang tidak pernah Reza lihat dalam dua puluh tahun hidupnya bersama beliau. Ekspresi yang lebih lunak di sekitar mata. Lebih terbuka di sekitar mulut. Seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang mengingatkannya pada sesuatu yang lain — dan yang tidak bisa sepenuhnya menjaga jarak dari apa yang dilihatnya.

Di layar, tokoh kakek mengambil satu langkah ke arah tokoh nenek.

"Aku sudah menunggu terlalu lama. Umur kita bukan lagi umur yang punya waktu luang untuk terus menunggu."

Ka'ai Bahar mengangguk. Bukan anggukan kecil — anggukan yang sungguh-sungguh, anggukan orang yang setuju dengan sesuatu yang sudah lama dipikirkannya dan baru menemukan kalimatnya dari mulut orang lain.

Kemudian beliau berbicara.

"Nah. Dari tadi harusnya." Suara Ka'ai Bahar pelan tapi jelas di ruangan sepi itu — nada yang sangat dikenal Reza sebagai nada Ka'ai-sedang-menasihati-seseorang. "Sudah kepala enam, masih malu-maluin. Malu sama siapa? Sama bebek?"

Reza tidak bernapas.

Di layar, tokoh nenek berhenti melangkah. Berbalik sedikit. "Kalau aku bilang iya, kau tidak akan pergi lagi?"

Lihat selengkapnya