ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #10

BAB 10 — ENAM ORANG, DAN KURMA YANG BERPINDAH TANGAN

Halaman RT 07, Syukuran Pindah Rumah Pak Doni. Minggu, 19.00 malam.


Pak Doni adalah warga baru yang pindah ke rumah pojok yang kosong dua tahun. Dia mengadakan syukuran kecil — nasi kuning, kue, doa bersama — sebagai perkenalan resmi kepada seluruh RT. Undangan disebar lewat grup WhatsApp tiga hari sebelumnya. Responsnya hampir seratus persen hadir.

Nasi kuning selalu berhasil. Ini sudah dibuktikan secara empiris di RT ini berkali-kali.

Halaman Pak Doni cukup luas dengan tenda tambahan di sisi kiri. Lampu-lampu digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya yang hangat. Anak-anak berlarian. Bapak-bapak berkumpul di kanan. Ibu-ibu di kiri. Di sudut tenda ada anak yang ditugaskan baca puisi tapi lebih banyak melirik ke ibunya untuk minta dikuatkan.

Sebelum acara dimulai, Ustadz Hafiz diminta memimpin doa pembukaan. Beliau berdiri di depan dengan tenang, memandang kerumunan warga yang sudah berkumpul, dan membuka dengan satu kalimat yang nadanya sama persis dengan nada beliau di teras masjid, di pengajian, dan di setiap forum apapun yang pernah beliau isi:

"Alhamdulillah, kita berkumpul malam ini dalam keadaan sehat dan dalam suasana yang menyenangkan. Dalam Islam, berkumpul dengan niat yang baik itu sendiri sudah bernilai ibadah." Beliau berhenti sebentar. "Dan salah satu tanda keberkahan sebuah pertemuan adalah ketika orang-orang yang hadir pulang dengan hati yang lebih ringan dari ketika mereka datang."

Ibu Ros, dari barisan ibu-ibu di sisi kiri, mendengar kalimat itu dan berbisik ke Ibu Yati: "Tadi Ustadz bilang apa?"

"Hati yang lebih ringan dari ketika datang," bisik Ibu Yati balik.

"Terlalu pas lagi."

"Ssst," kata Ibu Lin dari sebelahnya.

Doa pembukaan berlangsung khidmat. Setelah selesai, suasana langsung berganti menjadi hiruk pikuk yang hangat — nasi kuning diserbu, kue-kue dibagi, kelompok percakapan terbentuk sendiri.

Dan enam orang mulai bergerak di orbit masing-masing.

********

Ka'ai Bahar tiba lebih awal dari yang lain karena memang selalu begitu. Bersalaman dengan Pak Doni, menyampaikan doa selamat dalam kalimat yang rapi, kemudian bergabung dengan kelompok bapak-bapak. Malam ini topiknya adalah rencana pelebaran jalan di ujung kompleks — topik yang Ka'ai Bahar kuasai dan yang membuat beliau nyaman.

Nek Ani tiba beberapa menit kemudian, langsung disambut ibu-ibu pengajian yang sudah menunggunya. Tasbih berputar, suara ramah, bergerak di antara kelompok dengan cara orang yang sangat terbiasa.

Pak Rustam datang dengan kemeja batik. Rapi, seperti biasa — rapi yang ada maksudnya, seperti yang sudah diketahui satu orang tertentu. Mbok Nor membawa toples kue cincin yang langsung disambut hangat istri Pak Doni.

Reza dan Zahra masing-masing datang bersama keluarga mereka, dari pintu berbeda, selang delapan menit.

*********

Saling pandang pertama antara Reza dan Zahra dari jarak sepuluh meter — Reza di sisi meja minuman, Zahra baru masuk bersama Nek Ani. Dua detik. Keduanya mengalihkan pandangan ke arah berbeda secara bersamaan. Kalau ada juri untuk olahraga ini, skornya seri.

Saling pandang kedua di antrean nasi kuning. Kali ini tidak ada yang mengalihkan — hanya berdiri dengan jarak antrean yang terasa berbeda dari jarak yang seharusnya. Reza mengambil piring. Zahra mengambil sendok. Tangan mereka tidak menyentuh, tapi tangan Zahra berhenti satu detik lebih lama dari yang perlu di rak sendok.

Saling pandang ketiga terjadi di tikungan antara dua tenda, dan kali ini tidak direncanakan oleh siapapun.

Zahra berbalik dari satu arah. Reza datang dari arah berlawanan. Keduanya berhenti hampir bersamaan di jarak yang terlalu dekat untuk dua orang yang belum punya kejelasan apapun.

"Kanan," kata Zahra.

"Kanan," kata Reza pada detik yang sama.

Keduanya melangkah ke kanan. Berhenti lagi. Menatap satu sama lain selama satu detik, lalu keduanya tertawa kecil — bukan tawa geli, tapi tawa orang yang mendapati dirinya sendiri lucu.

"Kamu duluan," kata Reza.

Zahra melangkah ke kiri untuk memberi jalan. Bahu mereka hampir menyentuh — hampir, tapi tidak.

"Reza," kata Zahra, sudah setengah jalan.

Reza berbalik.

"Kemarin di pasar." Zahra tidak menoleh, berbicara ke depan, ke arah jalannya. "Aku dengar kalimat yang Mbok Nor bilang ke Bapak. Tentang orang yang bisa duduk dalam sunyi dan tidak membuat sunyinya jadi lebih berat."

Reza diam.

"Itu kalimat yang bagus." Zahra meneruskan jalannya. "Dari almarhum Bapaknya Mbok Nor, katanya."

Dia menghilang ke balik keramaian tenda.

Reza berdiri di tikungan itu beberapa detik, sendirian di tengah orang-orang yang bergerak dan bicara di sekelilingnya. Dia berbicara sangat pelan ke udara di depannya:

Lihat selengkapnya