ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #9

BAB 9 — PERTANYAAN YANG TEPAT, NAMUN JAWABAN YANG TIDAK TEPAT

Rumah Keluarga Rustam, Teras. Minggu, 15.30 sore.


Zahra menyimpan apa yang dilihat dan didengarnya di Pasar Mangkurawang selama dua hari penuh.

Bukan karena tidak ingin bicara. Zahra pada dasarnya lebih mudah bicara dari kebanyakan orang di sekitarnya — lebih mudah dari Reza yang menulis empat draft dialog tapi tidak mengirim satupun, lebih mudah dari Pak Rustam yang beli tahu tanpa tahu mau dimasak apa. Yang dia butuhkan bukan keberanian. Yang dia butuhkan adalah waktu yang tepat dan cara yang pas.

Karena dari bertahun-tahun bersama Pak Rustam, Zahra sudah hafal: pertanyaan yang diajukan dengan cara yang salah akan mendapat satu dari tiga hasil. Pertama, jawaban yang berputar jauh sebelum mendekati inti. Kedua, senyum lebar yang tidak menjawab apa-apa tapi terlihat sangat tulus sehingga sulit untuk dilanjutkan. Ketiga, dan ini yang paling konsisten — masuknya Nek Ani dari pintu dalam dengan timing yang selalu sempurna buruknya.

Jadi Zahra menunggu sore Minggu. Pak Rustam biasanya di teras menghitung stok kios, Nek Ani sholat Ashar di kamar dulu sebelum keluar. Ada jendela waktu sekitar dua puluh menit sebelum Nek Ani muncul.

Zahra membawa dua gelas teh. Meletakkan satu di depan Pak Rustam yang sedang membungkuk di atas laptop dan buku catatannya. Duduk di kursi seberang. Membiarkan beberapa menit berlalu dalam diam yang tidak dipaksakan.

"Pak."

"Hmm." Pulpen tidak berhenti bergerak.

"Boleh tanya sesuatu?"

"Boleh." Masih tidak mengangkat muka.

"Kenapa Bapak tidak suka kalau aku dekat sama orang dari keluarga sebelah?"

Pulpen berhenti di tengah angka yang belum selesai. Pak Rustam tidak langsung mengangkat muka — matanya masih di buku catatan, tapi pikirannya jelas sudah tidak di sana.

"Siapa bilang Bapak tidak suka?"

"Bapak tidak pernah bilang suka juga."

Pak Rustam meletakkan pulpen. Mengambil teh. Menyesap. Semua gerakan terstruktur yang — seperti yang pernah dikomentari Nek Ani — sudah sama persis dari usianya lima tahun sampai sekarang kalau sedang mencari waktu.

"Bapak tidak bilang tidak suka," katanya akhirnya. "Bapak hanya... Zahra masih muda. Reza juga masih muda. Belum ada yang mapan, belum jelas ke depannya mau bagaimana—"

"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Pak."

Pak Rustam mengangkat mukanya. Menatap anaknya.

Zahra menatap balik. Tidak dengan ekspresi konfrontasi — dengan ekspresi seseorang yang sudah mengumpulkan potongan-potongan informasi selama beberapa hari dan sekarang duduk dengan semuanya di tangan, hanya butuh satu bagian terakhir.

"Aku tidak minta alasan yang kedengarannya masuk akal," kata Zahra, lebih pelan. "Aku minta yang jujur."

Pak Rustam membuka mulut. Tepat di saat itu—

Pintu dalam terbuka.

Nek Ani keluar dengan mukena masih terpasang, tasbih di tangan kiri, dan ekspresi segar orang yang baru selesai ibadah dan langsung siap mengurus urusan duniawi. Tujuh belas menit. Tiga menit lebih cepat dari perkiraan.

Zahra menghela napas dalam hati.

Nek Ani membaca situasi di teras dalam dua detik — dua gelas teh, satu belum disentuh, Pak Rustam dengan ekspresi seseorang yang baru saja hampir mengatakan sesuatu dan bersyukur diselamatkan oleh waktu. Beliau duduk di kursi ketiga tanpa diundang karena ini memang rumahnya.

"Zahra nanya apa?" langsung.

"Tidak ada, Ma—"

"Rustam." Nek Ani memotong dengan nada yang tidak butuh volume tinggi untuk terdengar tegas. "Dari alis kirimu Mama sudah tahu. Dua puluh tahun tidak berubah."

Pak Rustam menghela napas dengan cara seseorang yang sudah terbiasa menyerah pada satu kekuatan yang tidak bisa dikalahkan dalam hidupnya. "Zahra tanya kenapa Bapak tidak suka dia dekat sama anak tetangga sebelah."

Nek Ani mengangguk pelan. Tasbihnya mulai berputar. "Zahra, duduk dulu."

"Sudah duduk dari tadi, Nek."

Lihat selengkapnya